//Dari Kamboja, Kami Belajar: Mengingat Masa Lalu, Menjaga Masa Depan Untuk Perubahan – Pdt. Rika K. Hanadii

Dari Kamboja, Kami Belajar: Mengingat Masa Lalu, Menjaga Masa Depan Untuk Perubahan – Pdt. Rika K. Hanadii

Pada tanggal 5 Agustus – 8 Agustus 2026, kami: Rika Yusrina, Salsabilla, Faidatun Nadiro dan Rika Hanadii mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari perwakilan Indonesia dalam pertemuan Gathering Regional Asia yang diwadahi Global Youth Network di Kamboja, American Friends Committee Services. Kami datang bukan hanya membawa nama Indonesia, tetapi juga membawa cerita, kegelisahan, dan suara dari berbagai kelompok masyarakat yang selama ini masih menghadapi ketidakadilan.

Pertemuan ini mempertemukan orang muda dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Myanmar, Filipina, Jordania, dan Kamboja. Berbeda negara, berbeda latar belakang, berbeda pengalaman. Namun, semakin banyak kami berbagi cerita, semakin kami menyadari bahwa persoalan yang kami hadapi memiliki benang merah yang sama.

Kami berbicara tentang isu-isu yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini: krisis iklim, sistim pendidikan, ketidakadilan kebijakan dalam ruang politik, ketimpangan sosial, kekerasan dan diskriminasi yang masih dialami kelompok rentan.

Kami belajar, bahwa ketidakadilan tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat jelas. Kadang ia hadir dalam bentuk ruang pendidikan yang tidak inklusif. Kadang berupa kebijakan pemerintah yang tidak melibatkan suara kelompok yang terdampak. Kadang hadir ketika perempuan difabel tidak mendapatkan akses yang sama untuk belajar, bekerja, berpartisipasi, atau menentukan masa depannya sendiri. Dan kadang, ia hadir ketika masyarakat memilih diam terhadap kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di sekitarnya.

Karena itu, ruang pertemuan regional ini menjadi lebih dari sekadar forum diskusi. Bagi kami, ini adalah ruang untuk saling mendengarkan. Kami mendengar cerita dari Myanmar. Kami belajar dari pengalaman orang muda di Filipina, Jordania, dan Kamboja. Kami membagikan pengalaman dari Indonesia. Dalam keberagaman itu, kami menemukan satu hal yang sama: orang muda tidak ingin hanya menjadi penerima keputusan. Kami ingin menjadi bagian dari proses perubahan.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi kami selama berada di Kamboja adalah kunjungan ke Choeung Ek. Choeung Ek, yang dikenal luas sebagai salah satu Killing Fields, merupakan lokasi yang digunakan oleh rezim Khmer Rouge sebagai tempat eksekusi dan penguburan massal pada masa kekuasaan Khmer Rouge antara 1975 dan 1979.

Berada di sana menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada kesunyian yang berbeda. Kami melihat sebuah tempat yang hari ini tampak tenang, tetapi menyimpan sejarah yang sangat kelam. Tempat yang dahulu menjadi saksi penderitaan manusia kini menjadi ruang untuk mengenang para korban dan belajar dari masa lalu. Sejarah Kamboja menjadi pengingat bahwa ketika kemanusiaan kehilangan tempat dalam politik dan kehidupan sosial, akibatnya dapat menjadi sangat mengerikan. Museum dan situs memorial seperti Choeung Ek tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga berbicara tentang tanggung jawab kita hari ini: bagaimana memastikan kekerasan serupa tidak kembali terjadi.

Kunjungan ke Choeung Ek membuat diskusi kami selama pertemuan regional terasa semakin dekat. Kami kembali bertanya kepada diri sendiri: apa hubungan antara sejarah kekerasan dengan isu-isu yang sedang kami perjuangkan hari ini? Jawabannya mungkin tidak selalu sederhana. Namun, kami percaya bahwa semuanya berangkat dari pertanyaan yang sama: apakah kita masih melihat manusia sebagai manusia? Ketika perempuan difabel tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak, kita perlu bertanya apakah mereka benar-benar dipandang setara. Ketika disabilitas menghadapi diskriminasi, kita perlu bertanya apakah ruang sosial dan politik kita benar-benar inklusif. Ketika kelompok rentan mengalami kekerasan, kita perlu bertanya apakah suara mereka didengar dan apakah sistem memberikan perlindungan yang memadai. Ketika krisis iklim paling berat dirasakan oleh masyarakat yang memiliki sumber daya paling sedikit, kita perlu bertanya tentang keadilan. Dan ketika keputusan politik dibuat tanpa melibatkan suara generasi muda dan kelompok yang terdampak, kita perlu bertanya: untuk siapa sebenarnya kebijakan tersebut dibuat?

