//“Mendengar dan Melakukan Firman: Obat Bagi Luka Batin dan Relasi” (Yakobus 1:19–27) – Pdt. Christine Requel Pauline Anggriete Nisnoni, SSi-Teol

“Mendengar dan Melakukan Firman: Obat Bagi Luka Batin dan Relasi” (Yakobus 1:19–27) – Pdt. Christine Requel Pauline Anggriete Nisnoni, SSi-Teol

Pernahkah kita merasa sudah berbicara, tetapi tidak sungguh-sungguh didengar? Atau pernahkah kita berbicara ketika sedang terluka, marah, atau kecewa, lalu kata-kata yang keluar justru semakin melukai orang lain? Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan bahwa masalah dalam relasi bukan hanya disebabkan oleh apa yang dikatakan seseorang, tetapi juga oleh cara kita mendengar, cara kita merespons, dan keadaan hati ketika kita berbicara.

Luka yang belum selesai dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya, mempercayai orang lain, menerima perkataan, bahkan merespons konflik. Ketika terluka, kita dapat menjadi lebih mudah tersinggung, defensif, marah, menarik diri, atau membalas.

Di tengah situasi seperti itu, Yakobus memberikan nasihat yang sangat sederhana tetapi dalam: “Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”(Yakobus 1:19). Pertanyaannya kemudian bukan hanya: “Apakah saya sudah mendengar Firman Tuhan?” Tetapi: “Apakah Firman yang saya dengar telah mengubah cara saya merespons luka, mengendalikan perkataan, dan memperlakukan orang lain?” Dari pertanyaan inilah kita masuk ke dalam Yakobus 1:19–27.

Teks bahan bacaan kita saat ini dari kitab Yakobus 1:19–27 mengajak kita memperhatikan tiga kata yang sangat menonjol: MENDENGAR – BERKATA-KATA – MARAH. Kemudian Yakobus membawa kita lebih jauh: MENERIMA FIRMAN – MELAKUKAN FIRMAN – HIDUP DALAM KASIH. Dengan demikian, bagian ini bukan sekadar berbicara mengenai kemampuan mendengar, tetapi mengenai bagaimana Firman Tuhan membentuk seluruh kehidupan seseorang.

Mari kita melihat sejenak kitab yakobus secara utuh

1. Siapa penulis Surat Yakobus?

Surat ini dibuka dengan: “Salam dari Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus…”
(Yakobus 1:1). Secara tradisional, penulis surat ini diidentifikasi sebagai Yakobus, saudara Tuhan Yesus dan pemimpin jemaat di Yerusalem. Yakobus juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam gereja mula-mula. Paulus menyebut Yakobus sebagai salah satu “sokoguru” jemaat Yerusalem (Galatia 2:9), dan Kisah Para Rasul 15 memperlihatkan peran pentingnya dalam pertemuan gereja di Yerusalem.

Namun, secara akademis tentang karangan Surat Yakobus masih diperdebatkan dalam studi Perjanjian Baru. Karena itu, dalam kajian ilmiah lebih tepat mengatakan bahwa surat ini secara tradisional dianggap / diyakini pada Yakobus, saudara Tuhan Yesus, tanpa mengabaikan adanya perdebatan- perdebatan.

2. Kepada siapa surat ini ditujukan?

Yakobus 1:1 menyebut penerimanya sebagai: “Kepada kedua belas suku di perantauan.” Ungkapan tersebut umumnya dipahami sebagai komunitas orang percaya yang hidup dalam diaspora, khususnya komunitas Kristen berlatar belakang Yahudi. Mereka bukan komunitas yang hidup tanpa masalah. Sebaliknya mereka menghadapi pencobaan, tekanan, persoalan ekonomi, ketegangan antara kaya dan miskin, konflik, serta persoalan dalam penggunaan perkataan. Karena itu, Surat Yakobus sangat praktis. Iman tidak boleh berhenti pada pengetahuan atau pengakuan, tetapi harus terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

3. Apa tujuan Surat Yakobus?

Salah satu penekanan utama Yakobus adalah bahwa iman harus diwujudkan dalam tindakan. Hal ini sangat jelas dalam Yakobus 1:22: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Jadi, Yakobus tidak sedang mempertentangkan antara mendengar dengan melakukan. Sebaliknya, mendengar Firman yang benar seharusnya menghasilkan kehidupan yang benar.

