
Bapa mama saudara-saudari, rekan-rekan sepelayanan kekasih Tuhan
Dulu waktu saya masih lumayan aktif membuka akun Facebook (FB) saya, saya pernah mengatur di bagian pengaturan untuk menyembunyikan tanggal lahir saya. Kenapa? Karena saya merasa bersalah kalau saya tidak segera membalas dan mengucapkan terima kasih atas semua ucapan selamat ulang tahun. Saya sampai mete malam untuk balas dan sering sisanya dilanjutkan besok, lusa dst. Maka waktu saya ulang tahun, saya bilang ke om Beam, waktu itu saya dan om Beam masih di penggajian. Om Beam, beta su atur ko beta pung FB sonde kelihatan beta punya tanggal ulang tahun lai. Jadi ini taon pasti beta sonde talalu sibuk balas ucapan selamat ulang tahun dong lai. Hanya kawan deng sodara yang batul-batul ingat dan perhatian dengan beta sa yang akan kasi ucapan bukan karena dikasi tahu oleh FB bahwa ini hari beta ulang tahun (😊hehehe). Dan waktu itu om Beam jawab saya, “begitu ko mam pendeta, kalo begitu beta juga mau atur beta punya FB ke begitu juga” dan kami tertawa bersama.
Tapi BMS, ketika saya jatuh sakit, lalu didiagnosa terkena tumor ganas atau kanker, dan saya melewati tahap demi tahap pengobatan dari operasi, radiasi sampai dengan kemo terapi (waktu itu saya sampai botak dan datang kantor dengan wig atau jilbab), saya menyadari bahwa ucapan selamat ulang tahun dari banyak orang itu sebenarnya sangat berarti dan baik bagi saya. Seharusnya saya tidak menyembunyikan tanggal ulang tahun di FB. Kenapa? Karena dalam setiap ucapan selamat itu, ada doa berkat bagi saya, doa berkat agar saya umur panjang, sehat dst. Biarkan saja semua orang tahu dan kasi ucapan selamat. Tulus tidaknya ucapan selamat itu hanya Tuhan yang menilai dan Tuhan yang menjawab doa berkat itu bagi saya. Maka agak repot juga waktu itu saya mau masuk FB tapi lupa password FB dan harus tekan lupa password untuk reset password baru bisa masuk lagi dan mengatur supaya tanggal ulang tahun saya tidak disembunyikan lagi di akun FB saya. Sekarang saya sudah kembali mendapatkan ucapan selamat ulang tahun di FB tapi sampe sekarang saya belum balas karena saya lupa lagi password yang terbaru 😊
Tapi intinya saya merasa sangat diberkati dengan doa-doa berkat selamat ulang tahun itu. Saya masih bergumul dengan terapi kanker lanjutan, masih terus minum obat dan suntik sampai beberapa tahun yang akan datang, terus bolak balik RS untuk control dan evaluasi dan doa-doa berkat ini menguatkan saya untuk terus berjuang agar sel-sel kanker itu tidak tumbuh lagi. Saya juga kalau dapat WA dari siapapun diakhiri dengan God Bless, GBU, Tuhan Yesus memberkati, itu saya sangat-sangat suka dan berterima kasih, itu doa berkat yang menguatkan bagi saya.
Bapa mama saudara-saudari, rekan-rekan sepelayanan kekasih Tuhan
Kita lihat dalam pembacaan Firman Tuhan bagi kita pagi bahwa ketika Rasul Paulus mengakhiri suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus mengucapkan berkat bagi jemaat di Korintus yang saya yakin ini diucapkan atau dituliskan dan tentunya juga diterima oleh jemaat Korintus bukan hanya sebagai kata-kata penutup sebuah surat yang dianggap sepele atau kurang penting. “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan Persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian”. Doa berkat ini tentu saja sangat berarti, menguatkan dan meneguhkan jemaat di Korintus yang hidup dengan berbagai pergumulan bermasyarakat maupun berjemaat. Dan hari Minggu tanggal 31 Mei menurut Kalender Gereja adalah minggu Trinitas maka kita diajak untuk merenungkan bagaimana berkat dari Allah Tritunggal itu meneguhkan jemaat dalam pergumulan hidup dan beriman. Apa yang digumuli jemaat Korintus bisa kita ketahui dari isi surat Paulus kepada jemaat di Korintus baik surat yang pertama maupun yang kedua ini. Namun kalau kita mundur satu ayat dari perikop bacaan kita yang dikasi Judul SALAM oleh Lembaga Alkitab Indonesia ini maka kita bisa mendapatkan sedikit gambaran bahwa mereka di Korintus punya masalah dalam hal persekutuan. Di sana (ayat 10) Paulus kasi nasihat mereka supaya kembali kepada panggilan Allah, yaitu turut serta atau terlibat untuk membangun, bukan meruntuhkan. Nah untuk terlibat dalam persekutuan yang membangun maka mereka harus punya kebiasaan-kebiasaan atau praktik hidup yang mempersatukan. Dan dari begitu banyak nasihat rasul Paulus kepada jemaat Korintus terlihat jelas bahwa jemaat Korintus kaya dengan berbagai karunia. Tetapi bermacam karunia itu bukan dipakai untuk membangun kehidupan bersama melainkan mereka menjadi saling merendahkan satu sama lain. Makanya di 1 Korintus 12 Paulus pernah kasi ingat bahwa ada rupa-rupa karunia tapi satu Roh. Selain itu walaupun mereka punya begitu banyak karunia tetapi mereka kehilangan kasih sehingga di 1 Korintus 13 Paulus bilang biarpun bosong punya macam-macam karunia tapi kalo bosong sonde punya kasih maka itu semua percuma. Tanpa kasih, masing-masing pihak akan cenderung meninggikan diri dan saling menjatuhkan. Belum lagi dari awal pernah ada yang namanya golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, golongan Kristus. Dan di surat yang kedua ini Paulus masih menghadapi pihak-pihak yang menentang kewibawaannya sebagai rasul.
