//Berdampak Bagi Bangsa: Menolak Hoax, Suap, Ketidakadilan, Dan Diskriminasi (Keluaran 23:1-13) – Pdt. Adi Amtaran

Berdampak Bagi Bangsa: Menolak Hoax, Suap, Ketidakadilan, Dan Diskriminasi (Keluaran 23:1-13) – Pdt. Adi Amtaran

Perayaan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus 2026 kali ini sebagai perayaan yang sederhana wujud solidaritas bagi saudara-saudari yang ada di Flores yang mengalami bencana gempa bumi pada sabtu 15 Agustus yang lalu. Gempa dengan kekuatan 7,7 mangitudo telah memporakporandakan kurang lebih 7 kabupaten dari 9 kabupaten yang ada di pulau Flores. Titik gempa awalnya di Mbay-Nagekeo tapi juga bergeser ke Ruteng-Manggarai sehingga dalam kunjungan kami tanggal 17 Agustus di Ruteng dan Reo (Kab. Manggarai) nampak kerusakan besar terjadi. Kerusakan bangunan mencakup rumah, satuan pendidikan, rumah ibadah (gereja dan masjid), pelayanan kesehatan, kantor pemerintah dan fasilitas umum lainnya. Bencana gempa bumi Flores dengan dampak korban jiwa (meninggal dunia) 70 orang, Luka-luka tercatat 384 orang dan mengungsi sebanyak 48.922.

Bencana gempa bumi di Flores berdampak pada perayaannya kemerdekaan RI tersebut. Sekalipun sederhana, kita tetap memaknai HUT RI dalam kesatuan hidup berbangsa dan bernegara.  Makna kemerdekaan bangsa Indonesia perlu ditumbuhkan dari waktu ke waktu. Usia 81 tahun bagi bangsa Indonesia menjadi usia panjang dalam memaknai kemerdekaan ini.

Kesempatan ini kita merenungkan teks Keluaran 23:1-13 dengan tema: “Berdampak Bagi Bangsa: Menolak Hoax, Suap, Ketidakadilan, Dan Diskriminasi”. Keluaran 23:1-13ada dalam kelompok pasal 19:1-24:18 dengan judul besar “Allah memberi hukum taurat kepada Musa”. Pada bulan ke-3 setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai dan berkemah persis di depan gunung Sinai itu. Ketika Musa naik di atas gunung, Tuhan berbicara kepadanya, bagaimana Tuhan telah mendukung mereka seperti diatas sayap rajawali dan membawa mereka kepada Tuhan. Sekarang jika mereka sungguh-sungguh mendengar Firman Tuhan, berpegang pada perjanjian Tuhan maka mereka akan menjadi harta kesayangan Tuhan sendiri dari antara segala bangsa, sebab Tuhanlah yang empunya seluruh bumi (Keluaran 19:1-6).

Di atas gunung Sinai itulah, Musa menerima 2 loh batu yang berisikan kesepuluh Firman  yang diurai dalam keluaran 20:1-17. Setelah ke-10 firman itu maka sejumlah peraturan dinyatakan sampai pada pasal 23 yang menjadi teks bacaan dan perenungan kita. Saya merenungkan 3 pokok dalam teks ini yakni:

  1. Kabar bohong dan saksi yang tidak benar (ayat 1), perikop ini memulai dengan janganlah engkau menyebarkan kabar bohong. Kabar bohong akhir-akhir ini lebih dikenal dengan hoaks. Secara cepat search di gogle, kata hoaks diartikan sebagai berita palsu yang sengaja dibuat dan direkayasa agar terlihat benar, padahal penciptanya tahu bahwa informasi tersebut tidak sesuai kenyataan. Tujuannya untuk menipu, menyesatkan atau memprovokasi pembaca. Baik menyebarkan kabar bohong maupun menjadi saksi yang tidak benar, sama-sama berdampak buruk dan itu menjadi larangan yang keras.

Ada banyak contoh yang dipublikasikan melalui media massa bagaimana kabar bohong dikemas dengan menarik dan orang-orang teruskan berulang-ulang kali tanpa cek dan ricek kebenarannya. Di masa tanggap darurat bencana Flores, ada orang yang pura-pura berdonasi tetapi malah menyebarkan hoaks. Mereka screen shoot berhasil transfer dengan angka sekian (misalnya Rp.500. 000) tapi mengatakan salah kirim dan mohon dikembalikan Rp.200. 000. Atau ada pihak tertentu yang foto bangunan yang ambruk karena gempa dan viralkan bahwa kami membutuhkan bantuan. Kita ramai-ramai marah pemerintah yang tidak menolong masyarakat yang menderita. Masih banyak contoh yang menunjukan bahwa menyebarkan hoaks ataupun menjadi saksi yang tidak benar adalah kejahatan yang melukai kemanusiaan tapi juga menghujat nama Tuhan. Ada istilah dalam penggunaan media sosial yakni saring dulu baru disharing (dibagikan).

