
Kita semua tahu bagaimana rasanya menanti tibanya waktu pemulihan dari berbagai bentuk pergumulan. Misalnya, petani tahu rasanya menanti datangnya hujan di akhir musim kemarau, atau datangnya musim panen di tengah cuaca buruk maupun serbuan hama dan penyakit tanaman. Nelayan yang menunda pekerjaan melaut akibat musim barat yang menggelora tahu rasanya menanti laut yang kembali tenang agar bisa berlayar atau menyelam untuk menangkap ikan. Bapak-bapak, dan terlebih mama-mama di kampung halaman, tahu rasanya menanti kabar atau kunjungan dari anak-anaknya yang merantau, menjalani studi atau melaksanakan tugas pekerjaan di tempat yang jauh, dan sebagainya. Penantian ini kadang menimbulkan rasa lelah, bahkan membuat harapan menjadi layu. Untuk itu kita butuh kabar yang bukan sekadar “nanti” melainkan pembaruan yang pasti.
Di titik inilah Paskah datang dengan seruan sukacita: Yesus Kristus sudah bangkit! Kubur-Nya kosong! Kuasa maut telah dikalahkan! Melalui Paskah terjadilah pembaruan dan pemulihan yang pasti terhadap martabat kemanusiaan yang tereduksi oleh berbagai bentuk ketidakpastian.
Surat 2 Korintus, sebagaimana halnya dengan surat 1 Korintus, ditulis oleh rasul Paulus. Pada masa itu Korintus adalah ibukota propinsi Romawi Akhaya dan merupakan kota pelabuhan yang ramai dan penuh persaingan dagang. Selain itu Korintus juga merupakan pusat berbagai kebudayaan. Di kota ini rasul Paulus melakukan pelayanan penginjilannya selama delapan belas bulan dan menjadi salah satu lokasi berdirinya jemaat Kristen awal.
Kota Korintus dikenal kosmopolitan, namun immoral, sehingga rasul Paulus menulis surat 1 dan 2 Korintus untuk menegur perpecahan, ajaran sesat dan imoralitas yang merambat ke dalam persekutuan jemaat. Untuk itu rasul Paulus mengingatkan anggota jemaat di Korintus bahwa kehidupan mereka yang lama mesti benar-benar ditinggalkan karena Yesus Kristus telah menebus dan memberikan kehidupan yang baru kepada mereka. Mereka bahkan mesti memberi dirinya untuk menjadi saksi-saksi Kristus di dunia, khususnya kepada masyarakat di Korintus, yang masih hidup dalam berbagai bentuk dosa dan kecemaran.
Dalam 2 Korintus 5:11-21 terdapat tiga pokok pikiran yang rasul Paulus jabarkan. Pertama,kasih Kristus yang menggerakkan, bukan tuntutan gengsi (ayat 11-15). Pada bagian ini rasul Paulus bersaksi bahwa hidupnya diubahkan oleh satu hal: “Kasih Kristus yang menguasai kami” (ay. 14, arti harfiah: kasih Kristus yang menyerat/menekan kami dari dalam). Paulus tidak melayani supaya orang menilai bahwa dia hebat atau supaya dia aman dari kritik (“takut pada manusia”, “mencari pujian”). Dia juga tidak melayani karena tradisi agama yang menuntut penampilan yang sopan dan alim di depan umum. Yang mendorong tiap langkahnya adalah kesadaran bahwa Kristus telah mati bagi semua orang sehingga orang percaya tidak dapat hidup bagi dirinya sendiri lagi. Dalam hal ini motivasi dari seluruh tindakan dan pelayanan rasul Paulus telah diperbarui.
Di sisi lain, pada bagian ini rasul Paulus memperlihatkan beratnya kasih Kristus. Kata Yunani synechoyang dipakai menggambarkan tekanan terus-menerus seperti air yang menekan perahu. Kasih Kristus bukanlah perasaan samar. Sebaliknya, kasih Kristus sangat kuat sehingga menekan rasul Paulus dan membuatnya tidak dapat melawan atau mundur. Oleh karena Kristus menanggung dosa semua orang, maka respon yang wajar adalah menyerahkan seluruh energi kepada Dia dan bukan kepada gengsi pribadi atau ekspektasi sosial. Jadi kasih Kristus yang menggerakkan, bukan tuntutan gengsi berarti sumber gerak hidup beralih dari penilaian manusia ke tekanan kasih Kristus yang telah mati dan bangkit bagi seluruh ciptaan. Hasilnya adalah pelayanan orang percaya yang jujur, bahkan ketika tidak ada yang memberikan pujian dan apreseasi.
Kedua,identitas baru sebagai ciptaan yang dibarui (ayat 16-17). Sebelum mengenal Kristus, rasul Paulus menilai orang lain melalui latar belakangnya: dari mana seseorang lahir, suku, prestasi atau reputasi. Semua ini adalah cara dunia mengkategorikan. Namun kebangkitan Kristus membatalkan semua label maupun prasangka tersebut. Kini ukuran yang berlaku bukan “siapa dia dulu”, melainkan “apakah saat ini ia sudah berada di dalam Kristus”.
