//Allah Tritunggal Sebagai Dasar dan Pola Hidup Orang Percaya ( Korintus 13:11-13) – Pdt. Gusti Menoh

Allah Tritunggal Sebagai Dasar dan Pola Hidup Orang Percaya ( Korintus 13:11-13) – Pdt. Gusti Menoh

Pengantar

Doktrin Tritunggal (Trinity) bukan hanya merupakan salah satu ajaran dalam kekristenan. Justru doktrin tritunggal adalah jantung iman Kristen – tempat doktrin lain bertemu: penciptaan, keselamatan, gereja, etika, dan eskatologi. Lebih jauh, doktrin tritunggal adalah menyangkut siapa Allah yang diimani umat Kristen. Dengan doktrin Tritunggal, Allah dalam kekristenan tidak begitu saja disamakan (berbeda) dengan konsepsi Tuhan dalam kepercayaan yang lain. Betapa penting dan mendasarnya doktrin tritunggal, sehingga para teolog berpendapat bahwa jika doktrin Allah Tritunggal disalahpahami, maka hampir seluruh bangunan iman Kristen runtuh.

Namun doktrin Tritunggal tidak mudah dipahami. Itulah sebabnya seringkali ia diabaikan dalam khotbah-khotbah mimbar maupun dalam diskusi akademik. Banyak orang tidak mau menelaahnya, atau sengaja mengabaikannya, padahal doktrin ini adalah pokok iman Kristen. Masalah lain adalah bahwa doktrin Allah Tritunggal seringkali disalahpahami. Dalam sejarah gereja, ada banyak ajaran bidat yang menyalahpahami doktrin Allah Tritunggal. Ada tiga bidat yang dominan.

Pertama adalah Modalisme (Sabelianisme). Paham dicetuskan oleh Sabellius (abad ke-3 M) yang berpendapat bahwa bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus hanyalah tiga “wujud” dari satu Allah yang sama, seperti seorang ayah yang memiliki tiga peran berbeda: di rumah sebagai ayah, di tempat kerja sebagai kepala sekolah, dan di masyarakat sebagai ketua RT. Menurut Sabelius, Allah tidak benar-benar tiga pribadi yang berbeda, tetapi hanya satu pribadi yang menampilkan diri-Nya dalam tiga cara. Ini adalah salah satu ajaran bidat yang bertentangan dengan seluruh makna inkarnasi dan karya penebusan.

Kesalahan kedua adalah Arianisme. Arius (abad ke-3-4 M) berpendapat bahwa anak (Yesus) adalah makhluk ciptaan yang sangat tinggi dan mulia, namun Ia bukan Allah sejati. Problem dari ajaran bidat ini adalah: bila Yesus bukan Allah sejati maka penebusan kita pun tidak sempurna. Kesalahan ketiga adalah pandangan Triteis. Dalam paham ini, Allah Tritunggal dipahami sebagai tiga Allah yang terpisah. Ini tentu bertentangan dengan keesaan Allah.

Sejak awal gereja menolak semua kesalahpahaman tersebut. Melalui Konsili Nicea (325 M) dan Konsili Konstantinopel (381 M), gereja mengimani bahwa Allah adalah satu dalam esensi (ousia), tetapi tiga dalam Pribadi yang berbeda (hypostasis) — Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiga Pribadi ini bukan tiga Allah, bukan pula tiga wajah dari satu Allah, melainkan tiga Pribadi yang saling mengasihi dalam satu keesaan Ilahi yang sempurna.

Kesulitan memahami doktrin Trinitas terjadi bukan hanya karena memang Allah adalah misteri yang tidak pernah dipahami sepenuhnya, tetapi teks-teks Alkitab pun tidak eksplisit merumuskannya, termasuk bacaan dalam 2 Korintus tadi. Walaupun demikian, bacaan ini adalah satu teks dalam Perjanjian Baru yang secara implisit mengandaikan Allah Tritunggal tersebut.  

