//Yapenkris Sonaf Honis Gelar Workshop Peningkatan Kapasitas Guru Berbasis IT dan Pembelajaran Digital di Kupang

Yapenkris Sonaf Honis Gelar Workshop Peningkatan Kapasitas Guru Berbasis IT dan Pembelajaran Digital di Kupang

Foto: Daniel Hapu

KUPANG, www.sinodegmit.or.id – Yayasan Pendidikan Kristen (Yapenkris) Sonaf Honis Kabupaten Kupang menggelar workshop Peningkatan Kapasitas Guru Berbasis IT dan Digital Deep Learning. Kegiatan yang dipusatkan di SD GMIT Babau, Kecamatan Kupang Timur ini dilaksanakan pada Senin hingga Rabu (8-10 Juni 2026).

Selain berfokus pada penguasaan teknologi, kegiatan ini bertujuan untuk menyusun modul ajar yang terintegrasi dengan nilai-nilai Alkitabiah, serta menciptakan pengalaman belajar yang menarik bagi para kepala sekolah dan guru kelas 2 serta kelas 5 SD GMIT di bawah naungan Yapenkris Sonaf Honis.

Acara tersebut dihadiri oleh Sekretaris Majelis Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi; Ketua Badan Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Norman M. Nenohai; serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kupang, Marthen A. Rahakbauw, S.Pi., M.Si. Turut hadir pula pengurus, pembina, dan pengawas Yapenkris Sonaf Honis, dua orang perwakilan dari Yayasan Transformasi Bagimu Negeri, serta 13 orang Tim Alumni LPDP Utusan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Dalam suara gembalanya, Sekretaris Majelis Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, menekankan bahwa adaptasi terhadap teknologi, terutama pasca-pandemi COVID-19 dan maraknya pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat ditunda oleh dunia pendidikan formal.

Pdt. Lay Abdi menyatakan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah karakteristik, gaya belajar, serta cita-cita generasi masa kini secara signifikan jika dibandingkan dengan generasi terdahulu. Oleh karena itu, pelatihan ini menjadi wadah krusial untuk menjawab tantangan tersebut.

Lebih lanjut, ia mengapresiasi pelaksanaan workshop ini karena dinilai mampu mengintegrasikan tiga elemen fundamental, yakni iman, ilmu pengetahuan, dan inovasi. Meski demikian, ia mengingatkan agar pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan tetap disertai dengan pemahaman etika yang ketat demi membentengi moral peserta didik di tengah krisis karakter global.

“…sebenarnya workshop ini… mempertemukan tiga hal: iman, ilmu, dan inovasi… Tapi juga saya mengingatkan kita bahwa tantangan di dunia pendidikan hari ini tidak sedikit… kita menghadapi krisis karakter. Pendidikan karakter menjadi penting sekali…” tambah Pdt. Lay Abdi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Pembina Yapenkris Sonaf Honis, Pdt. Elmodan Herison Naimasus, menyampaikan harapan besar terhadap dampak jangka panjang dari pelatihan ini bagi eksistensi sekolah-sekolah di bawah naungan GMIT. Ia berharap para peserta dapat menjadi motor penggerak mutu pendidikan yang adaptif.

“Harapan saya merekalah orang-orang yang akan diharapkan bagi pengembangan sekolah GMIT ke depan. Dengan workshop ini mereka tidak kalah bersaing dengan sekolah lain di luar GMIT. Mereka juga dapat menggunakan metode belajar mengajar berbasis IT, dan mereka tidak kalah zaman, terus beradaptasi dengan perkembangan zaman saat ini,” kata Pdt. Heri.* Kontributor: NN