Pada bagian ini rasul Paulus juga menyebut “ciptaan baru” bukan sekedar perbaikan moral, melainkan identitas yang diganti. Seperti tanah yang dibajak secara total sebelum ditanami benih baru, hidup lama – dengan dosa, rasa bersalah dan pola pikir yang egois – sudah berlalu. Yang hadir sekarang adalah pribadi yang relasinya dengan Allah telah diperbarui. Roh Kudus menanam benih karakter Kristus. Orang peercaya tidak lagi didefinisikan oleh masa lalu atau status sosialnya melainkan oleh fakta bahwa Kristus yang bangkit telah menjadikan dia pribadi yang lain – dipanggil untuk hidup menurut arah dan nilai yang baru.
Ketiga,panggilan untuk menjadi duta pendamaian (ayat 18-21). Inisiatif pendamaian datang dari Allah sendiri. Dia tidak menunggu manusia berdamai dulu. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, Allah tidak memperhitungkan semua pelanggaran manusia. Dia justru membuka jalan rekonsiliasi. Ini merupakan fakta yang sudah terjadi – damai telah dikerjakan di melalui penyaliban, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus.
Setelah Allah mengerjakan karya pendamaian, Dia memberikan berita itu kepada manusia. Rasul Paulus menyebutnya “firman pendamaian” yang dipercayakan kepadanya. Tugasnya bukan untuk menciptakan damai dengan usaha sendiri, melainkan menyampaikan kabar bahwa damai itu sudah tersedia di dalam Kristus. Dengan demikian dia menjadi duta pendamaian.
Kata Yunani dari “duta” yaitu presbeuo secara harfiah berarti menjadi utusan resmi negara. Rasul Paulus berkata, “kami ini adalah utusan Kristus, seakan-akan Allah sendiri meminta melalui kami”. Jadi panggilan kepada orang percaya bersifat perwakilan: berbicara kepada sesama atas nama Kristus untuk berdamai dengan Allah. Duta tidak memberikan tawaran dari dirinya sendiri melainkan tawaran yang sah dari Allah.
Alasan beraninya rasul Paulus menjadi duta adalah Kristus yang tanpa dosa diperlakukan seolah berdosa, supaya di dalam Dia segenap ciptaan Allah dibenarkan. Ini merupakan pertukaran yang luar biasa. Allah yang tanpa dosa, di dalam Yesus Kristus memberi diri-Nya untuk menanggung kutuk dosa dunia agar segenap ciptaan memperoleh keselamatan. Jadi maksud dari bagian ini yaitu orang yang telah diperdamaikan dengan Allah menerima mandat untuk mewartakan rekonsiliasi yang telah Allah kerjakan. Orang percaya mesti mengundang orang lain untuk menaruh kepercayaan pada pemberian Kristus. Identitas sebagai duta pendamaian terletak pada kesetiaan untuk menyampaikan berita itu dengan rendah hati dan jelas, karena kuasa damai ada pada salib yang telah kosong, bukan pada kehebatan manusia.
Inilah tiga hal pokok yang dapat ditemukan dalam teks 2 Korintus 5:11-21. Lalu bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan orang percaya pada masa kini? Hal yang penting untuk diingat adalah bahwa pada mulanya segenap ciptaan, termasuk manusia, diciptakan Allah teramat baik adanya. Namun karena dosa, ciptaan yang teramat baik itu menjadi rusak. Oleh karena manusia telah rusak maka berbagai sendi kehidupannya pun ikut rusak. Salah satunya adalah nilai-nilai budaya yang luhur. Tetapi syukurlah, Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, memberikan pemulihan dan pembaruan terhadap nilai-nilai budaya. Sekarang tinggal bagaimana manusia, khususnya orang-orang percaya, memberi respon baik untuk melanjutkan karya pemulihan dan pembaruan itu.
Salah satu contoh nilai budaya yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan dapat ditemukan dalam masyarakat Ende – Lio di Flores. Masyarakat Ende – Lio mengenal nilai kekeluargaan na’lai. Na’laiadalah istilah dalam bahasa Lio yang merujuk pada ikatan kekerabatan dalam arti yang luas meliputi saudara, sepupu, bahkan tetangga yang diperlakukan seperti keluarga sendiri. Dalam istilah ini terkandung makna, “kita satu darah, satu tanggung beban”.
Istilah ‘nai’laimenyimpan etos sosial yang menekankan identitas bersama dan aksi nyata solidaritas. Di dalam na’lai terdapat kekuatan relasi yang melampaui ikatan darah. Wujud nyata na’laidalam kehidupan sehari-hari nampak dalam aktivitas menanam, memanen atau membangun rumah. Semua orang yang terlibat melakukannya seperti untuk dirinya sendiri. Dalam na’lai martabat kemanusiaan dijunjung tinggi. Tentu saja variasi dari istilah serupa terdapat pula di dalam budaya etnis yang lain dengan bentuk yang sedikit berbeda pula.
