
ROTE TIMUR, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menggelar kegiatan “Revitalisasi Kelompok Binaan GMIT” yang berfokus pada penguatan kapasitas, kelembagaan, produktivitas, serta perluasan jejaring usaha. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Selasa hingga Rabu (18–19/8/2026), dipusatkan di Gedung Gereja Imanuel Oerakanin, Jemaat Ringgou Utara, Klasis Rote Timur.
Program revitalisasi ini menyasar 30 kelompok binaan yang terbagi ke dalam tiga rumpun bidang usaha utama, yaitu pertanian (bawang merah dan padi), peternakan (ayam petelur), serta perikanan (kelompok nelayan). Langkah strategis ini mencakup pemetaan potensi dan persoalan, penguatan manajemen kelembagaan, perluasan akses kebijakan, hingga penyusunan rencana tindak lanjut yang realistis.
Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, dalam pemaparan materinya yang bertajuk ‘Gereja yang Memberdayakan’, menegaskan pentingnya pembaruan paradigma pelayanan gereja dalam pemberdayaan masyarakat.
“Model karitatif merupakan pendekatan paling awal dalam pembangunan sosial yang berfokus pada penanganan kebutuhan mendesak. Meskipun krusial dalam merespons situasi krisis atau bencana, model ini berpotensi menciptakan ketergantungan. Pemberian bantuan seharusnya menjadi pintu masuk untuk membentuk komunitas yang berdaya, bukan sebagai tujuan akhir,” ujar Pdt. Semuel.
Ia menambahkan bahwa gereja kini mendorong pendekatan berbasis penguatan kapasitas agar jemaat memiliki kemampuan mengelola sumber daya secara mandiri.
“Pendekatan ini menekankan prinsip ‘berikan seseorang ikan, ia makan sehari; ajarkan ia menangkap ikan, ia makan seumur hidup’. Penerapannya bukan sekadar memberi bantuan fisik seperti bibit, melainkan melatih teknologi, membuka akses pasar, dan memperkuat kelembagaan guna menolong manusia menemukan panggilannya untuk berkarya,” lanjutnya.

Selain menjadi sarana pelatihan, agenda ini dirancang sebagai ruang perjumpaan kolaboratif antara gereja, kelompok usaha warga, pemerintah, akademisi, dan pemangku kebijakan. Melalui pendekatan ini, gereja berupaya menggeser pola pelayanan ekonomi dari sekadar bantuan sesaat menuju diakonia transformatif yang mandiri dan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan ini juga dibekali materi dari pelbagai narasumber ahli, di antaranya paparan kebijakan nasional oleh Usman Husein, strategi manajemen usaha, penguatan kelompok nelayan, hingga panduan mentransformasi kelompok binaan menjadi unit usaha yang mandiri, dan materi lainnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Majelis Klasis Rote Timur, Badan Pembantu Pelayanan Sinode GMIT, para pendeta se-Klasis Rote Timur, serta perwakilan dari 30 kelompok binaan jemaat.*











