
Foto: Lukman S. Bahan
Amanuban Selatan, TTS,www.sinodegmit.or.id, — Klasis Amanuban Selatan menyelenggarakan kegiatan Camp Pemuda yang bertempat di Jemaat Emaus Manufunu. Kegiatan yang mengusung tema “Youth for Earth: Menjadi Tangan Tuhan yang Menyembuhkan” (Mazmur 37:23-27) ini berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 7–9 Juli 2026. Momentum ini dirancang sebagai wadah bagi generasi muda untuk mempererat persekutuan, mendalami spiritualitas, sekaligus melakukan aksi nyata terhadap lingkungan hidup.
Acara ini dihadiri oleh Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Semuel B. Pandie, Ketua Majelis Klasis Amanuban Selatan, Pdt. Yorim Y. Kause. Turut hadir pula Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Yoksan Benu, para pendeta se-Klasis Amanuban Selatan, serta ratusan peserta yang merupakan utusan dari 35 jemaat di wilayah pelayanan tersebut.
Dalam Suara Gembalanya, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, menekankan bahwa esensi dari camp pemuda ini merupakan sebuah manifestasi dari teologi eksodus. Ia menganalogikannya dengan kisah Nabi Musa yang diutus Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian.
Menurut Pdt. Semuel, kaum muda masa kini juga memiliki panggilan serupa, yakni harus berani keluar dari zona nyaman demi meningkatkan kapasitas diri.
“Melalui momentum camp ini, pemuda diajak untuk melihat dan mengalami hal-hal baru yang mendewasakan iman serta wawasan. Proses ‘keluar’ ini menjadi sangat penting agar pemuda dapat terus belajar, meningkatkan keterampilan, serta memperluas kapasitas diri,” ujar Pdt. Semuel.
Ia menambahkan, transformasi tersebut sangat dibutuhkan agar generasi muda tidak hanya siap menghadapi tantangan perubahan zaman yang dinamis, tetapi juga mengalami pertumbuhan rohani dan karakter yang berintegritas.
Ibadah pembukaan kegiatan dipimpin oleh Pdt. Lukman S. Bahan dengan mendasarkan khotbahnya pada kitab suci Yehezkiel 37:23-27. Dalam refleksinya, ia menggarisbawahi bahwa dinamika kehidupan di gereja tidak luput dari berbagai persoalan, sehingga pengelolaan emosi dan spiritualitas yang matang menjadi kunci utama penyelesaian masalah.
Pdt. Lukman merumuskan empat poin penting yang wajib diaplikasikan oleh setiap peserta camp: Menimba hal-hal positif selama kegiatan untuk kemudian dibagikan sebagai berkat di jemaat asal, bukan sekadar ikut meramaikan acara; Mengontrol nafsu negatif menggunakan nalar yang sehat agar tidak merugikan orang lain; Mengarahkan logika berpikir melalui naluri dan hati nurani yang berserah penuh pada tuntunan Tuhan; Berkomitmen secara total untuk menjadi saluran berkat yang berdampak nyata bagi sesama manusia.

Sebagai bentuk implementasi konkret dari tema “Youth Earth”, rangkaian kegiatan tidak hanya diisi dengan diskusi alkitabiah, ibadah, dan games outbound, melainkan juga aksi pelestarian lingkungan. Seusai ibadah pembukaan, seluruh peserta dan undangan melakukan penanaman anakan pohon di sekitar area kegiatan. Jenis pohon yang ditanam meliputi bibit pohon asam, pinang, mangga, hingga jambu.
Aksi ini mendapat respons positif dari para peserta. Vhan Puay, salah satu peserta camp, menyatakan rasa syukurnya atas konsep kegiatan yang memadukan penguatan iman dan kepedulian ekologis ini.
“Kami bersyukur dengan adanya kegiatan camp ini, berjalan sesuai tema camp dan menanam anakan pohon. Ini bagian dari pemuda menjaga dan merawat alam,” ungkap Vhan.
Melalui kegiatan ini, pemuda Klasis Amanuban Selatan diharapkan mampu membawa dampak transformatif secara spiritual sekaligus menjadi agen pemulihan bagi lingkungan sekitarnya.*











