
Foto: Pace F. Balukh
KUPANG BARAT, www.sinodegmit.or.id, — Jemaat GMIT Kalvari Boneana merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 sekaligus meresmikan Menara Gereja dan menutup rangkaian Bulan Kebangsaan GMIT, Minggu, 30 Agustus 2025. Perayaan tersebut berlangsung dalam suasana sukacita dan kebersamaan dengan mengangkat tema, “Merdeka dari Jerat Kecerobohan yang Membinasakan” berdasarkan Amsal 6:1-11.
Perayaan dihadiri Sekretaris Majelis Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi Karya Wenyi, M.Si.; Ketua Klasis Kupang Barat, Pdt. Doddy S. Octavianus, S.Th.; Wakil Gubernur NTT, Irjen. Pol. Purn. Dr. Drs. Johanis Asadoma, M.Hum., bersama istri; Anggota DPR RI, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si.; Anggota DPRD Kabupaten Kupang, Absalom Buy, S.Pd.; perwakilan Pemerintah Kabupaten Kupang; para pendeta Rayon 4 Klasis Kupang Barat; para presbiter, jemaat, donatur, serta undangan lainnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sapaan selamat datang, natoni oleh tua-tua jemaat, pengalungan selendang kepada para undangan, dan tarian pengantar. Peresmian Menara Gereja ditandai dengan pengguntingan pita.
Merdeka dari Kecerobohan dan Kemalasan
Ibadah syukur dipimpin Pdt. Lay Abdi Karya Wenyi. Dalam refleksinya berdasarkan Amsal 6:1-11, ia menegaskan bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dari sikap dan kebiasaan yang dapat membinasakan kehidupan.
Ia mengingatkan jemaat mengenai bahaya kecerobohan, keputusan terburu-buru, dan kemalasan. Dalam kehidupan sehari-hari, kecerobohan dapat muncul melalui penggunaan bahasa yang memprovokasi maupun keputusan finansial yang tidak dipertimbangkan secara matang, termasuk dalam memanfaatkan pinjaman online.
Belajar dari kehidupan semut yang tekun bekerja dan mempersiapkan kebutuhan masa depan, jemaat diajak membangun karakter disiplin, teliti, tekun, dan bertanggung jawab. “Jangan menganggap remeh keputusan-keputusan kecil,” menjadi pesan penting dalam refleksi tersebut.
Dalam konteks Bulan Kebangsaan GMIT, ia juga mengingatkan jemaat untuk menjaga Pancasila sebagai ideologi yang mempersatukan bangsa di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama.
Menara sebagai Simbol Kesaksian Iman
Ketua Klasis Kupang Barat, Pdt. Doddy S. Octavianus, dalam Suara Gembala mengajak jemaat memaknai menara gereja bukan sekadar sebagai bagian dari bangunan, tetapi sebagai simbol yang mengarahkan pandangan umat kepada Tuhan.
Menara juga mengingatkan jemaat pada fungsi lonceng gereja sebagai tanda dan panggilan untuk beribadah. Karena itu, keberadaan menara diharapkan tidak menjadi sumber kebanggaan berlebihan, melainkan tanda kesaksian iman dan panggilan gereja untuk terus menghadirkan kasih Tuhan di tengah masyarakat.
Mempersiapkan Generasi Penerus
Wakil Gubernur NTT, Johanis Asadoma, mengajak jemaat menghormati Tuhan Yesus Kristus sekaligus menghargai perjuangan para pendiri gereja yang telah meletakkan dasar pelayanan dalam berbagai keterbatasan.
Ia menekankan pentingnya mempersiapkan anak-anak, remaja, dan pemuda sebagai generasi penerus gereja dan bangsa melalui pendidikan dan pembinaan iman. Orang tua didorong membimbing anak-anak untuk rajin beribadah, mengikuti Sekolah Minggu, hidup dalam doa, serta menjauhkan diri dari berbagai pengaruh buruk.
Anggota DPR RI, Esthon L. Foenay, menyampaikan ucapan syukur atas perjalanan 46 tahun Jemaat GMIT Kalvari Boneana. Menurutnya, perjalanan tersebut merupakan kesaksian kasih setia Tuhan yang terus menyertai dan memelihara jemaat. Ia berharap momentum HUT menjadi kesempatan mempererat persekutuan dan meneguhkan panggilan jemaat untuk bertumbuh dalam iman serta berdampak bagi sesama.
Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan, Mesak Kollo, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan menara melalui doa, tenaga, waktu, perhatian, dan sumbangsih. Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas berbagai kekurangan selama proses pembangunan.
Perayaan kemudian ditutup dengan ramah tamah. HUT ke-46, peresmian menara gereja, dan penutupan Bulan Kebangsaan GMIT menjadi momentum untuk terus bertumbuh dalam iman, memperkuat persaudaraan, mempersiapkan generasi penerus, serta menghadirkan gereja yang berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan negara. * (Kontributor: Pdt. Pace F. Balukh)