Douglas J. Moo jdalam bukunya tehe letter of james ( 2nd ed) Eerdmans juga menekankan sifat praktis Surat Yakobus dan panggilannya kepada komitmen iman yang utuh kepada Kristus, dengan demikian mari kita masuk untuk melihat teks Firman Tuhan saat ini “

1. Ayat 19–20: “Cepat untuk Mendengar, Lambat untuk Berkata-kata, Lambat untuk Marah” Yakobus memberikan tiga sikap: Cepat mendengar.Lambat berkata-kata.Lambat marah. Ketiganya berkaitan erat dengan kehidupan relasional. Yakobus tidak mengatakan bahwa seseorang tidak boleh berbicara atau tidak boleh mengalami kemarahan. Yang menjadi persoalan adalah ketika kemarahan menguasai seseorang bagaimana meresponnya. Ayat 20 mengatakan: “Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” Artinya, kemarahan manusia yang tidak terkendali tidak menghasilkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Maka “lambat untuk marah” dapat dipahami sebagai panggilan untuk memberikan ruang sebelum bereaksi. Tidak semua yang kita rasakan harus langsung kita ucapkan. Tidak semua yang kita pikirkan harus langsung kita katakan. Tidak semua luka harus dibalas dengan luka.

MENJADI PERTANYAAN LANJUTAN MENGAPA MENDENGAR DAN MENGENDALIKAN RESPONS ITU PENTING?

Dalam ilmu psikologi, regulasi emosi mengacu pada proses seseorang memengaruhi pengalaman dan ekspresi emosinya, termasuk bagaimana ia merespons suatu situasi. Regulasi emosi bukan berarti menghilangkan kemarahan atau kesedihan, melainkan mengelola respons sehingga emosi tidak secara otomatis menentukan perilaku (Gross, 1998).

Hal ini dapat dibicarakan dengan menggunakan nasihat Yakobus: “Lambat untuk marah.” Yakobus memberikan prinsip spiritual-moral, sedangkan psikologi membantu menjelaskan mekanisme manusia dalam mengelola emosi dan perilaku.

Dalam konteks relasi, penelitian mengenai komunikasi konflik juga menunjukkan bahwa cara pasangan berkomunikasi ketika menghadapi konflik memiliki hubungan dengan kualitas relasi. Pola komunikasi yang destruktif dapat memperkuat eskalasi konflik, sedangkan respons yang lebih konstruktif dapat membantu menjaga kualitas relasi (Overall & McNulty, 2017).

Karena itu, Yakobus 1:19 dapat menjadi pertanyaan yang sangat relevan bagi kehidupan kita: Ketika saya terluka, apakah saya mendengar terlebih dahulu atau langsung bereaksi?

Yakobus kemudian berkata pada ayat 21: “Terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” Di sini kita menemukan sesuatu yang penting. Firman Tuhan bukan hanya sesuatu yang didengar dari luar, tetapi sesuatu yang harus diterima dan tertanam / tersimpan dalam diri. Karena itu ada proses: Mendengar, lalu menerima kemudian tertanam/ tersimpan yang pad aakhirnya mengubah kehidupan. Firman Tuhan tidak dimaksudkan hanya menjadi informasi rohani. Firman harus membentuk cara kita berpikir, berbicara, mengambil keputusan, menghadapi konflik, dan memperlakukan orang lain. Di sinilah tema “obat bagi luka batin” menjadi relevan.

Namun, istilah “obat bagi luka batin” perlu dipahami sebagai metafora teologis-pastoral, bukan sebagai klaim bahwa membaca Alkitab secara otomatis menyembuhkan seluruh trauma atau gangguan psikologis. Luka batin dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan orang lain.

Misalnya:

  • pernah disakiti akan cenderung menjadi sulit percaya;
  • sering ditolak akan cenderung merasa dirinya tidak berharga;
  • sering dimarahi akan cenderung menjadi sangat sensitif terhadap kritik;
  • pernah mengalami konflik akan cenderung mudah mengantisipasi ancaman;

Dalam keadaan seperti ini, Firman Tuhan dapat menjadi cermin spiritual yang membantu seseorang melihat kembali dirinya, nilai dirinya di hadapan Allah, cara ia merespons orang lain, serta arah hidup yang dikehendaki Tuhan. Namun, bagi luka yang berat atau trauma, pendampingan pastoral dapat berjalan bersama dengan bantuan profesional kesehatan mental. Firman Tuhan dan pelayanan pastoral tidak harus dipertentangkan dengan intervensi psikologis.

  • Yakobus berkata pada ayat 22 – 25 :

“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.” Kemudian ia memberikan gambaran tentang cermin. Seseorang melihat dirinya di cermin, tetapi kemudian pergi dan melupakan bagaimana rupanya. Gambaran ini sangat kuat, Firman Tuhan seperti cermin.Ketika kita membaca Firman, kita bukan hanya melihat siapa Allah, tetapi juga melihat diri kita sendiri.

Firman bertanya:

  • Bagaimana saya memperlakukan orang lain?
  • Bagaimana saya berbicara ketika marah?
  • Apakah saya mampu mendengar?
  • Apakah saya cepat menghakimi?
  • Apakah luka membuat saya terus membalas?
  • Apakah iman saya terlihat dalam tindakan?

Karena itu pertanyaan terpenting setelah membaca Firman bukan hanya: “Apa yang saya pelajari?” Tetapi: “Apa yang harus berubah dalam hidup saya?” ayat 26 – 27,Yakobus kemudian berbicara tentang kehidupan beragama.