Penjelasan Teks

Jemaat Korintus adalah buah pelayanan Paulus. Paulus sendiri pernah tinggal di kota itu selama 18 bulan untuk melayani mereka. Karena itu, relasinya dengan jemaat sangat dekat. Tidak heran ketika mereka salah, Paulus menegur mereka secara terang-terangan. Surat 2 Korintus adalah salah satu surat Paulus yang paling personal dan penuh emosi. Persoalannya karena jemaat ini tidak mudah dibina.

Tak dapat disangkal bahwa Korintus adalah jemaat yang luar biasa secara karismatik. Mereka memiliki karunia bahasa roh, nubuat, pengetahuan, hikmat, dan kekayaan berlimpah. Tetapi mereka juga adalah jemaat yang persekutuannya paling hancur. Mereka terpecah ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan rasul idola — “aku dari golongan Paulus,” “aku dari golongan Apolos,” “aku dari golongan Kefas”, bahkan ada yang menyebut diri “golongan Kristus” (1 Kor 1:12). Ada ketidakadilan sosial yang memalukan dalam perjamuan Tuhan, di mana orang yang kaya makan dengan berlimpah sementara yang miskin kelaparan (1 Kor 11:21). Ada kesombongan spiritual di mana mereka menjadikan karunia Roh sebagai alat persaingan, bukan alat pelayanan.

Ketika Paulus menutup suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus, ia menulis dari posisi yang sangat menyakitkan. Seluruh pasal 10 hingga 13 adalah pembelaan yang emosional – seorang bapa rohani yang merasa ditolak, diragukan, bahkan dikhianati oleh anak-anak rohaninya sendiri. Para ahli menyebut ini sebagai “surat air mata” di mana Paulus membela dirinya dengan sangat keras, bahkan dengan ironi yang menyengat: ia “memegahkan” kelemahannya, bukan kekuatannya. Setelah semua itu, pasal 13 diakhiri dengan seruan yang intens: Paulus sedang bersiap untuk datang ketiga kalinya, dan ia ingin jemaat sungguh-sungguh berbenah.

Dalam pasal 13:1-10, Paulus menunjukkan bahwa Kristus sendiri kelihatan lemah di kayu salib namun Ia tetap berkuasa oleh kekuatan Allah. Karena itu, jemaat diingatkan untuk menguji diri: apakah Kristus sungguh-sungguh ada di dalam mereka? Pertanyaan ini dimaksudkan untuk menyadarkan mereka agar merendahkan diri dan mau memperbaiki persekutuan. Lalu ayat 11-13 adalah berkat penutup yang isinya adalah intisari teologis dari seluruh isi surat Korintus dan panggilan hidup jemaat.  

Sebelum berkat Tritunggal dinyatakan, Paulus memberikan sejumlah perintah yang sangat padat: bersukacitalah, jadilah sempurna, sehati sepikir, hiduplah dalam damai, dan saling bersalaman dengan bercium-ciuman. Nasihat-sasihat ini bukan sebagai daftar tugas moral yang harus dicapai melalui usaha manusia, melainkan sebagai gambaran dari komunitas yang hidupnya dibentuk oleh Allah Tritunggal. Ini adalah gambaran tentang apa yang terjadi ketika kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus benar-benar menjadi fondasi hidup umat.

Pertama, bersukacitalah. Bersukacita bukan karena jemaat dalam keadaan baik, tanpa konflik, melainkan karena Kristus sebagai sumber sukacita menguasai hati mereka. Kedua, “Usahakanlah dirimu supaya sempurna” (katartizesthe). Kata katartizo ini digunakan untuk memperbaiki jala yang robek (Mat 4:21) dan memulihkan saudara yang jatuh (Gal 6:1). Komunitas Korintus yang terpecah adalah seperti jala yang robek, dan Paulus berkata: biarkan dirimu diperbaiki. Ada Tukang yang sedang bekerja memulihkan apa yang rusak. Ini adalah undangan untuk membiarkan diri dipulihkan, oleh Allah melalui komunitas.