Bagi kami, pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari perjuangan yang sama—perjuangan untuk mempertahankan martabat manusia. Solidaritas yang melampaui batas negara. Perjalanan ini juga mengubah cara kami melihat solidaritas. Kami datang dari Indonesia. Teman-teman kami datang dari Myanmar, Filipina, Jordania, dan Kamboja. Kami memiliki sejarah dan konteks sosial-politik yang berbeda. Tetapi perbedaan tersebut justru membuat ruang ini menjadi semakin berarti. Kami menyadari, bahwa perjuangan orang muda di Asia tidak harus dilakukan sendiri-sendiri. Krisis iklim tidak mengenal batas negara. Diskriminasi tidak hanya terjadi di satu tempat. Kekerasan terhadap kelompok rentan bukan persoalan satu bangsa. Dan perjuangan untuk pendidikan yang inklusif, kesetaraan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia merupakan perjuangan yang dapat mempertemukan kita semua.

Di Kamboja, kami tidak hanya bertemu dengan orang-orang dari negara lain. Kami menemukan kawan seperjuangan. Kami menemukan bahwa pengalaman yang berbeda dapat dipertemukan oleh nilai yang sama: keberanian untuk bersuara, kepedulian terhadap sesama, dan keinginan untuk menciptakan perubahan.

Kami pulang membawa lebih dari sekadar pengalaman. Setelah meninggalkan Kamboja, kami membawa pulang lebih dari foto, kenangan, dan cerita perjalanan. Kami membawa pertanyaan:

Apa yang bisa kami lakukan setelah ini?

Bagaimana pengalaman yang kami dapatkan dapat kami bawa kembali ke komunitas masing-masing?

Bagaimana kami memastikan bahwa suara perempuan difabel dan kelompok rentan tidak hanya didengar dalam forum, tetapi juga hadir dalam pengambilan keputusan?

Bagaimana kami dapat terus mendorong pendidikan yang inklusif?

Bagaimana orang muda dapat terlibat lebih jauh dalam menghadapi krisis iklim dan persoalan sosial?

Dan yang paling penting, bagaimana kami dapat belajar dari sejarah agar kekerasan, diskriminasi, dan dehumanisasi tidak kembali menjadi sesuatu yang dianggap biasa?

Bagi kami berempat—Rika, Salsabilla, Faidatun dan Rika Hanadii menjadi bagian dari Global Youth Network bukan hanya tentang mewakili Indonesia di sebuah forum regional. Ini adalah kesempatan untuk belajar, bahwa perubahan membutuhkan keberanian, tetapi juga membutuhkan solidaritas. Choeung Ek mengajarkan kami pentingnya mengingat. Pertemuan regional mengajarkan kami pentingnya mendengarkan. Dan pengalaman bersama orang muda dari berbagai negara mengajarkan kami pentingnya bergerak bersama.

Kami percaya pada satu hal yang sama: masa depan Asia tidak hanya akan dibentuk oleh mereka yang memiliki kekuasaan, tetapi juga oleh orang muda yang berani bersuara, berani saling mendengarkan, dan berani memperjuangkan dunia yang lebih adil dan inklusif. Mengingat masa lalu bukan berarti hidup di dalam masa lalu. Menghormati para korban berarti memastikan bahwa penderitaan mereka tidak menjadi sia-sia. Dan memperjuangkan masa depan berarti memastikan bahwa tidak ada lagi manusia yang harus kehilangan hak, martabat, suara, dan kehidupannya hanya karena ia dianggap berbeda.

Dari Kamboja, kami belajar untuk mengingat. Dari Asia, kami belajar untuk bersolidaritas. Dan dari perjalanan ini, kami pulang dengan satu komitmen: terus bersuara, terus belajar, dan terus bergerak bersama untuk perubahan. *

(Penulis adalah Pendeta Jemaat Bermata Jemaat Melbaun, Klasis Mollo Timur)