//PERSEKUTUAN YANG MEMULIHKAN: MENANTI DENGAN SEHATI (KISAH PARA RASUL 1:12-14) – PDT. LENY F. MANSOPU

PERSEKUTUAN YANG MEMULIHKAN: MENANTI DENGAN SEHATI (KISAH PARA RASUL 1:12-14) – PDT. LENY F. MANSOPU

Pendahuluan

Lukas mencatat waktu antara Kenaikan Kristus dan keturunan Roh Kudus. Jarak waktu 10 hari ini bisa dikatakan sebagai jembatan yang menghubungkan era Yesus historis dan era Gereja apostolik yang dipimpin Roh Kudus. Kalau diteropong secara teologis maka kita akan menemukan suatu arsitektur rohani yang luar biasa dimana komunitas yang terguncang menemukan keutuhan kembali bukan melalui strategi manusia, tetapi melalui persekutuan yang bertekun bersama.

Mari perhatikan teks ayat demi ayat

Ayat 12

Lukas menyusun Kisah Para Rasul dengan pola geografis dari Yerusalem, ke Yudea dan Samaria, hingga ke ujung bumi. Jadi Yerusalem bukan hanya sebuah pusat kota tapi pusat teologis dimana misi Allah dimulai. Maka keputusan para murid untuk kembali ke Yerusalem adalah sebuah tindakan iman yang mengikuti titah ilahi.

Kata kerja ὑπέστρεψαν (ypéstrepsan) secara harfiah berarti ‘berbalik kembali.’ Kata ini Lukas pakai secara konsisten untuk menandai momen-momen ketaatan dan dalam konteks ini menunjuk pada ketaatan untuk kembali ke kota yang telah menyalibkan Guru mereka sebagai tindakan yang menuntut keberanian.

Ayat 13

Ruang atas atau ruang loteng, menurut beberapa ahli merujuk tempat ini sebagai tempat Perjamuan Malam Terakhir Tuhan bersama para murid. Ada juga yang bilang bahwa ini rumah Markus. Namun yang pasti ruang atas ini menunjuk pada ruang tersembunyi yang aman.

Nama-nama para rasul yang hadir, menurut Richard Bauckham dalam buku Jesus and the Eyewitnesses menekankan bahwa daftar nama dalam ay. 13 bukanlah sekedar penulisan daftar hadir, melainkan berfungsi sebagai “saksi bersertifikat” untuk menjamin kesaksian para murid dan menegaskan bahwa inilah komunitas saksi mata yang sahih, dan fondasi dari kesaksian Gereja.

Ayat 14

Ayat 14 adalah jantung teologis perikop ini. 2 kata Yunani yang perlu diperhatikan adalah :

Pertama: ὁμοθυμαδόν (omothumadon) yang secara hariaf berarti sepemikian. Akan tetapi bukan sekedar secara intelektual melainkan menunjuk pada kesamaan jiwa yang terbentuk karena orientasi yang sama terhadap Allah. Kata ini dipakai sebagai penanda identitas khas gereja apostolik yang menunjukkan ciri khas gereja mula-mula.

Kedua, προσκαρτεροῦντες (proskarteroūntes). Kata ini menunjuk pada tindakan bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama adalah tindakan terus-menerus, tak henti-henti, dan dengan dedikasi penuh. Bentuk present participle dipakai unutk menunjukkan aksi yang berlangsung terus-menerus, bukan sekali-selesai. Ini juga adalah ketekunan yang disengaja, bukan spontanitas emosi religius sesaat.

Doa yang dinaikkan juga bukan tanpa makna. Doa yang dilakukan para murid mengacu pada praktik doa yang spesifik, kemungkinan besar termasuk doa-doa liturgis Yahudi yang terstruktur yang memang menjadi tulang punggung kehidupan rohani komunitas Yahudi. Ini menunjukkan bahwa komunitas awal tidak meninggalkan tradisi rohani mereka, tetapi mengisinya dengan makna baru di dalam Kristus.