Ketiga,sehati sepikir. Ini bukan berarti menyeragamkan pola pikir. Ini adalah seruan untuk mengarahkan hati dan pikiran kepada pusat yang sama, yaitu kepada Kristus sebagai titik acuan bersama. Artinya masing-masing tidak perlu kehilangan pandangan uniknya, tetapi harus berusaha diarahkan kepada Kristus yang menghidupi semua. Keempat, hiduplah dalam damai. Eirēnē adalah padanan Yunani dari shalom Ibrani yakni keutuhan, kepenuhan, keteraturan relasional yang mencerminkan niat penciptaan Allah. Dan janji yang mengikutinya — “Allah sumber kasih dan damai akan menyertai kamu” — mengungkapkan bahwa damai ini bukan prestasi manusia. Ini adalah kehadiran Allah itu sendiri yang dialami dalam komunitas iman.

Kelima, bersalam-salaman seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Dalam konteks Korintus yang terpecah, perintah ini adalahtindakan simbolik rekonsiliasi yang konkret. Di sini Paulus tidak hanya mengajarkan rekonsiliasi secara verbal melalui kata-kata, tetapi juga menuntut ekspresi tubuh (embodied reconciliation). Dalam dunia Mediterania kuno, cium di antara orang-orang yang berselisih adalah tanda perdamaian yang konkret dan publik. Itulah sebabnya Paulus meminta mereka untuk mewujudkan rekonsiliasi dalam gestur tubuh yang tidak bisa disembunyikan.

Pada akhinya dalam ayat 13, paulus mengucapkan berkat Allah Tritunggal bagi jemaat demikian: Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan roh Kudus menyertai kamu. Di sini ketiga pribadi Allah Tritunggal disebutkan. Menarik bahwa Paulus memulai berkatnya dengan kasih karunia Kristus, bukan dengan kasih Allah Bapa, sebagaimana lazimnya dalam injil.Ini bukan kebetulan. Paulus berteologi dari bawah: jemaat Korintus pertama kali mengenal Allah melalui Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang Yunani, bukan orang Yahudi yang sudah mengenal Allah Perjanjian Lama. Di sini Tritunggal dikenal dari bawah, bukan dari atas. Lalu Paulus menggunakan kata Charis — kasih karunia, yang dalam TB 2 (Terjemahan Baru) Alkitab menggunakan kata Anugerah. Bagi Paulus, kata Charis menggambarkan tindakan penyelamatan Allah yang tidak layak diterima manusia.  Kasih karunia adalah tindakan Allah yang memberikan apa yang tidak layak kita terima. Dalam Yesus Kristus, kasih karunia itu menjadi daging — ia masuk ke dalam kelemahan kita, menanggung dosa kita, dan bangkit untuk pembenaran kita. Kasih karunia bukan sekadar sikap baik hati Allah; ia adalah tindakan penyelamatan yang nyata dalam sejarah.

Lalu kasih Allah (agape). Di sini kata “Allah” (ho Theos) dalam konteks Perjanjian Baru, terkhusus dalam surat-surat Paulus, hampir selalu merujuk kepada Allah Bapa. Jadi ini adalah kasih Allah Bapa yang menjadi sumber dari segalanya. Agape — kasih ilahi yang tanpa syarat. Bukan kasih yang mencari keuntungan diri sendiri, melainkan kasih yang memberikan diri sepenuhnya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh. 3:16). Kasih Bapa adalah sumber dari mana kasih karunia Anak mengalir — keduanya tidak bisa dipisahkan.

Akhirnya, “Persekutuan (koinonia) Roh Kudus”. Koinonia adalah kata yang kaya makna: persekutuan, partisipasi, berbagi bersama, komunitas. Roh Kudus bukan hanya “tenaga” atau “kuasa” yang Allah kirimkan dari jauh. Roh Kudus adalah Pribadi ilahi yang menciptakan persekutuan — baik antara kita dengan Allah, maupun antara kita dengan sesama.

