
Hari ini tema kita adalah Dewasa dalam Kristus: Berhenti terpecah, mulai bertumbuh. Untuk merenungkan tema ini ada lima pertanyaan sebagai kompas bagi kita. Pertama, apa makna dari kedewasaan rohani dalam Kristus? Kedua, apa yang menghambat kita menjadi dewasa dalam Kristus? Ketiga, apa tanda dari kedewasaan rohani seseorang? Keempat, bagaimana cara kita menghindari perpecahan karena perbedaan preferensi dalam gereja? Kelima, apa peran kita sebagai kawan sekerja Allah dalam pertumbuhan rohani diri sendiri dan sesama khususnya bagi kita yang bekerja di rumah bersama ini?
Sebagai orang percaya terkadang kita berpikir bahwa dalam beriman yang penting bagi kita adalah ikut ibadah, terlibat dalam kegiatan rutin gereja atau menjadi terampil dalam berdebat tentang iman dan keyakinan kita. Misalnya sekarang ada banyak orang menyebut diri sebagai apologet yang suka berdebat tentang keyakinan mana yang lebih benar. Orang-orang seperti ini termasuk dalam kategori NPD spiritualitas (Narcisstic Personality Disorder). Berdebat untuk mempertahankan iman memang penting tetapi itu bukanlah tujuan dari pada beriman kepada Kristus. Sebab dalam beriman kita dipanggil untuk dewasa di dalam Kristus. Istilah dewasa dalam teologi kristen tidak merujuk pada perubahan bentuk fisik tetapi sebuah transformasi dalam jiwa dan memberi dampak pada transformasi karakiter dan sikap hidup setiap hari. Hal ini Bukanlah sesuatu yang statis tetapi konstan selalu ada dalam proses dan progres. Oleh karena itu Richard J. Foster (Seorang teolog transformasi spritual) mendefenisikan kedewasaan sebagai sebuah proses interior atau proses dari kedalaman batin yang akhirnya nampak sebagai karakter hidup kita. Proses itu mengubahkan (mengubah mindset, kebiasaan, gaya hidup dan berelasi) dan membentuk (artinya lahir dari sebuah disiplin atau rutinitas baru dalam membentuk karakter kita-Ia tidak jatuh dari langit) sehingga kita menjadi dewasa. Menurutnya kedewasaan itu hanya dapat tercapai kalau kita fokus pada apa yang menjadi inti dari iman kita. Sebab terkadang dalam beriman kita tergoda dengan hal-hal yang sepele dan tidak penting, karena itu bukannya mendewasakan tetapi justru memecah dan menghancurkan eksistensi komunitas atau relasi kita.
Persoalan ini juga dialami oleh jemaat di Korintus. Korintus bukanlah sebuah kota yang asing bagi Paulus, tetapi sebuah kota pelabuhan yang kemudian menjadi metropolis, Karena banyak orang datang menetap di situ dengan berbagai kepentingan. Mereka pun kemudian menjadi percaya kepada Kristus oleh pemberitaan Paulus dan misionaris lainnya. Bagian suratnya yang pertama Paulus menekankan pentingnya kesatuan dan mendorong agar setiap orang percaya berpikir seperti orang Kristen sesungguhnya sebagai tanda adanya progres dalam beriman mereka. Paulus memberikan observasinya bahwa dibandingkan dengan kehidupan dahulu dan sekarang tampak tidak ada perubahan dan progres. Sebab sikap dan pemahaman mereka masih seperti kanak-kanak (bayi rohani). Paulus berkata “Kamu belum dewasa dalam Kristus”. Sebab mereka belum ada kesatuan, masih dalam polarisasi yang diakibatkan oleh iri hati dan perselisihan. Hal ini terjadi akibat jemaat terjebak dalam kelompok Paulus dan Apolos. Tentu kalau sudah terlibat dalam kelompok pasti akan ada saling iri. Iri itu terjadi karena ada yang merasa kurang dengan orang lain, begitu juga sebaliknya orang lain sering menganggap diri lebih baik dari sesamanya. Perselisihan itu juga terjadi karena tidak ada yang mau mengalah, selalu menganggap dirinya lebih hebat dari yang lain, sehingga sangat sulit untuk bekerjasama dengan orang lain serta mengakui kelebihan orang lain. Namun Paulus mengingatkan mereka sebagai seorang bapa rohani bahwa seluruh pelayanan-siapapun yang menanam, siapapun yang menyiram, hanyalah alat ditangan Allah. Satu-satunya yang memberi pertumbuhan ialah Allah sendiri. Tidak ada gunanya menjadi bagian dalam kelompok A atau B. Sebab yang terpenting adalah Kristus. Setiap orang beriman harus fokus kepada pertumbuhannya di dalam Kristus. Bukan pada manusia. Paulus mengunakan analogi pertanian yakni yang satu menanam dan lain menyiram, tetapi yang menumbuhkan adalah Allah. Kita menanam tetapi kalau tidak bertumbuh tidak ada gunanya. Kita menyiram tetapi tidak bertumbuh juga tdk ada guna. Baik menanam dan menyiram tentu penting tetapi lebih penting dari dua hal itu adalah pertumbuhan. Mengapa demikian? Sebab pertumbuhan adalah tanda kehidupan dan sumber kehidupan adalah Kristus. Di dalam Kristus ada kehidupan. Pertumbuhan juga menandakan bahwa ada transformasi dan progres. Transformasi artinya ada perubahan signifikan dan progres artinya ada hasil-hasil konkrit yang dinampakkan, ada kemajuan dari cara berpikir, bertindak dan berelasi kita (ada perubahan komprehensive dari keyakinan dan perbuatan); Sehingga kita tidak lagi hidup seperti dunia tetapi kita hidup seperti anak-anak rohani yang menampakkan Kristus dan kasihNya dalam diri kita.
