//Mitigasi Krisis Domestik, Majelis Sinode GMIT Perkuat Ketahanan Rumah Tangga Pendeta Melalui Katekisasi Pranikah

Mitigasi Krisis Domestik, Majelis Sinode GMIT Perkuat Ketahanan Rumah Tangga Pendeta Melalui Katekisasi Pranikah

KUPANG, www.sinodegmit.or.id – Majelis Sinode GMIT mengambil langkah strategis dalam memitigasi kompleksitas krisis domestik yang kian mengancam melalui penguatan pembekalan bagi calon pasangan Pendeta GMIT. Langkah ini diwujudkan dalam program Katekisasi dan Percakapan Pastoral Pranikah yang bertujuan membekali peserta dengan ketahanan mental serta spiritual guna menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari ancaman Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), risiko perceraian, hingga persoalan ekonomi keluarga.

Rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan dalam dua metode pertemuan: Sesi Daring berlangsung pada 8 hingga 10 April 2026 melalui platform Zoom. Sementara Sesi Tatap Muka, berlangsung pada 14 hingga 18 April 2026 bertempat di Aula Kantor Sinode GMIT, Kupang.

Kegiatan yang diikuti oleh 20 pasangan ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai hakikat pernikahan berdasarkan Alkitab serta kesiapan mental calon suami-istri. Selain aspek spiritual, para peserta dibekali dengan kemampuan manajemen konflik, pengelolaan keuangan keluarga, hingga pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan tanggung jawab spesifik sebagai keluarga pendeta.

Kurikulum materi mencakup berbagai aspek, di antaranya: Dasar dan Karakter Pernikahan Kristen, Tantangan Gaya Hidup Digital, Safeguarding, Spiritualitas Keluarga Pendeta, Literasi Keuangan, Manajemen Konflik, hingga pemeriksaan kesehatan dan percakapan pastoral yang ditutup dengan sesi meditasi.

Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M.S. Karmany, dalam suara gembalanya menekankan pentingnya kualitas hidup keluarga pelayan. Ia memberikan perumpamaan bahwa rumah tangga pendeta merupakan cermin yang senantiasa diperhatikan oleh masyarakat luas.

“Rumah tangga pendeta ibarat akuarium yang dapat dilihat oleh jemaat dari segala sisi. Oleh karena itu, keluarga pendeta harus memiliki nilai tambah dan kualitas hidup yang baik. Kita tidak bisa menutup mata bahwa realitas kehidupan rumah tangga orang percaya saat ini sedang menghadapi tantangan berat—mulai dari KDRT, perceraian, hingga masalah ekonomi—dan keluarga pendeta pun tidak luput dari ancaman tersebut,” tegas Pdt. Zimrat.

Beliau berharap para peserta memanfaatkan momentum ini sebagai sarana belajar bersama untuk memperkuat relasi dan pelayanan, sehingga kehidupan berkeluarga mereka nantinya benar-benar menjadi berkat bagi sesama.

Program ini mendapat apresiasi positif dari para peserta. Pasangan Claries Kale Moy dan Pdt. Maleachi Kameo menilai bahwa materi yang diberikan memberikan kesiapan mental dan spiritual yang komprehensif sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Hal senada diungkapkan oleh pasangan Pdt. Marlinda dan Erens Tule. Menurut mereka, sesi berbagi (sharing) dan waktu khusus bersama pasangan memungkinkan mereka untuk mengenal satu sama lain lebih dalam serta belajar dari pengalaman para pemateri maupun rekan sejawat.

“Percakapan pastoral yang mendalam membantu kami mengidentifikasi tantangan sekaligus strategi dalam menghadapinya. Selain itu, sesi meditasi memberikan pencerahan, motivasi, dan penguatan iman, sehingga kami merasa lebih siap melangkah menuju pernikahan dengan penuh pengharapan,” ungkap mereka.

Melalui program intensif ini, Majelis Sinode GMIT berharap dapat mencetak keluarga-keluarga pendeta yang kokoh, harmonis, dan mampu menjadi teladan di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.*