//GMIT Tegaskan Hadir untuk Kemanusiaan Lintas Agama Pasca-Gempa M 7,7 Flores

GMIT Tegaskan Hadir untuk Kemanusiaan Lintas Agama Pasca-Gempa M 7,7 Flores

MANGGARAI,www.sinodegmit.or.id, — Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan dan bantuan kemanusiaan secara inklusif tanpa membedakan latar belakang agama bagi seluruh korban terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kehadiran GMIT di tengah bencana tidak dibatasi oleh perbedaan agama, suku, maupun latar belakang. Setiap korban adalah sesama manusia yang harus dirangkul, dikuatkan, dan ditolong,” ujar Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur kepada media tersebut saat hadir secara langsung di Posko Terpadu GMIT Imanuel Ruteng, Selasa (18/8/2026).

Pdt. Saneb menekankan bahwa bencana menjadi pengingat bagi semua pihak untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian sesama anak bangsa.

“Rumah dapat rusak, fasilitas dapat hancur, dan kehidupan dapat berubah dalam sekejap. Namun, solidaritas, kasih, dan kepedulian tidak boleh runtuh. GMIT percaya bahwa panggilan gereja tidak berhenti di mimbar, tetapi hadir di tempat air mata jatuh dan di mana kehidupan harus dibangun kembali,” tegasnya.

Aksi Kemanusiaan Inklusif dan Posko Lintas Agama

Melalui aksi tanggap darurat yang dibentuk sejak Sabtu (15/8/2026), GMIT mengoperasikan Pos Terpadu (Poster) di tiga wilayah strategis, yaitu Ruteng, Bajawa, dan Maumere, guna mengordinasikan penanganan bencana dan penyaluran bantuan logistik.

Prinsip kemanusiaan tanpa sekat tersebut tampak nyata di lokasi pengungsian Jemaat GMIT Epata Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Posko tersebut menampung sekitar 90 kepala keluarga, termasuk masyarakat beragama Muslim dan Katolik yang ikut berteduh dan menerima pasokan bantuan di bawah tenda darurat yang sama.

Ketua BPRB Sinode GMIT, Pdt. Adi Amtaran, menyampaikan bahwa dari Posko Ruteng, bantuan didistribusikan ke 16 titik pengungsian warga yang tinggal berdampingan antarumat beragama.

Menembus Rute Selatan Menuju Mbay dan Ende

Aksi lapangan GMIT diperkuat oleh kehadiran Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn (Jacky) F. Manuputty, yang turun langsung ke lapangan bersama rombongan Sinode GMIT dan Majelis Klasis Flores Barat.

Perjalanan diawali dari Labuan Bajo didampingi Pdt. Hendrik Kudji Rihi (KMJ Gunung Zalmon) menuju Ruteng pada Senin (17/8/2026) dengan singgah di Lembor untuk bertemu Pdt. Victor Tualaka dan jemaat setempat, sebelum dilanjutkan ke Reok—wilayah pesisir yang mencatatkan 27 korban jiwa.

Rencana rombongan untuk langsung menuju Mbay, Kabupaten Nagekeo, sempat tertunda akibat akses jalan utama yang belum dapat dilalui. Tim kemudian kembali ke Ruteng dan melanjutkan perjalanan pada Selasa (18/8/2026) pukul 08.00 WITA menempuh jalur selatan Flores dengan rute Ruteng–Borong (Manggarai Timur)–Aimere–Bajawa (Ngada)–Mbay berdurasi 8 hingga 9 jam.

Dari Mbay, rombongan dijadwalkan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Ende untuk bermalam sebelum bertolak ke Kupang guna memperkuat penanganan lanjutan.

Kendala Logistik dan Kebutuhan Tenaga Medis

Berdasarkan inventarisasi tim di lapangan, warga di pengungsian masih membutuhkan bantuan mendesak berupa bahan pangan, air bersih, terpal tenda, selimut, minyak angin, serta pasokan khusus anak-anak dan bayi.

Kendati demikian, ketersediaan barang di kota transit seperti Ruteng mulai menipis akibat tingginya aktivitas aksi pemborongan barang oleh pemerintah daerah untuk dukungan tanggap darurat. Selain logistik fisik, GMIT mengidentifikasi keterbatasan jumlah tenaga dokter di klaster layanan kesehatan sebagai salah satu isu krusial yang memerlukan penanganan dan koordinasi lintas lembaga dalam waktu dekat. *