Pada hari ini untuk menjadi dewasa didalam Kristus, kita diajak untuk berhenti terpecah, dan mulai bertumbuh. Berhenti terpecah dari apa? Apa yang membuat kita terpecah adalah penting untuk kita deskripsikan saat ini. Sadar atau tidak, seringkali gereja juga terjebak dalam polarisasi antara kelompok A atau kelompok B. hal ini kita dapat lihat pada masa pemilihan majelis jemaat di setiap lingkup pelayanan. Orang lebih suka mengidolakan sosok tertentu lalu melupakan Kristus dalam kehidupan imannya. Sehingga seringkali kebenaran Allah tidak dapat disampaikan secara baik dan benar. Terpecah itu tidak sekedar retak, yang retak masih utuh, tetapi terpecah itu sudah terpisah, tetapi tentu bukan mustahil untuk disatukan atau diperbaiki. Terpecah itu pada pengertian komunitas kita terlihat tidak utuh, kehilangan keutuhan, koherensi, sinergi, daya bersama dst. Untuk memperbaikinya kita diajak untuk mulai bertumbuh. Menarik disini tidak mengunakan imbuhan “lah/mulailah sebagai anjuran atau perintah” tetapi kata benda “mulai bertumbuh’. Artinya untuk menjadi dewasa kita tidak perlu mulai dari hal besar, tetapi dengan langkah-langkah kecil, yaitu fokus pada Kristus. Sepanjang kita fokus pada Kristus maka kita menjadi satu didalam dan oleh Kristus dan kita terus diubahkan untuk menjadi dewasa. Sebagai gereja kita mesti berpusat pada dan dari Kristus. Dengan demikian kita terhindar dari preferensi pada selera, ideologi, kelompok, favoritisme, dll.
Kita juga tidak perlu tempatkan diri sebagai pusat, bagi Paulus setiap orang mengikut Yesus ia harus mati dan bangkit di dalam Kristus. Sebab dalam kematian dan kebangkitan Kristus kita akan dibentuk untuk menjadi dewasa. Orang percaya harus mengalami proses pertumbuhan dan juga progres dalam dirinya yang berbeda dari masa lalu. Progres itu tidak dihitung dari banyaknya kegiatan tetapi dari hasil dan dampak. Bukan dari kumpul-kumpul tetapi dari cinta kasih dan kerelaan untuk ada bagi sesama. Semuanya itu akan terjadi kalau kita “mulai” untuk fokus pada pertumbuhan ketimbang jumlah dan label, fokus pada hasil show atau penampilan. Oleh karena yang selalu tampil belum tentu yang terbaikĀ sebab yang tidak terlihat sedang bekerja dalam diam. Para teolog berkata kecenderungan orang percaya untuk beriman tetapi tidak mau dibentuk dan disiplin, sehingga jarang sekali kita melihat kedewasaan dalam gereja. Kata “mulai” kendati asumsikan langkah kecil tetapi mengajak kita untuk berpaling dari kesenangan kelompok dan diri kita dan mengarahkan diri pada Kristus. Sepanjang kita terus terarah dan fokus pada Kristus, kita akan menjadi pribadi yang dewasa. Karena itu mari periksa hati kita.
Adakah iri hati atau persaingan tersembunyi dalam relasi kerja sebagai sesama kawan sekerja Allah dalam jemaat/rumah bersama? Teruslah melakukan pekerjaanmu dengan setia, apakah kamu sedang menanam atau menyiram (merawat yang sudah ada), lakukanlah dengan sepenuh hati-tanpa menuntut pengakuan. Serahkanlah hasilnya kepada Allah. Jangan mengukur keberhasilanmu dari angka atau pujian manusia. Sebab pertumbuhan sejati ada di tangan Allah-percayakan kepada Allah. Karena itu Marilah kita saling mendukung dan bekerja sama bukan saling menyaingi sebagai kawan sekerja Allah. Selalu berpikir positif terhadap sesama kawan sekerja Allah, selalu melihat sesama dari sudut pandang Allah dan memperlakukan sesama sebagai orang yang layak dihargai. Jauhkanlah perasaan iri hati, merasa diri lebih baik dari orang lain dan suka melakukan perdebatan yang dapat menjurus kepada perselisihan. Mari rayakan keberhasilan sesama pelayan Tuhan dengan sukacita. Hindarilah sikap polarisasi yang dapat memecah persekutuan jemaat. Dengan demikian ladang dan bangunan Allah pun bertumbuh dengan baik bagi kemuliaan nama Tuhan. Amin.











