
AMANUBAN TENGAH UTARA, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menyelenggarakan kegiatan Evaluasi dan Penguatan Pelayanan Konseling Pastoral di Jemaat Betel Eno Matani, Klasis Amanuban Tengah Utara, pada Senin (31/8/2026). Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud pelaksanaan amanat pengasuhan gereja dalam mendampingi warga jemaat menghadapi berbagai dinamika kehidupan.
Sebanyak 43 peserta yang terdiri dari utusan pendeta dan vikaris dari klasis se-teritori Timor Tengah Selatan (TTS), Malaka, Timor Tengah Utara (TTU), dan Belu hadir untuk mengikuti seluruh rangkaian acara tersebut.
Ketua Unit Pelayanan (UPP) Pastoral Majelis Sinode GMIT, Pdt. Erlynardi Theoris Fullderita Riwu Rame Radja Dima, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Pastoral Psikospiritual Tahap I yang telah digelar di Hotel Grand Soe pada tahun 2025 lalu.
“Kegiatan ini mengevaluasi rencana tindak lanjut yang telah disusun serta melihat penerapannya dalam konteks pelayanan jemaat. Selanjutnya, pelatihan diarahkan pada penguatan pengetahuan, keterampilan, pendekatan, dan teknik pendampingan pastoral agar para pendeta semakin mampu menghadirkan pelayanan yang peka, kontekstual, holistik, dan transformatif,” ujar Pdt. Erlynardi.

Pelaksanaan pelatihan lanjut ini mendapat respons positif dari para peserta. Salah satu peserta, Pdt. Deby Siokain dari Klasis Mollo Barat, mengungkapkan bahwa kegiatan ini mengembalikan esensi dasar dalam pelayanan, yaitu pentingnya kehadiran yang utuh bagi sesama serta pentingnya merawat diri sendiri sebagai pelayan jemaat.
“Bagi saya, kegiatan ini bukan sekadar menambah pengetahuan dan keterampilan, tetapi membawa saya kembali kepada sesuatu yang sangat mendasar: sebelum menjadi orang yang memberi jawaban, kita perlu belajar menjadi manusia yang sungguh hadir. Pelatihan ini juga mengingatkan bahwa manusia yang kita layani memiliki dimensi fisik, sosial, psikologis, dan spiritual,” tutur Pdt. Deby.
Hal senada disampaikan oleh Pdt. Mega Chr. Neolaka, S.Th., dari UPP Pastoral Klasis Amanuban Tengah Utara. Ia menilai kegiatan ini menjadi ruang evaluasi diri atas penerapan ilmu pastoral yang telah diperoleh sebelumnya. Melalui simulasi dan pengenalan berbagai model pendekatan pastoral yang sederhana namun berdampak kuat, para peserta dibekali keterampilan praktis untuk pendampingan jemaat di lapangan.

Sementara itu, Pdt. Rika K. Hanadii dari Klasis Mollo Timur menekankan pentingnya peran konselor sebagai jembatan yang menjaga kerahasiaan dan kepercayaan warga jemaat.
“Hal yang paling penting dari seluruh proses ini adalah kesadaran bahwa seorang konselor tidak harus memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Konselor bukanlah pemegang kendali, melainkan jembatan yang membantu konseli menemukan kembali kekuatan dan jalan keluarnya sendiri. Yang paling utama adalah bagaimana kita tetap hadir sebagai pribadi yang dapat dipercaya,” tegas Pdt. Rika.
Melalui penguatan ini, Majelis Sinode GMIT berharap para pelayan pastoral di wilayah teritori TTS, Malaka, TTU, dan Belu dapat mengimplementasikan hasil evaluasi dan keterampilan konseling secara optimal demi pelayanan jemaat yang lebih utuh dan berdampak. *