  1. Suap dan ketidakadilan. (Ayat 8)

Suap janganlah diterima sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikan perkara orang-orang yang benar.(Ayat 8). Beberapa jurnal teologi dan studi agama-agama yang saya baca menghubungkan hal suap dengan korupsi. Korupsi dikaitkan juga dengan hedonisme.  Paham hedonisme mengajarkan bahwa hidup adalah meraih kesenangan atau kebahagiaan sebanyak mungkin. Meningkatnya perilaku korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana, tidak hanya bagi perekonomian nasional, kehidupan berbangsa dan bernegara, melainkan juga terhadap fungsi keagamaan yang melemah dalam meretas tindakan prilaku korupsi. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK) Indonesia 2018 naik ke peringkat 4 di tingkat ASEAN setelah berhasil menggeser posisi Thailand yang turun ke posisi 6, (Gule, 2021). Upaya untuk mengatasi korupsi melalui pendidikan anti korupsi sebagai upaya untuk menumbuhkan spiritualitas anti korupsi. Rifai (2018) memakai teks Keluaran 23:1-13 sebagai Pelajaran pendidikan agama Kristen dalam melakukan tindakan pencegahan dini agar memiliki sikap anti korupsi.

Kepedulian Allah akan keadilan terutama kaum miskin terlihat jelas dalam taurat dan kitab-kitab nabi. Keadilan berarti perlindungan dan kemerdekaan bagi semua orang. Jika kebutuhan mendesak seseorang dipenuhi dengan memperlakukannya secara adil, orang itu dimerdekakan dari penderitaannya. Karena itu praktik suap dan ketidakadilan menjadi peraturan yang tegas diberlakukan

  • Perhatian terhadap orang asing dan menolak diskriminasi. Perlakuan terhadap orang asing, janganlah menjadi perlakuan yang diskriminasi. Umat Israel diingatkan akan masa lalu mereka sebagai orang asing di tanah Mesir.
  • Keadilan dan kasih sayang Tuhan bagi segenap makhluk dan alam semesta ciptaan Tuhan.

Kekayaan teks ini juga diperuntukan bagi makhluk alam semesta lainnya. Keledai dan lembu yang sesat kau kembalikan, keledai musuh yang rebah karena berat beban, ditolong dengan membongkar muatannya. Enam tahun menabur dan mengumpul, tahun ke-7 membiarkannya dan meninggalkan hasilnya untuk orang miskin, Binatang hutan tapi juga mempertahankan kesuburan tanah. Kebun anggur dan kebun zaitun, 6 hari bekerja, hari ke-7 berhenti supaya lembu dan keledaimu tidak bekerja, anak budak perempuan dan orang asing melepaskan lelah. Sebegitu besarnya kepedulian Allah bagi seluruh makhluk dan alam semesta ini.

Prinsip utama dari seluruh larangan yang ada supaya tidak ada nama allah lain yang dipanggil dan diperdengarkan dari mulut mereka. Persis seperti inti kesepuluh hukum Tuhan yakni “Akulah Tuhan Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Janga nada padamu allah lain di hadapanKu (Keluaran 20:1,2)

Dalam bulan kebangsaan saat ini, kita sebagai anak-anak bangsa, berefleksi sejenak, sudahkah sebagai bangsa yang Merdeka kita membangun dan memaknai kemerdekaan ini dengan mengembangkan spiritualitas hidup yang mengusung nilai kejujuran dan kebenaran, menolak suap dan kembangkan spiritualitas anti korupsi serta mengasihi makhluk semesta ini sebagai sesame ciptaan Tuhan yang berharga dan mulia ini. Tuhan Yesus memberkati, Amin.

——————————————————

Daftar Kepustakaan:

Yosefo Gule (2021); Studi Teologi-Etis Hubungan Prilaku Korupsi Sebagai Salah Satu Dampak Sikap Hidup Hedonis;  Jurnal Religi : Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 17, No.01 (Jan-Juni 2021) ISSN: 2548-4753 (online) | 1412-2634 (print) DOI: https://doi.org/10.14421/rejusta.2021.1701-06

Carolina Etnasari Anjaya dan  Martina Novalina (2022); Konsep Sinergi Piramida Dalam Pendidikan Kristen: Upaya Cegah Tangkal Perilaku Korupsi di Indonesia; Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Volume 4, Nomor 1, (Juni, 2022): 30-44 ISSN: 2685-1393 (p); ISSN: 2685-1466 (e) DOI: 10.37364/jireh.v4i1.71 Available Online at https://ojs-jireh.org/index.php/jireh

Rifai (2018) Mengajarkan Sikap Anti Korupsi Sejak Dini Melalui Refleksi Keluaran 23:1-13. Kurios (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) ISSN 2615-739X (print), 2614-3135 (online) Vol. 4, No. 1, April 2018 (1-13) http://www.sttpb.ac.id/e-journal/index.php/kurios