            Dengan demikian, ketiga pribadi Tritunggal disebutkan secara berurutan. Ini bukan formula liturgis semata, melainkan ungkapan teologis yang muncul secara organik dari pengalaman iman Paulus dan jemaat mula-mula mengenai Allah. Walau pun demikian, ungkapan Paulus ini tidak memadai sebagai rumusan teologis mengenai Allah tritunggal. Doktrin Tritunggal baru dirumuskan oleh gereja pada abad ke-3-4, dan menjadi diskursus teologi sepanjang sejarah. John de Gruchy, salah satu teolog Afrika selatan abad ke-20-21 membicarakan doktrin tersebut dan menarik implikasinya bagi kehidupan manusia di dunia ini.

Memahami Doktrin Allah Tritunggal Bersama John de Gruchy

De Gruchy memulai refleksinya dengan menekankan bahwa doktrin Allah Tritunggal bukanlah spekulasi metafisis abstrak yang terpisah dari realitas sosial manusia. Ia mengkritik kecenderungan tradisi Barat yang memahami Tritunggal terutama dalam kategori ontologis dan substansial, sehingga doktrin tersebut kehilangan relevansi sosial-politiknya. Dengan kata lain, De Gruchy menolak kecenderungan teologi Barat yang memisahkan doktrin dari realitas hidup. Baginya, berbicara tentang Tritunggal bukan berarti masuk ke wilayah abstrak, melainkan berbicara tentang struktur realitas itu sendiri, yakni bagaimana Allah ada, dan karena itu, bagaimana manusia seharusnya ada.

De Gruchy mewarisi tradisi yang berakar dari Kappadokia (Basil, Gregorius Nazianzus, Gregorius Nyssa) yang menegaskan bahwa: Ousia (esensi) itu Allah satu, tetapi hypostasis (person/subsistensi) tiga — dan ketiganya tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan ada di dalam satu sama lain. Ini bukan sekadar formula dogmatik. Ini adalah pernyataan ontologis: bahwa ada (being) yang paling murni bukanlah kesendirian (solitude), melainkan relasi. De Gruchy mengikuti teologi Trinitarian kontemporer, khususnya Jürgen Moltmann dan Leonardo Boff yang memahami Tritunggal sebagai komunitas relasional kasih. Dalam kehidupan Allah sendiri terdapat persekutuan timbal balik antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Relasi ini bukan relasi dominasi, subordinasi, ataupun kompetisi kuasa, melainkan relasi saling memberi diri (mutual self-giving).

Dengan kata lain, kehidupan ilahi itu sendiri adalah kehidupan dalam perichoresis: saling melingkupi,  dan berdiam satu sama lain. Dari bahasa Yunani, kata Perichoresis berarti “saling meresapi,” “saling memberi ruang,” “saling berdiam satu di dalam yang lain” kehidupan batin Allah Tritunggal. Bapa ada di dalam Anak. Anak ada di dalam Bapa. Roh hadir dalam dan melalui keduanya. Ini adalah suatu kehidupan ilahi yang dihidupi dalam tiga cara keberadaan yang saling meresapi secara penuh dan sempurna. Dalam perikoresis, ketiga pribadi Tritunggal saling meresapi (mutual indwelling) tanpa melebur menjadi satu, dan juga tidak terpisahkan sama sekali – ketiganya tidak berdiri sendiri-sendiri secara otonom.

Bagi de Gruchy, doktrin Allah Tritunggal memiliki implikasi antropologis yang sangat mendasar. Jika manusia diciptakan menurut gambar Allah (imago Dei), maka manusia pada hakikatnya adalah makhluk relasional. Dengan demikian, identitas manusia tidak dapat dipahami secara individualistik. Manusia tidak menjadi manusia melalui isolasi diri, melainkan melalui keterlibatan dalam relasi yang hidup dengan Allah dan sesama manusia. Di sinilah de Gruchy mulai mengembangkan konsep sosialitas manusia, yakni bahwa keberadaan manusia bersifat sosial secara inheren karena mencerminkan kehidupan Allah Tritunggal sendiri.