Namun pada masa kini nilai-nilai luhur na’lai yang indah ini telah terdistorsi menjadi beban harga diri: membantu supaya dipuji atau tidak malu dalam pandangan masyarakat. Atau membantu agar apabila di kemudian hari membutuhkan bantuan, orang-orang yang telah dibantu itu wajib membalasnya. Jadi pertimbangan utama dalam memberikan bantuan adalah untuk kepentingan atau keuntungan diri sendiri.
Terhadap sikap seperti ini, pesan Paskah datang menyapa. Kebangkitan Kristus menggeser orientasi. Oleh karena itu bukan lagi mata tetangga atau masyarakat, melainkan Kristus yang menilai. Bayangkanlah sikap petani jagung di desa-desa ketika curah hujan yang terlalu banyak membuat bulir jagung yang belum dipanen di kebun membusuk. Tanpa Paskah, petani yang demikian akan menyembunyikan rapat-rapat hasil panen yang tersisa dan menolak berbagi dengan sesama karena kekuatiran akan kekurangan bahan makanan. Tetapi dengan kasih Kristus karena iman yang dibarui oleh Paskah, ia dapat tetap menyisihkan sebagian untuk janda lansia di sebelah rumah – bukan demi sanjungan melainkan karena dia tahu hidupnya sudah ditanggung oleh Dia yang mati dan bangkit bagi semua. Motivasi berubah. Energi baru muncul. Pelayanan dilakukan bukan supaya nama terangkat, melainkan karena Kristus bangkit dan menganggap setiap orang berharga dan bermartabat.
Hal lainnya yang dibarui melalui kebangkitan Kristus yaitu pelabelan terhadap manusia. Pada umumnya sikap memberi label tertentu kepada pribadi atau komunitas masyarakat yang lain mereduksi martabat kemanusiaan. Misalnya, label sebagai orang gunung atau orang pantai, orang asli atau orang pendatang, kelompok mayoritas atau kelompok minoritas, dan sebagainya. Biasanya semua label itu melekat seperti debu pada alas kaki: membuat kotor dan butuh tenaga ekstra untuk membersihkannya. Namun kebangkitan Kristus menghapus semua label dan justru mengubahnya menjadi identitas utama. Seseorang tidak lagi hidup dalam bayang-bayang gelap dari label yang ditempelkan pada dirinya melainkan sebagai anak Allah yang diampuni dan diberi awal hidup yang baru.
Pembaruan oleh kebangkitan Kristus juga berlaku untuk hal-hal lainnya. Misalnya, keluarga nelayan yang kehilangan kerabat atau sahabat di laut dapat terjebak dendam – menyalahkan diri sendiri dan orang lain serta menutup diri dari pergumulan. Namun di dalam Kristus dia dipanggil ke dalam identitas baru sebagai pembawa damai, bukan penyimpan luka. Seperti tanah retak yang pecah saat hujan pertama, kebangkitan Kristus membuat retakan dalam jiwa menjadi alur tempat benih pengharapan tumbuh. Kita bangun pagi bukan dengan cap orang gagal melainkan dengan kalimat, “hari ini saya taat mengerjakan bagian saya, sisanya saya serahkan kepada Tuhan”.
Hal terakhir yang juga dapat ditarik sebagai pelajaran penting yaitu tentang pendamaian atau rekonsiliasi. Allah telah mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus, lalu mempercayakan berita pendamaian kepada kita. Paskah bersifat publik – kubur kosong, malaikat berbicara, para perempuan disuruh menyampaikan kabar. Di sini terjadi rekonsiliasi total.
Dari semua gambaran ini kita melihat bahwa Paskah bukanlah dekorasi bunga warni-warni di mimbar-mimbar gereja. Sebaliknya, Paskah adalah kabar bahwa kemanusiaan kita yang lelah, curiga dan mudah marah diperbarui oleh Kristus yang bangkit. Dia hidup dan karena itu kita memandang dunia dengan mata baru. Sawah dan ladang yang menanti datangnya hujan bukanlah kutukan melainkan tempat latihan kesetiaan. Laut yang ganas bukanlah penjara melainkan medan belajar percaya. Konflik bukanlah akhir melainkan undangan menjadi duta damai.
Apabila kemarau rohani sedang panjang, ingatlah bahwa berita tentang kubur kosong lebih kuat dari kuasa apa pun. Kristus bangkit dan kita pun dibarui. Pergilah ke kebun, ke pasar, ke dermaga, ke tempat kerja yang lain, atau ke mana pun, sebagai ciptaan baru yang membawa perdamaian. Jadilah pribadi yang berbeda bukan karena hidup tanpa masalah melainkan karena ada harapan yang hidup. Sekali lagi: Selamat Paskah! Tuhan Yesus memberkati. Amin.











