//Jalan Orang Benar dan Jalan Orang Fasik (Mazmur 1:1-6) – Pdt. Melkisedek Sni’uth

Jalan Orang Benar dan Jalan Orang Fasik (Mazmur 1:1-6) – Pdt. Melkisedek Sni’uth

Manusia merupakan makhluk sosial. Karena itu tidak ada seorang pun yang dapat hidup sendirian. Seintrovert apa pun seseorang, dia tetap membutuhkan orang lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan jasmani dan rohaninya. Itu sebabnya pergaulan memiliki peranan yang penting. Namun dalam pergaulan dibutuhkan sikap kehati-hatian yang tinggi. Hal ini karena kemampuan seseorang dalam memilih teman bergaul sangat besar pengaruhnya terhadap kualitas hidup yang dijalaninya. Pergaulan yang baik dapat menghasilkan kehidupan yang baik. Sebaliknya, pergaulan yang buruk dapat menghasilkan kehidupan yang buruk (1 Kor. 15:33).

Nas ini berisi nasihat kepada umat Tuhan yang ingin mengalami kehidupan yang bahagia. Kata “berbahagialah” berasal dari kata “asyrey” dalam bahasa Ibrani. Kata “asyrey” memiliki pengertian berbahagia atau keberuntungan. Ini adalah kata sifat yang disampaikan dalam bentuk kata seru. Penggunaan sebagai kata seru sangat menarik karena hal itu dilakukan dengan sengaja untuk memberikan tekanan, agar umat Tuhan memberikan perhatian khusus. Perhatian seperti itu diperlukan untuk menyadarkan mereka akan apa sebenarnya tujuan hidup yang sedang dikejarnya. Kata “asyrey” memang bukan kebahagiaannya, melainkan sesuatu yang akan dirasakan oleh setiap orang sebagai akibat dari keberuntungan yang diterimannya sebagai dampak dari melakukan Taurat Tuhan  Melalui nas ini pemazmur mengungkapkan bahwa apabila seseorang ingin mengalami kehidupan yang berbahagia maka dia wajib memiliki kemampuan agar memilih lingkungan pergaulan yang tepat. Untuk itu ada dua hal yang mesti dilakukan.

Pertama,menghindarkan diri dari pergaulan yang buruk. Dalam hal ini ada tiga kelompok manusia yang mesti dihindari yaitu yang pertama orang fasik. Kepada orang-orang dari kelompok ini umat Tuhan dilarang untuk mengikuti nasihat-nasihatnya. Yang kedua orang berdosa. Kepada kelompok ini umat Tuhan dilarang untuk berdiri bersama mereka. Yang ketiga kumpulan pencemooh. Kepada kelompok ini umat Tuhan dilarang untuk duduk dan bergaul secara intens dengan mereka. Mari kita mendalami tiga kelompok ini.

Orang fasik.Kata dalam bahasa Ibrani yang dipakai untuk ‘orang fasik’ adalah “resya’im”. Bentuk kata kerjanya adalah denominatif dari kata “resya’”yang berarti kriminal atau jahat. Dalam PL kata ini digunakan sebanyak 33 kali. Sebagai kata sifat istilah ini diartikan sebagai orang-orang yang melakukan kejahatan. Kata “resya’im”merupakan antitesa dari kata “tsedeq” yang berarti orang benar.

Kata “resya’im”merujuk pada perilaku negatif dari pikiran, perkataan dan perbuatan jahat, suatu perilaku yang tidak hanya bertentangan dengan tabiat Tuhan, tetapi juga memusuhi masyarakat sekaligus menunjukkan ketidakharmonisan bathin dan keresahan manusia. Dalam bentuknya sebagai kata benda maskulin, “resya”menunjukkan jenis kehidupan yang bertentangan dengan karakter Allah. Dalam literatur hikmat, “resya”juga dipertentangkan dengan kebenaran dan keadilan. Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa orang fasik memiliki karakteristik sebagai orang yang suka berbuat jahat atau kriminal dan mengingkari taurat Tuhan.

Orang berdosa.Kata Ibrani yang dipakai adalah “chata’im”yang berarti orang-orang yang penuh dosa atau para pendosa. Yang dimaksud dengan orang berdosa di sini adalah orang yang meski pun percaya kepada Allah namun cara hidupnya tidak mencerminkan kehidupan sebagai umat Allah. Itu karena mereka tidak bersedia hidup dalam tuntunan hukum Allah. Mereka ingin bebas dan leluasa menentukan jalan hidupnya sendiri. Jadi orang berdosa yang dimaksud di sini bukan dalam arti dosa bawaan atau turunan tetapi dosa karena pilihan pribadi. Orang-orang seperti ini pun mesti dihindari oleh umat Tuhan sebab mereka mengembangkan pola hidup yang mengacu pada norma-norma umum yang dikembangkan oleh dunia yang tidak membawanya ke kehidupan yang ilahi melainkan kehancuran total.

Mereka adalah orang-orang yang selalu ada dalam setiap generasi di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Mereka juga tersebar di seluruh komunitas lintas suku, bangsa dan agama. Cara hidupnya yang menyimpang dari hukum Taurat membuat mereka layak disebut orang berdosa.