Dalam keadaan jemaat yang mudah terjadi perpecahan ini tentu saja mereka juga mudah kehilangan sukacita. Mau sukacita karmana ko satu bakanjar dengan satu. Satu kasi jato satu. Satu gunjing satu, satu sindir satu. Mana ada sukacita? Karena itu Paulus mengawali kesimpulan penutupnya dengan kata “bersukacitalah”. Nah supaya ada sukacita maka dong harus barenti bikin blok dalam jemaat, barenti bakanjar satu dengan satu, barenti deng satu olok satu, barenti deng satu bagosip satu. Barenti deng satu korek satu ko bilang, lia sang dia do, dia pikir dia su hebat deng dia pung karunia, karunia bagitu sa ju. Pelihara kelakuan yang begini ni sonde akan bisa rasa sukacita. Tidor malam maen bale kiri bale kanan sonde sonu2 kalo hidup pikir mau bakanjar sa dengan orang laen. Tidor malam tabola bale bukan karena pikir nona makin manyala tapi pikir beta ni yang paling manyala, sonde ada yang bole lawan. Sukacita sonde ada. Maka ketika Paulus bilang “bersukacitalah” itu artinya buang itu semua yang bikin bosong sonde ada sukacita. Sukacita tu sonde bisa pura2. Sukacita tu lahir dari hati. Hati yang bersyukur akan talenta dan karunia yang dimiliki diri sendiri, hati yang menerima dan mensyukuri karunia dan kelebihan orang lain, hati yang menerima perbedaan sebagai kekayaan karunia Roh Kudus, hati yang memaafkan walaupun direndahkan.
Setelah mengatakan bersukacitalah, Paulus bilang usahakanlah dirimu supaya sempurna. Padahal, mana ada manusia yang sempurna? Sebaik apapun kita, kita tetap tidak sempurna. Kita sering bilang yang sempurna tu hanya Tuhan. Tapi, ini Paulus ke sonde mau tau, pokoknya usahakan sempurna. Sama ke kotong liat kotong pung ana dong ada belajar untuk besok mau ulangan matematika dan kotong bilang pokoknya usaha ko besok dapat 100 o, padahal kotong tau ini ana ni agak lemah di matematika. Tapi apakah sempurna ini semudah dapat 100 dalam ulangan matematika, yah kalo belajar babae pasti dapat 100 karena matematika itu ilmu pasti. 1+1=2, pasti 2, sonde pernah 1+1=3 atau 4. Nah sempurna dalam kehidupan berjemaat, dalam kehidupan beriman apakah bisa juga semudah dan sepasti matematika? Kita sering pake alasan, manusia sonde ada yang sempurna. Ini hari beta bisa sabar tapi besok bolom tentu, beta kumpul2 sa sang lu, lu tunggu nanti dia pung saat beta kasi sang lu baru lu tarima tar ontong. Kesabaran yang dikira adalah buah Roh terrnyata malah berubah jadi dendam. Tapi, Paulus bilang usahakan ko lu sempurna, usahakan ko bosong sempurna. Artinya apa? Artinya Paulus sonde mau kotong pake itu ungkapan manusia sonde ada yang sempurna tu menjadi alasan untuk tidak melakukan seperti apa yang Tuhan mau. Jadi harus usaha supaya sempurna. Dengan bsgitu baru mereka bisa menerima segala nasihat Paulus. Kalo sonde ada sukacita, kalo sonde usaha supaya sempurna maka dong sonde bisa terima nasihat dari Paulus. Yang mungkin terjadi adalah penolakan. Paulus lu tau apa? Lu ke tau-tau sa, mau iko campor urusan di sini? Apalagi waktu itu ada yang meragukan kerasulan Paulus bahkan mengatakan Paulus adalah rasul palsu. Paulus lu sapa lu, rasul abal-abal sa ko sok kasi nasihat sang kotong. Hanya orang-orang yang rendah hati dan mau dinasihati saja yang bisa menerima nasihat Paulus yang cukup keras. Dan nasihat yang keras itu banyak berkaitan dengan masalah persekutuan sehingga Paulus melanjutkan dengan mengatakan mereka harus sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera. Sehati sepikir ini bukan berarti harus usaha ko seragam seperti tiap senin dan kamis kita pake baju seragam. Kotong liat kotong di kantor ni, biar senin kamis su ada seragam sendiri tapi banyak yang sonde pake itu seragam dengan banyak alasan, lupa cuci na, sesak na dan macam-macam alasan. Itu baju seragam tu kelihatan, tapi hati ni sonde kelihatan. Mau usaha kasi seragam itu hati? 