
Kalabahi-Alor, www.sinodegmit.or.id, Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menahbiskan gedung ibadah Jemaat Betlehem Kalabahi, Klasis Teluk Kabola, pada Kamis (3/9/2026). Penahbisan ini menandai tuntasnya proses pembangunan gedung gereja baru yang telah berlangsung selama kurang lebih 14 tahun sejak pertama kali didirikan pada 28 Mei 2012.
Pembangunan gedung baru ini menjadi babak baru bagi Jemaat Betlehem Kalabahi, yang sebelumnya beribadah di gedung gereja lama sejak 6 November 1981. Hingga tahun 2026, jemaat ini tercatat mengalami perkembangan pesat dengan memiliki 10 rayon pelayanan yang melayani sekitar 560 Kepala Keluarga (KK) atau 2.310 jiwa di bawah kepemimpinan Pdt. Elihut Pandu dan Pdt. Salomi Pulinggomang.
Rangkaian acara diawali dengan persembahan tarian tradisional jemaat setempat, pembukaan selubung papan nama gereja, penyerahan kunci dari panitia pembangunan kepada pelayan setempat yang diterima oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, serta pelepasan burung merpati. Selain penahbisan, acara ini juga dirangkaikan dengan peluncuran buku sejarah gereja berjudul Dari Lepra menuju Betlehem.
Ibadah penahbisan dihadiri oleh Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie, Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT Dr. Zet Sony Libing, jajaran Pemerintah Kabupaten Alor, Anggota DPRD Kabupaten Alor, Majelis Klasis se-Tribuana, para pendeta GMIT, Rektor Universitas Tribuana Alor, pimpinan lintas agama, serta jemaat setempat.
Dalam khotbahnya yang diangkat dari kitab 2 Raja-Raja 2:1-5, Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie menyoroti makna perjalanan ziarah ke Betel dan Yerikho. Ia menekankan pentingnya gedung gereja sebagai tempat perjumpaan manusia dengan Allah serta ruang pemulihan.
“Gedung gereja yang dibangun harus menjadi rumah Tuhan dan menghindari rumah berhala yang membawa manusia terjebak dalam dosa dan ego. Gereja harus menjadi ruang kejujuran, tempat saling mengakui kelemahan, saling mengampuni, serta menjadi ruang pemulihan dan penyembuhan bagi umat,” ujar Pdt. Semuel B. Pandie.
Sementara itu, Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Y. Ena Blegur mengingatkan jemaat agar tidak melupakan sejarah panjang pembangunan gereja dan nilai teologis dari nama ‘Betlehem Lipa’. Ia menegaskan bahwa gereja harus hadir memberdayakan jemaat, membangun ekonomi, dan memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

Ketua Majelis Jemaat Betlehem Kalabahi, Pdt. Elihut Pandu, menyampaikan apresiasi dan terima kasih mendalam kepada seluruh pihak yang telah menopang proses pembangunan hingga rampung. Ia berharap momentum peresmian ini semakin mempererat persekutuan dalam pelayanan.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Provinsi NTT. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Dr. Zet Sony Libing, menyampaikan bahwa Jemaat Betlehem Lipa memegang peran penting dalam menjaga keberagaman budaya dan agama di Kabupaten Alor. Pemerintah berharap gereja terus membuka ruang kerja sama dan membangun sinergi yang harmonis demi menghadirkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.*