Sementara informasi tentang kehadiran “beberapa perempuan” dan “Maria, ibu Yesus” menunjukkan bahwa dalam konteks budaya patriarkal abad pertama, inklusi perempuan dalam inti komunitas iman adalah deklarasi teologis bahwa dalam Kristus, batas-batas sosial yang memisahkan telah diruntuhkan. Juga kehadiran saudara-saudara Yesus membuktikan bahwa penderitaan salib dan kebangkitan Kristus mengubah mereka dari tidak percaya menjadi percaya.

Dari teks ada beberapa point yang bisa dikembangkan dalam diskusi kita

  1. Persekutuan sebagai ruang pemulihan

Para murid tidak sendiri-sendiri pulang ke Yerusalem. Mereka pulang bersama. Dan ketika mereka tiba, mereka naik ke ruang atas. Gambaran keadaan para murid waktu itu adalah kehilangan orang terdekat secara tiba-tiba, kemungkinan besar masih belum paham secara utuh apa yang sebenarnya sedang terjadi, mereka tidak berdaya, mereka berhadapan dengan pengkhianatan Yudas, rasa bersalah Petrus. Dalam kondisi ini, reaksi yang paling manusiawi adalah fragmentasi yakni berpencar, menyembunyikan diri, melarikan diri. Namun justru mereka memilih berkumpul. Ini bukan karena mereka telah pulih tetapi karena mereka memilih untuk sembuh bersama. Memang harus diakui bahwa rekonsiliasi dan pemulihan sejati tidak terjadi dalam isolasi, tetapi dalam ruang perjumpaan yang aman.

Hari ini krisis terbesar yang dihadapi banyak orang Kristen adalah memilih menanggung beban secara sendiri-sendiri. Seruan self healing membuat orang menolak ada bersama orang lain karena kuatir akan dilukai dan disakiti. Media sosial mempromosikan pola hidup semakin kecil lingkaran pertemanan, semakin orang bahagia. Barangkali ini salah satu penyebab orang meninggalkan gereja. Jadi bukan karena orang tidak percaya Tuhan tapi karena orang tidak lagi mempercayai bahwa ada dalam persekutuan bisa memulihkan dirinya.

Ini harus menjadi catatan penting bagi gereja untuk menjadi “ruang kembali atau ruang atas.” Tempat di mana orang-orang yang terluka, skeptis, dan bahkan yang pernah melarikan diri dapat kembali, tanpa tuntutan kesempurnaan terlebih dahulu. Daftar nama di ayat 13 mengajarkan kita bahwa persekutuan yang memulihkan adalah yang inklusif dimana di dalamnya ada Petrus yang pernah gagal, ada Yohanes yang setia, ada ibu yang  berduka, ada saudara-saudara Yesus yang pernah tidak percaya.

Kita juga sudah merasakan akibat dari teknologi komunikasi yang canggih telah menghasilkan krisis kesendirian. Banyak orang lebih memilih ada pada ilusi kebersamaan di dunia maya dibanding ada bersama orang banyak yang berbeda-beda.

Persekutuan murid yang di ruang atas mengingatkan kita akan apa yang Allah kehendaki yakni terhubung secara fisik dalam ruang nyata. Mereka duduk bersama dalam satu ruangan, menanggung kerentanan yang sama. Maka gereja hari ini perlu merebut kembali keberanian untuk hadir secara fisik, dan bukan hanya ‘like’ dan komentar emoji di media sosial.

Sosiolog kristen, Miroslav Volf dalam buku Exclusion and Embrace (1996), berpendapat bahwa rekonsiliasi dan pemulihan sejati tidak terjadi dalam isolasi, tetapi dalam ruang perjumpaan yang aman dimana setiap orang membuka diri pada yang lain.    

