
Amanatun, TTS, www.sinodegmit.or.id, Perjalanan menuju Desa Lilo, Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, bukanlah perjalanan yang ringan. Dari Kota SoE, rombongan harus menempuh sekitar 78 kilometer melintasi jalan berbatu, tanjakan curam, tikungan tajam, dan jalur tanah yang berubah menjadi lumpur ketika hujan turun. Di beberapa titik, bekas longsor dan badan jalan yang ambles menjadi pengingat bahwa akses menuju wilayah ini selalu menuntut kesabaran dan keberanian.
Namun, pada Kamis, 23 Juli 2026, medan yang berat itu tidak menyurutkan langkah Majelis Sinode GMIT bersama rombongan untuk hadir, menyaksikan dan mendengar langsung kondisi sekolah-sekolah GMIT di pedalaman, —tempat puluhan anak menggantungkan harapan masa depan.
Di Desa Lilo berdiri dua sekolah yang telah lama melayani masyarakat: SD GMIT Putain 1 dan SD GMIT Putain 2. Bangunan sederhana itu menyimpan kisah tentang keterbatasan, ketekunan para guru, serta mimpi anak-anak yang terus tumbuh di tengah segala kekurangan.

Di salah satu ruang kelas SD GMIT Putain 2, tembok bagian belakang telah roboh akibat pergeseran tanah. Gedung lain dipenuhi retakan yang mengkhawatirkan. Karena ruang belajar tidak lagi mencukupi, beberapa kelas terpaksa digabung dan digunakan secara bergantian.
Meski demikian, proses belajar tidak berhenti.
“Kami tetap berusaha memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik,” ujar Kepala SD GMIT Putain 2, Benyamin Bien, ketika memaparkan kondisi sekolah di hadapan rombongan visitasi.
Ia menjelaskan bahwa sekolah memiliki 94 siswa yang dilayani oleh 12 guru. Dari jumlah tersebut, hanya dua guru berstatus ASN, sementara sepuluh lainnya merupakan guru honorer. Lima di antaranya bahkan masih berijazah SMA atau SMK dan belum memiliki kualifikasi sarjana.
Keterbatasan itu tidak membuat sekolah kehilangan semangat. Justru dari sekolah sederhana inilah lahir sebuah prestasi yang membanggakan.
Mersi Yusmina Kabu, siswi kelas VI SD GMIT Putain 2, berhasil meraih Juara I Olimpiade Nasional PRESMAS Season 8 Tahun 2025 pada bidang Matematika Dasar untuk jenjang SD kelas IV–VI. Prestasi tersebut lahir dari kerja keras para guru, dukungan keluarga, dan pendampingan Rumah Literasi Thomas Edison, yang selama ini menjadi ruang belajar tambahan bagi anak-anak di wilayah tersebut.
Prestasi itu menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh megahnya gedung sekolah, tetapi oleh dedikasi orang-orang yang tetap bekerja dalam keterbatasan.
Namun, keterbatasan itu tidak boleh dibiarkan menjadi keadaan yang permanen.
Dalam dialog bersama Majelis Sinode GMIT, Pendeta Jemaat Alfa Omega Muni, Pdt. Esu Naisanu, menyampaikan kegelisahan yang selama ini dirasakan gereja sebagai bagian dari wilayah pelayanan yang menaungi SD GMIT Putain 2.
Menurutnya, komunikasi antara sekolah, yayasan, bidang pendidikan, dan gereja masih belum berjalan secara berkelanjutan.
Ia mempertanyakan apakah GMIT telah memiliki sistem monitoring dan evaluasi yang memungkinkan sekolah-sekolah mendapatkan pendampingan secara rutin, bukan hanya ketika ada kegiatan tertentu.
“Kurang lebih sudah hampir sepuluh tahun saya melayani di sini. Kita bertemu biasanya hanya pada saat ada kegiatan seperti ini atau program tertentu. Setelah itu kembali lagi seperti ada jarak yang jauh antara sekolah dengan yayasan maupun bidang pendidikan,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi sekolah, mulai dari keterbatasan kualitas tenaga pendidik hingga proses belajar mengajar yang menurutnya memerlukan perhatian serius.
