//Sinode GMIT Teken MoU dengan GMKI Kupang tentang Pelayanan, Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat

Sinode GMIT Teken MoU dengan GMKI Kupang tentang Pelayanan, Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat

Kupang, www.sinodegmit.or.id,Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kupang menandatangani Memorandum of Understanding(MoU) tentang Program Pelayanan, Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia dan Tri Panji GMKI, di GMIT Center Kupang, Rabu (6/5/2026).

MoU tersebut ditandatangani oleh Pdt. Semuel Benyamin Pandie selaku Ketua Majelis Sinode GMIT dan Andraviani F. U. Laiya, selaku Ketua GMKI Cabang Kupang. Penandatanganan ini turut disaksikan oleh Ketua UPP. Hubungan Oekumenes dan Kemitraan Majelis Sinode GMIT, Pdt. Leny Flolinda Mansopu dan Pengurus GMKI Cabang Kupang.

MoU tersebut mencakup pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, riset kolaboratif, dan pengembangan sumber daya manusia yang terintegrasi dengan berbagai kegiatan ilmiah serta advokasi berkelanjutan terhadap sumber daya alam dan budaya.

Fokus utama kerja sama ini juga menyasar pada pendampingan kemanusiaan bagi perempuan dan anak di Rumah Harapan GMIT, penguatan ekonomi kreatif, serta pemberdayaan pemuda dari tingkat desa hingga internasional melalui kaderisasi dan aksi nyata yang komprehensif di berbagai bidang pelayanan masyarakat.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, dalam sapaannya menyoroti situasi menggelisahkan di NTT yang dipicu oleh dampak perang transnasional dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurutnya, beban terberat dari inflasi dan ketidakpastian ekonomi ini sepenuhnya dipikul oleh masyarakat miskin.

Pdt. Semuel menegaskan ketimpangan sosial yang terjadi saat ini melalui pernyataan berikut:

“Untuk masyarakat kelas atas, kondisi ini mungkin terasa aman dan tidak menjadi soal. Masyarakat kelas menengah pun masih mampu bertahan. Namun, bagi masyarakat kelas bawah, merekalah yang akan menanggung dampak paling sulit. Pertanyaannya adalah, apa yang bisa kita perbuat untuk mereka?”

Sebagai langkah konkret, Pdt. Semuel menekankan pentingnya mempersiapkan masyarakat melalui penguatan sektor riil, khususnya pertanian. Ia mendorong program-program pemberdayaan yang secara spesifik menyasar generasi muda atau petani milenial agar memiliki ketahanan ekonomi dan keterampilan mandiri.

Salah satu contoh nyata yang tengah dikembangkan adalah transformasi kawasan Agroekowisata GMIT Loli di Amanuban Timur. Lokasi tersebut dipersiapkan sebagai pusat pembelajaran dan pelatihan keterampilan bagi petani milenial, guna menciptakan ekosistem pertanian modern yang mampu menjawab tantangan pangan di masa depan.

Senada dengan hal itu, Andraviani F. U. Laiya, menegaskan bahwa persoalan kemanusiaan global dan lokal merupakan panggilan pelayanan bagi organisasi mahasiswa tersebut.

“GMKI tidak hanya fokus pada urusan internal organisasi semata, tetapi juga Isu-isu global seperti dampak perang dan kemiskinan menjadi perhatian serius kami. Salah satu yang GMKI lakukan ialah

mengelola lahan pertanian produktif yang berlokasi di Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang,” kata Andraviani.

Sinergi ini juga mendorong GMKI untuk tetap kritis sebagai suara pembanding di NTT, memperkuat literasi media atas isu sosial, serta mempertajam transformasi politik dan pelayanan diakonia demi kesejahteraan jemaat dan masyarakat secara holistik.

Diinformasikan bahwa GMKI Cabang Kupang memiliki 17 Komisariat yang berbasis pada 12 Perguruan Tinggi di Kota Kupang dengan basis pelayanan di Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat Wilayah Kupang. *