Dalam hal ini, kehidupan Tritunggal menjadi paradigma bagi kehidupan sosial manusia. Sebagaimana Bapa, Anak, dan Roh Kudus hidup dalam relasi yang saling menghidupi tanpa kehilangan identitas masing-masing, demikian pula manusia dipanggil hidup dalam komunitas yang menghormati perbedaan sekaligus membangun solidaritas. Lebih jauh, karena Allah Kristen adalah Allah Tritunggal (Bapa, Anak, Roh Kudus) yang hidup dalam relasi kasih, maka manusia yang diciptakan menurut gambar Allah (imago Dei) juga adalah makhluk relasional. Oleh sebab itu, masyarakat manusia yang benar harus dibangun atas dasar martabat, partisipasi, kebebasan, tanggung jawab, dan kasih—bukan dominasi atau penindasan.

Implikasi Doktrin Tritunggal bagi pola hidup Persekutuan orang percaya

Pertama, AllahTritunggal mengundang kita ke dalam Relasi

Jika Allah kita adalah persekutuan tiga Pribadi, maka  sudah semestinya kita mau hidup dalam relasi yang baik dengan Allah yang hidup, yakni dengan Bapa yang penuh kasih, Anak sang juruslamat, Roh yang menyertai. Iman bukan hanya soal kepercayaan (believe), tetapi juga partisipasi dalam kehidupan ilahi.

Kedua, kita dipanggil untuk menjadi gambar Tritunggal

Ketika Allah Tritunggal memperlihatkan perikoresis (saling melingkupi, saling meresapi, saling memberi ruang, saling mendukung),  maka kita pun dipanggil untuk hidup dengan pola yang sama. Kita mesti saling menopang, saling bergandengan tangan, bukan saling meniadakan. Perbedaan diantara kita bukanlah alasan untuk saling bermusuhan, melainkan kekayaan yang saling melengkapi. Kita dapat berjalan bersama walaupun kita berbeda dalam banyak aspek (budaya, suku, agama, kelas sosial, jenis kelamin, dll). 

Ketiga, hidup dalam persekutuan sebagai tanda kehadiran Roh.

Kita dipanggil untuk membangun persekutuan, merawat persekutuan, dan menjaganya agar dunia menyaksikan kehadiran Roh di dalamnya.  Roh menciptakan persekutuan yang terwujud dalam tindakan nyata: mengunjungi yang sakit, menanggung beban satu sama lain, berbagi sumber daya, saling mengampuni, dan bersama-sama bersaksi di tengah dunia.

Penutup

Doktrin Allah Tritunggal adalah ajaran yang sangat sulit. Bahkan kalau pun ia dirumuskan, tentu tidak sepenuhnya merepresentasikan keberadaan Allah. Penjelasan sejauh ini mengenai Allah Tritunggal adalah bahwa: apa yang menyatukan adalah substansi, dan apa yang membedakan adalah pribadinya. Ketiga pribadi Allah Tritunggal itu terpilah tetapi tidak terbagi dan berbeda namun tidak terpisah satu sama yang lain. Walau pun demikian, segala kerumitan itu tidak menggagalkan berkat Allah Tritunggal yang selalu kita harapkan.

Ucapan berkat Tritunggal di akhir ibadah: “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” bukan sekedar formulasi liturgis. Ketika berkat Allah Tritunggal dinyatakan, ada sebuah kebenaran yang kita amini: bahwa Allah yang hidup telah memilih untuk menyertai kita, tinggal di antara kita, dan membentuk kita menjadi gambar-Nya di dunia ini. Maka ketika kita pulang dengan berkat Allah Tritunggal, kita pergi dengan komitmen bahwa hidup kita, hubungan kita dengan sesama, cara kita memperlakukan satu sama lain, akan menjadi “khotbah hidup” tentang Allah Tritunggal. Bahwa kasih karunia Kristus akan nyata dalam cara kita mengampuni sesama. Bahwa kasih Bapa akan nyata dalam cara kita mengasihi yang lain. Dan bahwa koinonia Roh akan nyata dalam relasi kita yang hangat, tulus, dan konkret di mana pun kita berada. Amin.