
Sahabat-sahabat terkasih di lingkup Sinode GMIT, kita sedang berdiri di sebuah “lorong” tahun 2026 yang unik: lorongnya ramai, hangat, dan penuh hari-hari sukacita lintas iman. Di kalender Negara, rangkaian ini bukan hanya terasa di rumah ibadah, dapur keluarga, dan jalanan, tetapi juga terasa di ritme kantor: libur nasional, cuti bersama, bahkan penyesuaian cara kerja.
Yang menarik: negara menata hari libur dan cuti bersama dengan bahasa yang sangat “dunia kerja”: efisiensi–efektivitas hari kerja, pedoman operasional bagi instansi pemerintah dan swasta. Jadi, sejak awal, kalender ini adalah undangan untuk menata ulang tenaga, fokus, dan cara kita hadir dalam layanan.
Di sekitar kita, Tahun Baru Imlek (17 Februari), Nyepi/Tahun Baru Saka (19 Maret), dan Idulfitri (21–22 Maret) hadir berdekatan, lalu disusul Jumat Agung (3 April) dan Paskah (5 April). Ada “musim perayaan” yang seolah berkata: manusia butuh jeda untuk memulai lagi.

Narasi 2026 sebagai sekolah harapan lintas iman
Kita mulai dari kesadaran sederhana: di tahun 2026, ruang publik kita “dihiasi” oleh sukacita banyak komunitas iman dan itu diakui secara resmi melalui libur nasional dan cuti bersama. Dalam SKB, pemerintah menetapkan 17 hari libur nasional dan 8 hari cuti bersama.
Di satu sisi, ini memudahkan: keluarga bisa berkumpul, warga bisa beribadah dengan lebih tenang, dan energi sosial terkumpul.
Di sisi lain, ini juga menantang: ritme kerja bisa “terbelah,” pekerjaan menumpuk, layanan publik harus tetap menyala, dan organisasi perlu menata penugasan agar pelayanan tidak terhenti. SKB bahkan secara eksplisit mengingatkan unit-unit layanan langsung kepada masyarakat untuk mengatur penugasan pegawai pada masa libur/cuti bersama.
Cara kita menanggapi musim perayaan ini akan menentukan: apakah libur hanya menjadi “pause” yang membuat kita kembali dengan napas ngos-ngosan, atau libur menjadi “reset” yang membuat kualitas kerja dan layanan kita justru naik level.
Tiga perayaan sebagai tiga pesan tentang hidup yang dibaharui
Tahun 2026 mengantar kita pada tiga pesan kuat, yang masing-masing datang lewat perayaan saudara-saudara kita.
Pertama, Imlek mengajarkan keberanian memulai lagi dan menata harapan dengan sangat membumi: keluarga, rezeki, dan masa depan. Secara budaya, Imlek menandai awal tahun baru
pada kalender lunisolar Tiongkok dan dirayakan dengan kumpul keluarga, kunjungan, dan ungkapan doa-doa baik.
Di situ kita mendengar salam yang sangat populer: “Gong Xi Fa Cai”. Secara makna, ini adalah doa/ucapan selamat yang berkaitan dengan kemakmuran “semoga tahun baru membawa keberuntungan dan kelimpahan.” Buat kita yang bekerja dan melayani: ini mengingatkan bahwa “kemakmuran” tidak harus dibaca sempit sebagai data angka, tetapi juga sebagai kelimpahan relasi yang sehat, kepercayaan yang bertumbuh, dan tata kerja yang memuliakan martabat manusia.
Kedua, Nyepi dan Tahun Baru Saka mengajarkan hal yang dunia modern paling sering lupa: hening itu produktif, bukan produktif karena banyak output, tetapi produktif karena membenahi batin. Dalam tradisi Nyepi, ada Catur Brata Penyepian yang menekankan larangan bekerja/aktivitas, menyalakan api/cahaya, bepergian, dan bersenang-senang dengan tujuan refleksi dan pengendalian diri. Kalau dunia kerja sering memuja “gas terus,” Nyepi seperti menaruh cermin di depan kita dan berkata: “Berani tidak kamu berhenti sebentar supaya tahu arah?” Dan menariknya, di tahun ini Nyepi jatuh pada 19 Maret dengan cuti bersama pada 18 Maret.
Ketiga, Idulfitri adalah “festival pembebasan” setelah disiplin panjang. Secara makna, Idulfitri menandai berakhirnya Ramadan bulan puasa dan dikenal sebagai “Festival of Breaking the Fast.” Di Indonesia, Idulfitri juga hidup sebagai momen kembali merajut relasi: silaturahmi, saling memaafkan, dan kepedulian sosial melalui zakat fitrah. Dalam SKB, Idulfitri ditetapkan 21– 22 Maret, dengan cuti bersama pada 20, 23, dan 24 Maret. Pesannya untuk kita: disiplin rohani itu bukan kontradiksi dari sukacita; disiplin justru melahirkan sukacita yang matang, yang tidak gampang meledak, tapi juga tidak gampang padam.
