
RUTENG, www.sinodegmit.or.id, – DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Manggarai bersama Posko Terpadu (Poster) GMIT Immanuel Ruteng menyalurkan bantuan tanggap darurat tahap II bagi warga terdampak gempa bumi di Desa Lenda, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Jumat (28/08/2026). Aksi kemanusiaan ini menyasar 43 kepala keluarga (KK) di Kampung Meni dan Kampung Cubu, termasuk 20 keluarga skala prioritas berdasarkan hasil pemetaan tim lapangan.
Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan dasar dan perlindungan sementara, seperti terpal, tikar, paket sembako, bahan kebutuhan harian, hingga perlengkapan bayi seperti popok. Bantuan terpal dan tikar difokuskan untuk mendukung tempat tinggal darurat, sementara kebutuhan bayi dan sembako disalurkan untuk menjaga ketahanan pangan serta kesehatan keluarga selama masa pemulihan pascagempa.
Penyaluran ini merupakan bentuk kolaborasi antara DPC GAMKI Manggarai dan Posko Terpadu GMIT Immanuel Ruteng, dengan dukungan penuh dari DPP GAMKI NTT, YASPERIN, serta Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) yang turut mendistribusikan 30 paket sembako. Kegiatan penanganan pascabencana ini juga melibatkan para relawan pemuda.
Sejumlah tokoh dan pengurus organisasi hadir langsung di lokasi penyerahan bantuan, di antaranya Ketua Majelis Jemaat GMIT Immanuel Ruteng Pdt. Meksi R. Dethan, Ketua DPC GAMKI Manggarai Jimmy Messak, Koordinator Daerah GAMKI Wilayah Manggarai Brevian Angi, Sekretaris II DPC GAMKI Manggarai Delsi Suryanti L. Gadjah, dan Bendahara I Sarce Hana Herwanto.
Ketua DPD GAMKI NTT, Winston Neil Rondo, menegaskan bahwa program GAMKI Peduli Flores dirancang untuk menjangkau wilayah terpencil yang kerap terkendala akses distribusi. Menurutnya, kehadiran fisik di lokasi bencana menjadi esensi utama dari solidaritas kemanusiaan.
“Dalam situasi bencana, ukuran solidaritas bukan hanya berapa besar bantuan yang kita bawa, tetapi apakah kita bersedia datang, mendengar kebutuhan warga, dan memastikan mereka yang jauh pun tidak dilupakan,” ujar Winston.
Ia menambahkan bahwa proses pemulihan masyarakat membutuhkan kerja sama lintas sektor agar penyaluran bantuan dapat berlangsung cepat dan tepat sasaran.
“Gempa boleh merusak rumah, tetapi jangan sampai meruntuhkan harapan. Dari Lenda kita belajar bahwa di tengah bencana selalu ada kekuatan yang membuat kita bertahan: tangan yang saling menolong, gereja dan pemuda yang memilih hadir, serta solidaritas yang membuat kita percaya bahwa Flores akan bangkit,” pungkasnya.
Penyaluran tahap II ini menjadi indikasi bahwa warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai masih membutuhkan dukungan logistik dasar untuk bertahan selama fase pemulihan. *











