//Bangkitkan Musik Gerejawi, Sinode GMIT Gelar ‘Simfoni Persaudaraan 2026’

Bangkitkan Musik Gerejawi, Sinode GMIT Gelar ‘Simfoni Persaudaraan 2026’

KUPANG,www.sinodegmit.or.id,  – Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) resmi mengumumkan penyelenggaraan Lomba Paduan Suara dan Simposium Musik Gereja bertajuk “Simfoni Persaudaraan GMIT 2026”. Hal ini disampaikan melalui konfrensi pers di GMIT Center Kupang, pada Selasa 14 Juli 2026.  

Ajang akbar ini dijadwalkan berlangsung pada bulan 6-9 Oktober mendatang dan dipusatkan di GMIT Center, Kota Kupang. Mengusung tema “Menyanyikan Kasih Setia Tuhan pada Segala Waktu”, kegiatan ini dirancang sebagai momentum konkret untuk membangkitkan, memulihkan, dan meningkatkan kualitas pelayanan musik gerejawi di seluruh wilayah pelayanan GMIT.

Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, menegaskan pentingnya musik dalam kehidupan bergereja. Menurutnya, gereja menyadari benar bahwa gereja hidup karena nyanyian yang telah menjadi ciri khasnya.

“Keterlibatan jemaat serta klasis dalam kegiatan ini bertujuan untuk peningkatan kualitas nyanyian gereja, tetapi juga dalam kaitan dengan gereja menemukan bakat-bakat baru yang bisa memberi dampak bagi pelayanan terutama nyanyian di dalam gereja,” ujar Pdt. Semuel.

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Simfoni Persaudaraan GMIT 2026, Jeffry Eduard Pelt, SH, mengharapkan komitmen penuh dari seluruh elemen jemaat.

“Kegiatan ini bertujuan untuk membangkitkan dan mengembangkan nyanyian di gereja. Oleh karena itu, dukungan serta partisipasi aktif dari seluruh klasis dan jemaat sangat diharapkan dalam perlombaan yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober mendatang,” pungkas Jeffry.

Sejak berdiri pada tahun 1947, paduan suara telah menjadi warisan rohani yang mengakar kuat dalam tradisi liturgi GMIT. Namun, di tengah modernisasi, kesibukan hidup, dan perubahan pola pelayanan, aktivitas paduan suara di berbagai jemaat saat ini menghadapi tantangan penurunan keaktifan.

“Simfoni Persaudaraan GMIT 2026” hadir sebagai wadah perjumpaan bagi jemaat dari 57 klasis yang memiliki keragaman latar belakang budaya dan generasi. Melalui media musik gerejawi, ajang ini ditujukan untuk mempererat hubungan persaudaraan, memperkuat identitas kelembagaan GMIT, serta menghidupkan kembali roh kedisiplinan dan kreativitas agar tradisi paduan suara tetap aktif mengisi liturgi ibadah.

Perlombaan utama dalam ajang ini difokuskan pada kategori Paduan Suara Campuran (Mix Choir) dengan ketentuan teknis yang ketat guna memastikan mutu pelayanan yang unggul. Setiap kelompok peserta wajib terdiri dari 25 hingga 30 orang penyanyi dengan batas usia minimal 17 tahun, di luar dirigen dan pemain musik.

Untuk menjamin objektivitas, penilaian menggunakan standar Musica Mundi yang dinilai oleh tiga dewan juri dari kalangan akademisi dan praktisi musik nasional. Indikator penilaian meliputi Intonation (intonasi), Sound Quality (kualitas vokal), Fidelity to the Score (kesesuaian partitur), dan Overall Artistic Impression (kesan artistik keseluruhan).

Selain lomba, ruang edukasi teologis juga dihadirkan melalui Simposium “Kontekstualisasi Musik dalam Ibadah” pada 9 Oktober. *