//Jambore PART VII Sinode GMIT di TTU: Wadah Memperkuat Iman dan Potensi Anak

Jambore PART VII Sinode GMIT di TTU: Wadah Memperkuat Iman dan Potensi Anak

TIMOR TENGAH UTARA,www.sinodegmit.or.id, – Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) resmi membuka Jambore Pelayanan Anak, Remaja dan Taruna (PART) VII yang berlangsung di Jemaat Petra Kefa, Klasis Timor Tengah Utara (TTU), pada Senin 29 Juni 2026. Kegiatan akbar ini akan berlangsung hingga Sabtu, 4 Juli 2026. Sebanyak 1.351 anak dan remaja dari berbagai daerah hadir untuk mengikuti rangkaian acara yang bertujuan memperkuat iman, potensi diri, sekaligus meneguhkan komitmen bersama terhadap perlindungan anak di era digital.

Acara pembukaan diawali dengan penampilan budaya yang memukau berupa tarian Sonkiki asal Alor. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan ibadah pembukaan resmi yang dipimpin langsung oleh anak-anak PAR sebagai liturgos, sementara khotbah disampaikan oleh Pdt. Seprianus Y. Adonis. Melalui ibadah ini, anak-anak diberikan ruang penuh untuk mengekspresikan iman mereka dalam pelayanan gerejawi.

Pembukaan Jambore PAR VII ini dihadiri oleh Majelis Sinode GMIT, antara lain Wakil Ketua Sinode Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, Sekretaris Sinode Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, dan Bendahara Sinode Pnt. Yefta Sanam.

Selain itu, hadir pula secara virtual Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia Veronica Tan , perwakilan pemerintah dan aparat keamanan, seperti Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi NTT Noldy Hosea Pelokilla, S.Sos., MM., Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Sekda TTU Bernardinus Totnay, S.Sos., Kapolres TTU, serta Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) Teritorial Pembangunan 877/Biinmaffo, para Ketua Majelis Klasis dan para Pendeta GMIT.

Dalam suara gembalanya, Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Y. Ena Blegur menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda saat ini, khususnya terkait isu sosial dan perkembangan teknologi digital. Ia menegaskan bahwa seluruh institusi di bawah naungan GMIT wajib bertransformasi menjadi ruang yang aman dan penuh kasih sayang bagi perkembangan anak.

“Menjadikan gereja yang ramah anak tidak boleh hanya sekadar slogan, tetapi harus menjadi komitmen bersama, komitmen iman yang berakar pada sabda Tuhan,” tegas Pdt. Saneb.

Beliau juga menambahkan bahwa posisi anak-anak saat ini sangat strategis dalam kehidupan menggereja. Anak-anak bukan lagi sekadar penonton atau objek pasif, melainkan penggerak pelayanan itu sendiri.

“Saudara-saudara, anak-anak bukan hanya masa depan gereja, tetapi mereka adalah bagian dari gereja hari ini. Mereka bukan sekadar objek pelayanan, tetapi mereka adalah subjek iman yang aktif,” lanjutnya.

Ketua Forum Anak Sinode GMIT, Kendy Giordano Loban Ora, turut memberikan pandangannya dalam momentum pembukaan tersebut. Kendy mengingatkan para peserta dan undangan mengenai realitas emosional serta sosial anak-anak saat ini yang masih diwarnai kasus perundungan, kekerasan, hingga penyalahgunaan media digital tanpa pengawasan orang tua.

“Sungguh kita tidak, kita semua tidak menginginkan ini terjadi, sehingga kondisi ini menjadi panggilan bagi kita semua untuk hadir dan memberikan perlindungan serta kasih kepada setiap anak-anak,” ujar Kendy.

Kendati demikian, Kendy menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada GMIT yang secara konsisten menginisiasi program Gereja Ramah Anak (GRA) serta program kepemimpinan One Day Kids Takeover. Melalui Forum Anak, ia mendorong agar wadah partisipasi ini terus diperluas hingga ke tingkat jemaat lokal terkecil.

“Sebagai anak-anak GMIT, kami bukan hanya sebagai penerima pelayanan, tapi kami adalah bagian penting dari gereja masa kini dan gereja masa depan,” tambahnya seraya mengajak sinergi kuat antara gereja, keluarga, dan pemerintah.

Dukungan penuh juga datang dari jajaran eksekutif Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara. Asisten Administrasi Umum (Asisten III) Sekda TTU, Bernardinus Totnay, S.Sos., mengungkapkan harapan besarnya agar Jambore PAR VII ini dapat menjadi ladang subur dalam menempa karakter positif bagi generasi muda. Pemerintah berharap nilai-nilai keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati dapat tertanam kuat sebagai pondasi utama kepribadian mereka selaku benih masa depan bangsa.

Kemeriahan upacara pembukaan ditutup dengan penampilan seni yang megah dari perwakilan jemaat. Sebanyak 117 anggota Jemaat Yunus Nunumeu dari Klasis Kota Soe mempersembahkan pujian harmonis menggunakan alat musik okulele. Tidak kalah memukau, tarian kolosal dari Klasis TTU yang melibatkan 72 peserta sukses menghibur seluruh tamu undangan dan ribuan peserta jambore yang memadati lokasi acara.

Selama lima hari pelaksanaan, para peserta akan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan edukatif dan rekreatif. Agenda tersebut meliputi ibadah bersama, talkshow, pentas seni, diskusi mengenai pelayanan PAR, serta kegiatan wisata. Selain itu, digelar pula semiloka Gereja Ramah Anak yang secara khusus membedah isu-isu aktual seputar dunia anak, seperti perlindungan anak, kesehatan mental, hingga edukasi bijak bermedia sosial untuk mengantisipasi ancaman judi online dan aplikasi prostitusi daring (MiChat). *