Tiga perayaan ini, kalau kita baca dengan kacamata kemanusiaan, bicara tentang tiga bentuk “pembaruan”: harapan yang ditata (Imlek), batin yang dibersihkan (Nyepi), dan relasi yang dipulihkan (Idulfitri). Dan itu semua, jujur saja adalah bahan baku kualitas kerja dan pelayanan yang lebih kuat.
Ketika libur bersama bertemu dengan dunia kerja
Tahun ini, bukan hanya “libur,” tapi juga ada adaptasi kerja. Dalam pemberitaan tentang kebijakan resmi menjelang rangkaian Nyepi-Idulfitri, pemerintah mengatur skema work from anywhere (WFA) pada hari tertentu untuk ASN dan juga pekerja swasta, sebagai bentuk penyesuaian terhadap libur panjang.
Kita tidak sedang membahas teknis kebijakan itu (tiap kantor punya aturannya), tetapi kita menangkap logikanya: di masa tertentu, organisasi perlu kreatif supaya kerja tetap berjalan tanpa memeras manusia menjadi mesin. Di sinilah “semangat baru” menemukan rumahnya.
Literatur organisasi menunjukkan bahwa ritus dan kebiasaan kolektif bahkan yang terlihat sederhana dapat memperkuat ikatan sosial, membangun makna, dan memperbaiki cara kita bekerja bersama. Misalnya, riset tentang “work group rituals” menunjukkan bahwa ritual kelompok dapat meningkatkan kebermaknaan kerja, dan kebermaknaan itu kemudian berkaitan dengan hasil-hasil kerja yang lebih baik.
Di ranah antropologi dan psikologi sosial, ritual (terutama yang dilakukan bersama) lama dipahami sebagai pengikat komunitas: ia membangun rasa “kita.” Jadi, ketika libur bersama hadir,
pertanyaannya bukan “berapa hari kita off,” tetapi “kita mau balik dengan budaya kerja seperti apa?” Libur bersama bisa kita jadikan ritual sosial yang membangun kohesi: saling mendoakan, saling menghargai, kembali dengan hati yang lebih lapang, bukan kembali dengan mode “kejar tayang” yang bikin kita cepat sinis.
Angin pamer kekuasaan dan disiplin efisiensi energi
Namun, di tengah suasana perayaan, dunia tidak sedang baik-baik saja. Konflik geopolitik besar yang sekarang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dalam perang melawan Iran, telah memukul rantai pasok energi global. Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz yang secara normal dilalui porsi besar minyak dunia; gangguan di jalur ini membuat pasar energi gonjang-ganjing, harga naik, dan negara-negara mengambil langkah darurat.
International Energy Agency bahkan menyebut situasi ini sebagai krisis energi besar, dengan gangguan pasokan yang sangat signifikan, sehingga respons tidak cukup hanya dari sisi pasokan perlu juga langkah “demand-side” (pengurangan permintaan) oleh pemerintah, bisnis, dan rumah tangga. Dalam rilisnya, IEA mengusulkan langkah cepat seperti kerja dari rumah bila memungkinkan, penghematan di transportasi, efisiensi operasi, dan kebiasaan-kebiasaan yang menekan konsumsi BBM.
Kita tentu berdoa agar “angin pamer kekuasaan” ini diredakan karena dampaknya bukan hanya statistik, tapi menyentuh harga hidup harian, biaya logistik, dan kemampuan banyak orang untuk bertahan. Tetapi di saat yang sama, krisis mengajar sesuatu yang sangat relevan bagi kantor sinode: disiplin kecil itu penting. Kalau dunia sedang belajar efisiensi energi, kita pun bisa belajar “efisiensi yang berbelas kasih”: memakai sumber daya secukupnya, meminimalkan pemborosan, menata perjalanan dinas dengan bijak, memajukan rapat daring bila efektif, dan menghidupkan budaya kerja yang fokus pada hal-hal yang paling berdampak.
Ini tidak sekedar “hemat listrik.” Ini latihan etis: memakai sumber daya sebagai bentuk hormat pada sesama terutama mereka yang paling rentan ketika biaya hidup naik.
Semangat baru dalam dunia kerja sebagai perayaan kehidupan
Di sini kita masuk ke literasi “semangat baru” dalam dunia kerja. Dalam psikologi organisasi, ada konsep work engagement; keterikatan kerja yang dipahami sebagai keadaan positif dalam bekerja, ditandai oleh vigor (energi/ketekunan), dedication (rasa bermakna dan antusias), dan absorption (tenggelam fokus dalam pekerjaan). Engagement ini sering dibaca sebagai “antipode” burnout: bukan sekadar tidak lelah, tetapi hidup karena menemukan makna, dukungan, dan ruang bertumbuh.
Sebaliknya, burnout (menurut WHO) adalah sindrom akibat stres kerja kronis yang tidak tertangani, ditandai kelelahan, jarak mental/sinis terhadap pekerjaan, dan penurunan efektivitas profesional. Artinya, semangat baru bukan sekadar “mood bagus,” melainkan ekosistem kerja yang sehat, yang mencegah stres kronis menjadi racun, dan mengubah pekerjaan menjadi sarana memuliakan hidup.