Dan tugas kita untuk bagaimana menata layani dalam gereja sehingga gereja menjadi ruang jumpa bagi semua. Ruang dimana, Petrus yang telah menyangkal bertemu dengan Yohanes yang setia. Dimana, saudara-saudara Yesus yang dahulu skeptis duduk bersama para rasul yang telah melihat kebangkitan. Dimana Maria yang telah kehilangan anaknya hadir bersama para perempuan yang menjadi saksi pertama kebangkitan.

Bagaimanapun teks ini mengingatkan kita dimensi pneumatologis dimana Roh Kudus akan diberikan kepada persekutuan, bukan hanya kepada individu. Maka persiapan untuk menerima Roh Kudus harus terjadi di dalam persekutuan gereja. Bukankah Roh Kudus diberikan pada hari Pentakosta kepada mereka yang telah ada dalam persekutuan?

  • Menanti dengan sehati

Teks ini menggambarkan bahwa para murid menanti dengan aktif, terstruktur, dan intensional. Mereka nenanti dalam sehati dan berdoa. karena doa adalah cara mereka berpartisipasi dalam rencana Allah.

Mereka sehati walau punya perbedaan, baik perbedaan pengalaman, karakter, dan mungkin perspektif tentang apa yang baru saja mereka alami. Namun mereka dipersatukan oleh fakta kasih, pengorbanan dan kuasa Kristus yang besar dan hal itu lebih dari cukup untuk menanggalkan semua perbedaan untuk sehati menanti janji Kristus.

  • Mereka sehati bertekun dalam doa.

Doa adalah cara sebuah persekutuan menjaga orientasi pada Allah di tengah ketidakpastian. Ketika Yesus tidak lagi tampak dan Roh belum datang, doa adalah tali yang menghubungkan mereka dengan realitas ilahi yang tidak kasat mata. Doa juga adalah cara anggota persekutuan melatih diri untuk mengarahkan keinginan mereka bukan pada kenyamanan atau kepastian segera, tetapi pada kehendak Allah.

Karl Barth dalam Dogmatika Gereja mendefinisikan doa sejati bukan sebagai usaha mengubah pikiran Allah, tetapi sebagai penyelarasan kehendak manusia dengan kehendak Allah. Dalam kerangka ini, doa para murid adalah latihan teologis untuk menginginkan apa yang Allah inginkan.

Berdoa bersama sebagai gereja dengan tekun mesti terus dihidupi sebab inilah adalah cara gereja menjaga dirinya terarah, terbuka, dan siap untuk menjalankan kehendak Allah sebab itulah yang dikehendaki Allah dari kita.

Ditengah dunia yang suka segala sesuatu serba cepat dan instran, sangat ingin melihat ‘tanda dan mukjizat’ segera, teks ini mengajarkan bahwa Allah juga hadir dalam musim menanti yang sepi dan gereja yang bertekun dalam doa bersama adalah gereja yang telah belajar untuk mempercayai kehadiran tersembunyi itu.

Pertanyaan untuk direnungkan

  1. Dalam konteks jemaat yang majemuk, dengan latar belakang suku, konflik internal, dan luka-luka sejarah gereja yang belum selesai, apakah persekutuan  GMIT telah benar-benar menjadi ruang pemulihan? Apa yang diperbarui agar gereja kembali menjadi ruang di mana yang terluka berani datang dan yang berbeda berani duduk bersama?
  2. Para murid tidak segera bergerak untuk beraksi, mereka menanti dengan disiplin doa. Di tengah tekanan tuntutan pelaksanaan program, laporan, bagaimana kualitas doa komunal kita? Apakah doa kita masih menjadi infrastruktur iman yang sungguh-sungguh, atau telah tereduksi menjadi ritual belaka? Apa yang harus kita lakukan untuk memulihkan doa komunal sebagai jantung kehidupan GMIT supaya kita bisa menyelaraskan pelayanan dengan kehendak Allah?

Tuhan memberkati!