Pertanyaan itu dijawab langsung oleh Ketua Badan Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Norman M. Nenohai, yang menegaskan bahwa pembenahan pendidikan GMIT sedang dilakukan secara menyeluruh.
Pdt. Norman menegaskan bahwa gereja tidak boleh hanya hadir ketika terjadi peresmian atau kegiatan seremonial. Ia meminta para pendeta di setiap jemaat menjadikan sekolah-sekolah GMIT sebagai bagian dari rayon pelayanan gereja.
Pendeta diharapkan memiliki jadwal kunjungan tetap untuk berdoa bersama warga sekolah, berdiskusi dengan para guru, mendengarkan persoalan yang mereka hadapi, dan bersama-sama mencari jalan keluarnya.
Baginya, sekolah bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan ruang pelayanan gereja yang membentuk generasi masa depan.
Salah satu langkah strategis yang tengah dipersiapkan adalah pembentukan sistem sentralisasi gaji guru GMIT.
Menurut Pdt. Norman, tim penyusun sistem tersebut dipimpin oleh Rektor Universitas Nusa Cendana, Prof. Jefri Bale. Tim sedang merancang instrumen, regulasi, dan mekanisme yang nantinya akan disosialisasikan ke seluruh klasis sebelum dibawa ke Sidang Sinode GMIT tahun 2027.
Melalui sistem itu, guru-guru honorer, termasuk mereka yang belum masuk dalam Dapodik maupun belum memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK), akan mulai memperoleh dukungan pembiayaan dari gereja.
“Guru yang akan direkrut nanti tidak lagi langsung diterima oleh sekolah. Mereka akan mendaftar di Sinode GMIT. Dari sana kami tempatkan sesuai kebutuhan sekolah sehingga distribusi guru menjadi lebih merata,” jelasnya.
Selain itu, Sinode GMIT juga akan memberikan beasiswa penuh bagi guru-guru yang masih berijazah SMA agar dapat melanjutkan pendidikan ke Institut Pendidikan SoE tanpa harus meninggalkan tugas mengajar.
Majelis Sinode GMIT juga memastikan akan mengintervensi perbaikan sarana pendidikan di SD GMIT Putain 1 maupun SD GMIT Putain 2, meliputi rehabilitasi ruang kelas, toilet, penyediaan laptop, printer, dan fasilitas belajar lainnya.
Bahkan, Sinode GMIT telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan agar kedua sekolah memperoleh dukungan pembiayaan rehabilitasi melalui dana pemerintah untuk memperbaiki bangunan yang rusak akibat pergeseran tanah.

Dalam dialog yang sama, persoalan administrasi kependudukan siswa juga mendapat perhatian. Masih terdapat anak-anak yang belum memiliki Nomor Induk Kependudukan sehingga belum tercatat dalam Dapodik dan berpotensi kehilangan akses terhadap dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Pdt. Norman meminta kepala sekolah, pendeta, pemerintah desa, dan para pemuda bekerja sama membantu keluarga-keluarga tersebut agar seluruh anak memperoleh dokumen kependudukan yang dibutuhkan.
“Kalau mereka sudah memiliki NIK, negara akan menjamin hak mereka untuk memperoleh dana BOS,” ujarnya.
Di tengah bangunan yang retak, ruang kelas yang sempit, dan jalan panjang menuju pedalaman Amanatun Utara, para guru tetap mengajar. Anak-anak tetap datang membawa buku-buku mereka. Gereja pun memilih untuk tidak sekadar melihat dari kejauhan, tetapi hadir mendengarkan, merancang solusi, dan berjalan bersama. Tindakan ini untuk memastikan bahwa setiap anak di pelosok memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bermimpi, dan meraih masa depan.*