Diakui atau tidak, keberadaan mereka memiliki pengaruh yang besar bagi lingkungan di mana mereka ada. Kecenderungan manusia untuk mudah meniru apa yang jahat merupakan bahaya yang mesti dihindari ketika bertemu dengan orang dari kelompok ini. Itu sebabnya pemazmur menjadikan mereka sebagai antithesis. Kata “lo ‘amad” (tidak berdiri) adalah lawan dari kata berdiri. Ini adalah kiasan untuk menegaskan posisi atau keberadaan. Posisi atau keberadaan itu penting karena merupakan metafora yang berbicara tentang hidup. Berdiri di jalan orang berdosa itu sama dengan menempatkan diri pada cara hidup mereka, yang pada akhirnya akan membuat seseorang akan berperilaku sama dengan orang berdosa.

Kumpulan pencemooh.Kata Ibrani yang dipakai adalah “letsyim” yaitu orang-orang yang mencemooh. Bentuknya sebagai kata kerja partisipel memberi gambaran tentang mereka sebagai orang yang sombong dan angkuh, yang tidak dapat diperbaiki, kebal terhadap semua teguran, dan bahkan sangat membenci teguran. Mereka adalah orang-orang yang menghindari hikmat dan pengetahuan. Berbagai bentuk kejahatan yang mereka lakukan membuatnya dicap sebagai orang najis. Itu sebabnya pemazmur menjadikan mereka sebagai bagian dari kelompok yang harus dihindari.

Kedua,membangun kesukaan akan taurat Tuhan yang dibuktikan dengan tindakan merenungkan firman itu siang dan malam. Kata “kesukaan” diterjemahkan dari bahasa Ibrani “chepetso” yang secara harfiah berarti sukacita atau kesenangan. Kata “chepetso”tidak hanya dimaknai sebagai sebuah ungkapan rasa belaka, melainkan ungkapan rasa yang melahirkan kebiasaan yang baru, yang bersumber dari Allah. Kesukaan akan menghasilkan dorongan untuk melakukan sesuatu yang disukai terus menerus. Apabila sesuatu yang dilakukan secara terus menerus itu tetap berkelanjutan maka akan menjadi kebiasaan yang selanjutnya membudaya.

Di sini pemazmur menempatkan Taurat sebagai lawan dari ketiga kelompok yang perlu dihindari. Taurat tidak dilihat sebagai bentuk tulisan mati di dalam sebuah buku atau loh batu, melainkan aturan, ketetapan, perintah dan pengajaran yang datang langsung dari Tuhan. Taurat ditempatkan sebagai lingkungan ideal yang harus menjadi tempat di mana orang-orang saleh mengembangkan dirinya dalam membangun budaya dan peradaban baru yang tidak terkait dengan ketiga kelompok yang tidak memberikan manfaat, bahkan justru menghancurkan.

Bagaimana cara menumbuhkan kesukaan terhadap Taurat Tuhan? Yaitu dengan merenungkannya siang dan malam. Kata Ibrani yang dipakai untuk “merenungkan” adalah “yehegeh”yang secara harfiah berarti mengerang atau mengucapkan. Dari pengertian ini kita melihat bagaimana aktivitas perenungan itu diwujudkan. Pertama,merenung merupakan aktivitas verbal yang mesti diucapkan dengan kata-kata. Artinya tidak cukup kalau hanya dilakukan secara pasif dengan berdiam diri atau berkata-kata dalam hati.  Kedua,aktivitas merenung dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan.

Selanjutnya kata “siang dan malam” diterjemahkan dari kata Ibrani “yomam walayelah” yang menunjukkan rentang waktu terus menerus. Kata sambung “we” dalam bahasa Ibrani tidak hanya berarti “dan”. Kata “we” juga bisa berarti “sampai”. Oleh karena itu kata “siang dan malam” bisa juga diterjemahkan “siang sampai malam”. Terjemahan alternatif ini menegaskan bahwa aktivitas merenungkan terjadi terus menerus.

Pada bagian akhir dari nas ini pemazmur menunjukkan perbedaan mencolok antara orang benar dan orang fasik. Orang benar mencenderungkan hatinya pada taurat Tuhan dan merenungkan terus menerus, sehingga tidak terbawa arus zaman. Mereka seperti pohon yang berdaun segar dan berbuah lebat karena ditanam di tepi aliran air. Tetap eksis, berisi, berhasil dan berdampak.

Sedangkan nasib orang fasik sebaliknya. Mereka bernasib tragis. Mereka seperti sekam yang tertiup angin. Sekam menggambarkan kehidupan yang terlihat gagah dan menarik namun tak berisi karena tidak terhubungan dengan Tuhan. Orang fasik tidak akan bertahan dalam kumpulan orang benar. Dalam penghakiman pun orang fasik tidak akan tahan karena mereka hidup tanpa kebenaran. Kehidupan yang tidak berakar pada kebenaran akan goyah ketika menghadapi tekanan, krisis atau ujian.

Berdasarkan penjelasan ini, ada tiga pertanyaan yang untuk didiskusikan.

  1. Bagaimana caranya GMIT secara organisme dan organisasi dapat berinteraksi dan membangun relasi dengan siapa pun tanpa terjebak dalam pergaulan yang buruk dengan orang fasik, orang berdosa dan kumpulan pencemooh?
  2. Bagaimana seharusnya kita menyikapi orang-orang yang mencemooh dan bahkan menyerang iman dan ajaran Kristen Protestan, khususnya GMIT, baik secara langsung maupun melalui media sosial?
  3. Bagaimana kita memastikan unsur-unsur budaya lokal (narasi, nyanyian, tarian, busana dan sebagainya) yang dimasukkan dalam liturgi Bulan Budaya GMIT sudah sesuai dengan firman Tuhan (ada di jalan orang benar)?