Model Job Demands-Resources (JD-R) menolong kita membacanya dengan sederhana: tuntutan kerja (job demands) dapat menguras, tetapi sumber daya kerja (job resources) misalnya dukungan sosial, kejelasan peran, otonomi yang sehat, dan umpan balik yang membangun dapat
menumbuhkan engagement dan melindungi dari burnout. Di level individu, konsep job crafting juga penting: pekerja dapat membuat penyesuaian kognitif dan relasional atas pekerjaannya mengubah cara memaknai tugas, relasi kerja, dan fokus kontribusi untuk membangun kerja yang lebih bermakna (tanpa melanggar tujuan organisasi).
Kalau saya sederhanakan dengan bahasa kantor : semangat baru itu bukan “tiba-tiba rajin,” tetapi “tahu mengapa saya melakukan ini, merasa aman untuk bekerja dengan benar, dan mempunyai energi karena tidak sendirian.” Itu selaras dengan temuan klasik tentang engagement yang menekankan kondisi psikologis seperti kebermaknaan, rasa aman, dan ketersediaan energi.
Maka, musim perayaan lintas iman ini dapat kita terjemahkan menjadi praktik: kembali bekerja dengan memperbaiki cara kita menyapa, cara kita mendengar, cara kita mengelola beban, dan cara kita menghargai satu sama lain supaya kantor sinode bukan hanya tempat kerja, melainkan “ruang kehidupan.”
Paskah sebagai puncak semangat baru dan panggilan hospitality
Sesudah rangkaian Imlek-Nyepi-Idulfitri, kita segera masuk Pekan Suci: Jumat Agung (3 April) dan Paskah (5 April) sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Di titik ini, refleksi kita mencapai pusatnya: Kristus bangkit membaharui kemanusiaan kita.
Di dalam iman Kristen, kebangkitan bukan sekadar “akhir bahagia,” melainkan awal dari “ciptaan baru.” Penjelasan teologis tentang 2 Korintus 5:17 menekankan bahwa “ciptaan baru” berarti partisipasi dalam peralihan dari “yang lama” menuju “yang baru” sebuah perubahan zaman dan kehidupan yang sudah mulai dikerjakan Allah di dalam Kristus. Dalam refleksi tentang kebangkitan, N. T. Wright menekankan kebangkitan Yesus sebagai “fajar ciptaan baru,” yang mengubah cara gereja memandang misi dan kehidupan sekarang bukan lari dari dunia, melainkan ikut Allah memperbarui dunia.
Nah, kalau Paskah adalah pembaruan kemanusiaan, maka indikatornya bukan cuma liturgi yang meriah, melainkan “kemanusiaan yang dipulihkan” dalam cara kita bekerja dan melayani: kita lebih benar (integritas), lebih lembut (belas kasih), lebih berani (tanggung jawab), dan lebih setia (konsistensi).
Di lingkup kantor sinode, ini punya wujud yang sangat konkret: hospitality; keramahtamahan Injili. Dalam bahasa Perjanjian Baru, kata yang terkait dengan hospitality adalah “philoxenia” (kasih kepada orang asing/stranger), yang menekankan keramahtamahan sebagai praktik aktif, bukan sikap pasif. Henri J. M. Nouwen merangkum hospitality dengan indah: menciptakan “ruang bebas” tempat orang asing dapat masuk dan menjadi sahabat, bukan musuh, ruang di mana perubahan dapat terjadi.
Hospitality ini juga menyatu dengan panggilan gereja yang selalu memegang dua napas sekaligus: pewartaan dan diakonia pelayanan kasih. Dan dalam konteks GMIT, panggilan pelayanan holistik dan diakonia transformatif adalah bahasa yang akrab misalnya ketika sinode menguatkan pelayanan melalui kerja-kerja diakonia yang menyentuh aspek keadilan dan pendampingan. Maka, menjelang Paskah 2026, saya mengajak semua BPP-UPP dan seluruh kayawan: mari mempersiapkan diri bukan hanya untuk “libur Paskah,” tetapi untuk “roh Paskah” yang tidak pernah libur.
Pelayanan yang sungguh-sungguh memang punya jadwal kerja, tetapi kasih tidak mengenal tombol “logout.” Kita boleh rehat karena manusia butuh sabat, namun di saat yang sama kita menjaga api panggilan agar tetap menyala dalam cara kita hadir: ramah pada tamu, cepat menolong yang bingung, jujur dalam administrasi, rapi dalam pelaporan, rendah hati dalam koordinasi, dan tegas dalam integritas.
Kalau Imlek mengajarkan kita mengucap “semoga limpah,” Nyepi mengajarkan kita “hening supaya jernih,” Idulfitri mengajarkan kita “kembali suci dan pulihkan relasi,” maka Paskah mengajarkan kita ini: “hidup baru itu mungkin dan harus terlihat.” Kiranya, saat Kristus bangkit, Ia juga membangkitkan kemanusiaan kita di kantor sinode: supaya setiap surat, setiap rapat, setiap keputusan, setiap sapaan di lorong, setiap cara kita melayani jemaat dan mitra menjadi saksi kecil bahwa hidup baru itu bukan teori, tapi real.*











