//GMIT Gelar Camp Pria Bangkit Kaum Bapak di Soe, Fokus Pada Masalah HIV/AIDS, Stunting, dan Ketahanan Pangan

GMIT Gelar Camp Pria Bangkit Kaum Bapak di Soe, Fokus Pada Masalah HIV/AIDS, Stunting, dan Ketahanan Pangan

SOE-TTS,www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menyelenggarakan kegiatan Camp Pria Bangkit Kaum Bapak Sinode GMIT bertempat di Jemaat Batu Karang Nonohonis, Klasis Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai Rabu (27/5/2026) hingga Sabtu (30/5/2026) ini, memfokuskan pembahasannya pada penguatan peran strategis kaum bapak dalam menyikapi berbagai krisis sosial di wilayah TTS, seperti lonjakan kasus HIV/AIDS, stunting, kekerasan domestik, serta penguatan sektor ketahanan pangan.

Pembukaan camp ditandai secara resmi dengan pemukulan gong oleh Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur. Kebaktian pembukaan dipimpin oleh Pdt. Melgiani Suky selaku liturgos dan Pdt. Yandy Manobe sebagai pengkhotbah.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel B. Pandie, Wakil Bupati TTS Johny Army Konay, Ketua DPRD Provinsi NTT Ir. Emelia Nomleni, Ketua DPRD TTS Mordekai Liu, dan Ketua Forum Komunikasi Pria/Kaum Bapa Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (FK PKB PGI) Olly Dondokambey. Turut hadir pula para pendeta GMIT, anggota DPRD Kabupaten TTS, perwakilan Kapolres TTS, Ketua Majelis Klasis (KMK) Soe, KMK Amanatun Timur, serta jemaat setempat.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari 57 Klasis di wilayah pelayanan GMIT, dengan utusan masing-masing klasis sebanyak 2 orang. Secara keseluruhan, total peserta yang hadir dalam kegiatan ini berjumlah 104 orang.

Dalam suara gembalanya, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, memaparkan sejumlah persoalan mendesak yang tengah dihadapi oleh masyarakat saat ini. Isu-isu tersebut meliputi tingginya angka tengkes (stunting), kemiskinan ekstrem, persoalan buruh migran, keterbatasan fasilitas pendidikan, masalah kesehatan, hingga ketahanan pangan.

Secara spesifik, Pdt. Semuel memberikan perhatian serius pada dinamika kasus kesehatan dan sosial di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Berdasarkan data periode tahun 2023–2025, Kabupaten TTS telah masuk ke dalam kategori zona merah akibat lonjakan kasus HIV/AIDS. Selain itu, peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di wilayah tersebut turut diidentifikasi sebagai tantangan besar dalam pelayanan gereja masa kini.

Menyikapi tantangan tersebut, Pdt. Semuel mendorong kaum bapak untuk menjadi teladan dan motor penggerak perubahan.

“Kaum bapak diharapkan mampu menjadi cahaya dalam rumah tangga, rajin beribadah, melaksanakan misi penginjilan, serta aktif dalam pembangunan gereja dan sekolah-sekolah GMIT. Model pendampingan ini akan dipikirkan secara serius guna mempertajam peran kaum bapak di lingkungan keluarga, gereja, maupun masyarakat,” kata Pdt. Semuel.

Pada kesempatan yang sama, Ketua FK PKB PGI, Olly Dondokambey, mengimbau seluruh elemen gereja untuk membangun kemandirian, khususnya di sektor ketahanan pangan. Hal ini disampaikan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak perubahan iklim yang memicu ketidakpastian cuaca, serta dinamika situasi geopolitik dunia saat ini. Olly menegaskan agar jemaat segera mempersiapkan diri dengan menjaga sektor ketahanan pangan secara kuat guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dukungan terhadap kegiatan ini juga dinyatakan oleh Pemerintah Kabupaten TTS. Wakil Bupati TTS, Johny Army Konay, menyatakan dukungan penuh pemerintah daerah demi kesuksesan acara tersebut. Ia berharap pengalaman dari kaum bapak dapat saling dibagikan dalam kegiatan ini, sehingga ketika kembali ke jemaat masing-masing, para peserta dapat langsung menerapkannya.

Guna mencapai tujuan program, panitia menyelenggarakan sesi Sharing Pelayanan Bersama antara Ketua FK PKB PGI dan Ketua Majelis Sinode GMIT.

Kurikulum materi pembekalan yang diberikan kepada peserta meliputi: Kepemimpinan Pria; Iman dan Karakter; Keluarga dan Pernikahan; Spiritualitas Pria; Pria dan Masyarakat; serta Mengatasi Tantangan dan Membangun Komunitas.

Selain menerima pembekalan materi teologis dan sosiologis tersebut, para peserta camp juga mendapatkan program pelatihan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai upaya nyata dalam mendorong pemberdayaan ekonomi jemaat.*