
Pengantar
Pada prinsipnya pendidikan merupakan urusan banyak pihak dengan peran masing-masing. Sejak konsep “tabularasa” diperkenalkan John Locke (1690) kajian-kajian tentang anak dan lingkungan social mulai berkembang. Konsep ini menegaskan bahwa seoang anak dilahirkan seperti kertas putih kosong. Isinya nanti ditentukan oleh pengalaman bersama lingkungan sekitar. Lev Vygotsky, seorang psikolog perkembangan anak asal Rusia perkenalkan konsep zone of proximal development (ZPD). Penekanan konsep ini ada pada keyakinan akan pentingnya pengaruh sosial, terutama pengaruh instruksi atau pengajaran terhadap perkembangan kognitif anak. Untuk menawarkan pendekatan yang beda dari Piaget yang terlebih dahulu tekankan tentang kemampuan individu. Ada juga Urie Bronfenbrenner yang perkenalkan Teori Ekologi, yang pada prinsipnya tekankan tentang lingkungan sekitar anak-anak yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Dan banyak teori lainnya.
Poin dari semua itu adalah bahwa bicara tentang perkembangan kognitif dan emosional anak, tanggungjawabnya tidak hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan formal semata, melainkan setiap pihak yang berinteraksi secara terus-menerus dengan anak-anak harus juga mengambil tanggungjawab yang sama untuk meletakkan fondasi kokoh bagi seorang anak sebagai warisan berharga. Termasuk didalamnya peran orangtua dan keluarga.
Pendalaman Teks
Bacaan ini masih bicara tentang kehidupan dan perjalanan umat Israel menuju Kanaan. Bahkan bagian ini merupakan bagian dari akhir perjalanan mereka menuju Kanaan. Artinya bayang-bayang Kanaan sudah ada di hadapan mereka. Mereka telah lalui jalan yang tidak mudah. Padang gurun mereka harus lalui sebagai gambaran perjalanan yang tidak mudah menuju Kanaan. Namun di atas semua itu, Penyertaan Allah sepanjang jalan mereka juga menjadi suatu warisan iman yang mesti terpelihara dari generasi ke generasi, dan menjadi pembentuk jati diri sebagai umat Allah.
Karena itu, di titik akhir perjalanan mereka, Allah memberi pesan kepada mereka.
1. Dengarlah orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan Allahmu … (ay.4,5).
Bagian ini merupakan pengakuan iman orang Israel. Sebagai bangsa yang dibebaskan dari perbudakan di Mesir, dan dituntun oleh Allah sepanjang perjalanan menuju Kanaan, mestinya semakin mengokohkan keyakinan dan pengenalan mereka akan siapa Allah bagi mereka. Ini merupakan pengumuman sekaligus peringatan kepada orang Israel bahwa perjalanan mereka sudah hampir sampai Kanaan, tetapi mereka harus tetap ingat bahwa kenyamanan yang mereka peroleh di Kanaan tidak boleh membuat mereka melupakan penyembahan, dan rasa takut mereka kepada Allah yang bebaskan dan menuntun perjalanan mereka. Kanaan adalah tanah yang penuh susu dan madu, tapi jangan kemudian susu dan madu membutakan iman mereka. Jangan karena terlalu senang lalu lupa Tuhan. Ini sebuah peringatan yang gema nya sampai kita hari ini. Allah peringatkan Israel karena memang tabiat manusia begitu. Kalau sudah sampai pada posisi nyaman, su rasa enak biasanya jadi lupa diri, dan lupa Tuhan. Kenyamanan selalu membuat kita rasa dapat atasi semuanya karena itu lupa Tuhan yang beri kita kesempatan untuk itu. Pengalaman kita bersama Allah mesti menjadikan kita semakin kokoh menyembah dan mengandalkan Tuhan. Hanya Dialah satu-satunya. Bukan yang lain. Yang tergambar lewat totalitas kehidupan mereka.
2. Apa yang kuperintahkan … (ay. 6,7).
Persoalan mengingat kasih dan penyertaan Allah, dan menjadi pengakuan iman bagi Israel harus menjadi warisan pelajaran iman, tidak hanya bagi generasi mereka, melainkan juga bagi generasi selanjutnya. Ingatan kita terbatas jadi kalau tidak terus-terus diingatkan, diajarkan, dan diwariskan, maka bisa cepat lupa. Karena menurut penelitian dari Salk Institute kapasitas otak kita 1 petabyte (1 juta GB). Karena itu, bagi Israel yang akan memasuki Kanaan, pengalaman mereka bersama Allah mestinya menjadi cerita yang terus hidup ke generasi selanjutnya supaya meskipun pengalaman padang gurun tidak mereka rasakan, tetapi mereka bangga dan menaruh hormat serta rasa takut kepada Allah. Supaya nilai-nilai iman yang ada tidak luntur seiring pergantian generasi. Generasi boleh berganti, tetapi iman dan penyembahan kepada Allah tidak pernah tergantikan oleh apapun. Ini merupakan hal yang menarik. Banyak hal yang musnah karena pergantian generasi. Keluhuran nilai-nilai iman, budaya, kearifan-kearifan lokal, banyak yang hilang seiring pergantian generasi karena kita tidak pernah melihat itu sebagai kekayaan yang harus diwariskan. Kita tidak pernah melihat itu sebagai kewajiban. Bagaimana itu harus diajarkan?
3. Ajarkanlah dan tunjukkanlah nilai warisan iman itu menjadi warisan iman yang tetap membentuk jati diri mereka (ay. 8,9).
Mungkin kita tidak pandai mengajar, tidak pandai bertutur. Kepada orang Israel Allah pesankan kepada mereka bahwa pengajaran mereka mesti meliputi segenap hidup mereka. Kedua ayat ini memberi gambaran bahwa totalitas hidup kita mesti menjadi media belajar bagi anak-anak. Cara kita bertutur, bekerja, berpikir, dan berperilaku harus dilihat sebagai media belajar, lewat mana anak-anak belajar dan bertumbuh dengan baik. Hal ini menarik karena kita ingat bahwa 83% orang belajar dari meniru, bukan mendengar. Artinya menjadi panutan jauh lebih baik dari pada mengajar lewat kata-kata. Ada orang yang nama John Westerhoff, seorang ahli pendidikan Kristen, dia tulis buku dengan judul will our children have faith,dia bilang begini: iman tidak bisa diwariskan begitu saja. Iman itu harus disharingkan dan dipraktekkan. Kas tunjuapa yang orangtua mau kepada mereka. Jangan omong saja. Karena 83% manusia belajar itu dari apa yang dilihat. Hanya 11% saja dari apa yang didengar. Dan 90% anak-anak ingat apa yang didengar dan dilihat. Dan dia bilang, orangtua wariskan dua hal penting, yakni akar yang kuat untuk tetap kokoh apapun tantangan yang dihadapi, dan sayap untuk terbang tinggi. Amin.











