//Advokasi Sampah Jemaat Kelapa Lima Kupang dalam Perayaan Bulan Lingkungan Hidup

Advokasi Sampah Jemaat Kelapa Lima Kupang dalam Perayaan Bulan Lingkungan Hidup

Foto: Budhi Lily

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Jemaat Galed Kelapa Lima, adalah salah satu jemaat di Klasis Kota Kupang, yang turut terlibat dalam advokasi sampah yang dilakukan oleh Majelis Sinode GMIT, melalui Badan Pengurangan Risiko Bencana (BPRB). Sebagai tindaklanjut dari advokasi tersebut, Tim pelayanan Hari Raya GMIT (Timpel HRG) Bulan Lingkungan Hidup dan Natal dan Tahun Baru Jemaat Galed Kelapa Lima mengadakan rangkaian kegiatan pengelolaan sampah yang dimulai tanggal 26 November 2025. Kegiatan-kegiatan itu antara lain: Seminar Manajemen Sampah, Pawai sampah (Pilih Pilah Sampah), Pembagian anakan, serta Lomba Pembuatan Pohon Natal ramah lingkungan dengan menggunakan tanaman hidup dan sampah daur ulang.

Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran jemaat mengenai pentingnya manajemen sampah yang berkelanjutan, memberikan pemahaman praktis tentang cara mengolah sampah yang tepat agar bermanfaat secara ekologis maupun ekonomi, serta mendorong jemaat berperan aktif menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Ketua Majelis Jemaat Galed Kelapa Lima, Pdt. Veranike Mudak-Palla, S.Th dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Timpel HRG yang telah menyelenggarakan kegiatan ini di bulan lingkungan hidup GMIT. Beliau juga mendorong seluruh warga jemaat Galed untuk terlibat dalam kegiatan tersebut sebagai wujud ibadah karya.

Dalam kesempatan yang sama Pdt. Vera menyampaikan terima kasih kepada Sinode GMIT melalui BPRB yang telah mendampingi jemaat Galed Kelapa Lima dalam advokasi sampah beberapa waktu lalu, hingga melahirkan tindaklanjut kegiatan seperti ini.

Foto: Budhi Lily

Ketua BPRB Sinode GMIT, Pdt. Adi Amtaran dalam materinya pada seminar Manajemen Sampah di Galed Kelapa Lima menyampaikan bahwa: Setiap orang dari bangun pagi sampai tidur malam memproduksi sampah. Persoalannya tidak semua orang yang memproduksi sampah, bersedia mengurus sampahnya sendiri dengan baik. Sampah yang kita produksi setiap hari, tidak dipilah, ini yang membuat sampah berbauh busuk dan mencemari lingkungan. Para pemulung dan petugas kebersihan adalah kelompok rentan yang berisiko terhadap berbagai penyakit bahkan berujung kematian, karena bersentuhan langsung dengan sampah-sampah busuk ini setiap hari.

Di kesempatan yang sama Ibu Lenni Mooy (Dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang) sebagai salah satu narasumber dalam seminar itu menyampaikan bahwa: Sampah rumah tangga seperti air cuci beras, ampas kelapa, sisa potongan sayur, kulit buah, air cuci daging, ampas teh, air AC, kulit kupasan bawang, cangkang telur, dan lain sebagainya adalah limbah rumah tangga yang hampir setiap hari kita hasilkan dan terbuang percuma, padahal limbah rumah tangga seperti itu masih bisah diolah sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik cair. Diharapkan melalui kegiatan ini edukasi tentang manajemen sampah dapat dipraktekan mulai dari dalam rumah tangga jemaat.

Pnt. Jhoni Saudale sebagai salah satu peserta sangat mengapresiasi kegiatan seminar ini karena masalah sampah merupakan masalah seirus, apalagi beliau punya kebiasaan menyimpan plastik permen di saku celana jika tidak ditemukan tempat sampah.

Pnt. Jhoni berharap agar kegiatan ini bisa dilanjutkan dengan praktek cara mengolah sampah organik menjadi pupuk yang mungkin bisa dimulai dulu dari kelompok lansia jemaat Galed kelapa lima.

Dengan kesadaran dan praktik manajemen sampah yang baik, diharapkan masalah sampah dapat diatasi secara serius untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua ciptaan. *** (Budhi Liliy)