
KUPANG, www.sinodegmit.or.id — Universitas Nusa Cendana (Undana) bekerja sama dengan Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) dan Pemerintah Kabupaten Kupang menggelar kegiatan “Pelatihan dan Pendampingan Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur untuk Mendukung Ketahanan Pangan Jemaat”. Kegiatan ini dilaksanakan secara hibrid—berlangsung onsite di Aula Rektorat Lt. 3 Gedung Rektorat Undana dan diakses secara daring via Zoom Meeting—pada Sabtu (22/8/2026) guna memperkuat pemenuhan gizi serta kemandirian ekonomi jemaat.
Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, dalam suara gembalanya menekankan pentingnya merumuskan model ekonomi gereja yang kontekstual melalui pendekatan “ekonomi dua dinar” yang terinspirasi dari kisah orang Samaria. Menurutnya, fokus pengembangan ekonomi harus berpusat pada pemberdayaan manusia sebagai pelaku utama.
“Ketergantungan pasokan komoditas dasar dari luar daerah kita masih sangat tinggi dibanding komoditas yang mampu kita jual keluar. Pengalaman program peternakan ayam di lingkungan pastori membuktikan bahwa usaha produktif skala kecil mampu memberikan ‘daya kejut’ moral sekaligus keuntungan finansial yang signifikan. Ini menjadi ajakan bagi gereja dan jemaat untuk bangkit dan mengubah pola pikir,” ujar Pdt. Semuel.
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, ST., M.Eng., menegaskan bahwa kerja sama lintas sektor ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang selaras dengan spirit saling membantu pada Galatia 6:2. Ia mengapresiasi kemitraan strategis bersama Pemkab Kupang dan Sinode GMIT demi meretas persoalan kemasyarakatan.
“Melalui program pengabdian masyarakat yang dipimpin Prof. Anita, kegiatan ini diharapkan tidak sebatas memenuhi indikator proses pengabdian semata, melainkan memberikan output dan outcome yang nyata demi terciptanya masyarakat Nusa Tenggara Timur yang lebih mandiri, sejahtera, serta berbasis pada kajian ilmiah terukur,” tegas Prof. Jefri.

Sementara itu, Bupati Kupang, Yosef Lede, SH menyatakan komitmen penuh pemerintah daerah dalam mendukung sinergi tiga lembaga ini. Pemerintah menyadari keterbatasan sumber daya sehingga membutuhkan topangan doa gereja dan dukungan keilmuan akademis untuk membangun daerah, termasuk di wilayah Pulau Semau.
“Lewat program pelatihan peternakan ayam petelur ini, potensi lahan dan sumber daya manusia di Kabupaten Kupang dapat dioptimalkan. Kita ingin mengubah pola beternak tradisional menjadi usaha produktif yang mendukung program ketahanan pangan nasional maupun kebutuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan,” kata Bupati Lede.
Pelatihan ini menghadirkan lima materi utama yang disampaikan oleh para pakar dan tokoh strategis, meliputi: Peran Gereja dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Jemaat (Orias Petrus Moedak); Membangun Kemandirian Pangan Jemaat melalui Manajemen Nutrisi dan Pemanfaatan Pakan Lokal untuk Meningkatkan Produktivitas Ayam Petelur (Prof. Ir. Frans U. Datta, M.App.Sc., Ph.D); Pencegahan Penyakit Unggas dan Penerapan Biosekuriti untuk Mendukung Produksi Ayam Petelur dalam Program Ketahanan Pangan Jemaat GMIT (Prof. Dr. drh. Maxs U. E. Sanam, M.Sc); Peran Ketua Majelis Klasis dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Jemaat (Prof. Dr. David B. W. Pandie, MS); Membangun Jemaat Mandiri melalui Pelatihan dan Pendampingan Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur (Pdt. Gustaf Nenu, M.Th).
Kegiatan ini diikuti oleh 130 peserta, yang terdiri dari para Ketua Majelis Klasis Teritori Kupang Daratan dan Semau, serta perwakilan jemaat GMIT dari Kota Kupang hingga Rote Timur yang bergabung secara daring. Turut hadir langsung dalam kegiatan tersebut Sekda Kabupaten Kupang Mateldius Soleman Jilis Sanam, S.T., para Wakil Rektor Undana Kupang, Bendahara Sinode GMIT Pnt. Yefta Sanam, serta Badan Pendidikan Sinode GMIT dan BPAPE Sinode GMIT.
Seminar ini menjadi langkah awal dari rangkaian program yang akan dilanjutkan dengan aktivitas pendampingan langsung di lapangan selama satu tahun penuh. Sinergi ini diharapkan mampu mencetak kelompok jemaat yang mandiri dalam memproduksi serta memasarkan hasil peternakan secara berkelanjutan.***