Ia menegaskan bahwa seseorang dapat merasa dirinya beribadah kepada Allah, tetapi jika ia tidak mampu mengendalikan lidahnya, ibadahnya menjadi sia-sia. Sebaliknya, ibadah yang murni terlihat dalam kepedulian kepada mereka yang membutuhkan dan dalam kehidupan yang menjaga diri dari pencemaran dunia.Artinya, bagi Yakobus Relasi dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan manusia. Iman bukan hanya apa yang kita katakan tentang Tuhan. Iman juga terlihat dari:

  • bagaimana kita berbicara kepada pasangan;
  • bagaimana kita memperlakukan anak;
  • bagaimana kita memperlakukan orang yang berbeda dari kita;
  • bagaimana kita menghadapi orang yang telah menyakiti kita;
  • bagaimana kita menggunakan perkataan ketika sedang marah.

Berkaitan dengan luka batin Luka batin, sering kali tidak hanya tinggal dalam pikiran atau perasaan. Ia dapat muncul dalam relasi. Seseorang yang terluka mungkin:

Mendengar dan menafsirkan kemudian merasa terancam sehingga bereaksi. Misalnya, sebuah perkataan sederhana dapat dipahami sebagai kritik karena pengalaman masa lalu. Karena itu, proses penyembuhan dan pertumbuhan tidak hanya menyangkut “melupakan masa lalu”, tetapi juga belajar mengenali: Apa yang terjadi dalam diri saya ketika saya terluka? dengan demkian Yakobus membawa kita kepada sebuah pola yang berbeda: di mulai dengan Mendengar kemudian berhenti sejenak dan mengendalikan respons selanjutnya menerima Firman dan melakukan Firman dalam keseharian sehingga Firman menjadi sumber pembentukan karakter dan arah hidup.

Hari ini kita dapat belajar dari 3 kata kunci :

1. MENDENGAR

Mendengar bukan sekadar menerima suara. Mendengar berarti memberi ruang kepada orang lain dan memberi ruang kepada Firman Tuhan untuk berbicara kepada diri kita. Pertanyaannya: Apakah saya sungguh-sungguh mendengar, atau saya hanya menunggu kesempatan untuk menjawab?

2. MENGENDALIKAN

“Lambat berkata-kata” dan “lambat marah” menunjukkan adanya pengendalian diri. Bukan berarti menekan emosi, tetapi tidak membiarkan emosi menentukan tindakan secara impulsif. Pertanyaannya: Ketika saya terluka, siapa yang mengendalikan respons saya: luka saya atau Firman Tuhan?

3. MELAKUKAN

Firman tidak berhenti pada pemahaman.Firman harus menjadi tindakan. Pertanyaannya: Setelah mendengar Firman ini, apa yang akan saya lakukan secara konkret? Maka dapat dirumuskan: Mendengar membentuk kesadaran.
Mengendalikan diri membentuk respons.
Melakukan Firman membentuk karakter. Pada kesempatan Pemahaman Alkitab saat ini , saya tidak memberi ruang diskusi kelompk melainakn saya mengajak untuk kita BEREFLEKSI PRIBADI

Ambillah waktu sejenak dalam keheningan. Tidak perlu langsung menjawab dengan suara. Renungkan secara pribadi:

1.Siapa yang selama ini sebenarnya perlu saya dengarkan lebih sungguh-sungguh?

2.Perkataan apa yang perlu saya kendalikan?

3.Kemarahan atau kekecewaan apa yang masih saya bawa dalam hati?

4.Apakah ada luka masa lalu yang memengaruhi cara saya melihat atau memperlakukan orang lain saat ini?

5.Jika Firman Tuhan menjadi cermin bagi hidup saya hari ini, apa yang sedang Tuhan tunjukkan kepada saya?

6.Apa satu tindakan nyata yang dapat saya lakukan minggu ini sebagai bukti bahwa saya bukan hanya pendengar, tetapi pelaku Firman?

Jika memungkinkan, peserta dapat menuliskan satu kata atau satu kalimat yang paling menyentuh mereka.

Di akhir Pemahaman Alkitab ini saya ingin kita membuatKOMITMEN PRIBADI secara sederhana:

Minggu ini saya akan belajar untuk .

Misalnya:

  • mendengarkan sebelum menjawab;
  • tidak membalas perkataan ketika sedang marah;
  • meminta maaf kepada seseorang;
  • berbicara dengan lebih lembut kepada pasangan atau anak;
  • memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan;
  • mendoakan seseorang yang pernah melukai saya;
  • mencari bantuan ketika luka yang saya alami membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Komitmen tidak perlu besar, Yang penting nyata dan dilakukan.

Pada akhirnya Yakobus 1:19–27 mengajarkan bahwa “Firman Tuhan tidak hanya ingin masuk ke telinga kita, tetapi turun ke hati, mengubah respons kita terhadap luka, dan terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain.”

Karena itu DENGAR DENGAN HATI.KENDALIKAN DIRI dan LAKUKANLAH FIRMAN., Amin