😊Sepikir lagi? Sapa bisa kasi seragam apa yang kotong pikir? Dari tadi saya berdiri di sini ni, masing-masing tentu punya pikiran yang berbeda tentang saya. Mungkin ada yang liat saya punya rambut dan mulai pikir tentang rambut saya (mamtua bilang pernah botak, coba ada fotonya beta mau liat). Ada yang liat saya punya kacamata dan punya pikiran sendiri tentang kacamata, mamtua sonde cocok pake kacamata model bagitu. Ada yang liat dan pikirkan yang laen lai. Juga dalam hitungan detik pikiran kita juga bisa berubah. Lagi dengar khotbah tiba-tiba sadar blom absen. Tadi ada dengar khotbah ma tiba-tiba su korek ka Ed kasi tau ka Ed tadi beta sonde terlambat tadi beta lupa absen, atau ame HP ko WA ka Ed. Kakak beradik yang kembar identic saja hati dan pikirannya berbeda apalagi kita yang tidak ada mirip-miripnya juga.
Maka sehati sepikir di sini maksudnya adalah kita hidup dengan penuh kesadaran bahwa perbedaan itu adalah kenyataan yang tidak bisa kita hindari dan karena itu kita hanya bisa hidup saling menerima satu sama lain. Segala kelebihan dan kekurangan adalah tanda bahwa Allah memperlengkapi kehidupan jemaatNya dengan cara saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Paulus pernah singgung juga tentang banyak anggota tapi satu tubuh yang saling melengkapi.
Yang berikut hidup dalam damai sejhatera. Ini bukan hanya sekedar perasaan batin atau aman sentosa semata tapi didasarkan pada hubungan, relasi dengan Allah yang membuat kita rindu untuk hidup dalam kebenaran dan kasih. Maka kita tidak lagi punya keinginan untuk menjatuhkan, memfitnah dan mengabaikan pihak lain. Dan kita akan mengaminkan apa yang Paulus katakan “Dan Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu”
Tanda bahwa ada sukacita, ada usaha untuk sempurna, sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera itu diperlihatkan melalui saling memberi salam dan cium yang kudus. Kita saling memberi salam, shalom, selamat pagi, selamat siang, jabat tangan dan cium, itu bisa menjadi tanda bahwa hubungan kita masih akrab dan baik-baik saja. Tidak baik-baik saja ketika berjumpa saling buang muka, tidak bertegur sapa, ko lu sapa ko beta musti toe sang lu 😊Tapi bisa juga kita saling bertegur sapa, bahkan baciom namun hati kita masih menyimpan sakit dan luka, masih marah dan dendam. Kita bertegur sapa dan baciom hanya sandiwara saja. Karena itu ciumnya itu di sini Paulus bilang bukan cium biasa tapi haruslah cium yang kudus. Cium yang kudus itu artinya hati kita tulus dan suci dalam mengasihi dan menghormati orang yang kita salami dan cium. Dalam cium yang kudus ada kasih dan hormat yang lahir dari hati yang tulus, hati yang murni, hati yang bersih, hati yang suci. Itu bukan drama pendek, bukan pura2, bukan sandiwara.
Satu hal lagi, penulisan surat kepada jemaat di Korintus ini juga diketahui para pengikut Kristus di termpat Paulus menulis surat ini sehingga mereka turut menitipkan salam mereka kepada jemaat di Korintus. Artinya bukan hanya Paulus yang peduli dengan pergumulan jemaat di Korintus tetapi banyak pengikut Kristus yang juga peduli dan tentu saja mendoakan mereka.
Dan pada akhirnya, Paulus menutup suratnya dengan berkat. Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan Persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (ayat 13). Kita bisa meyakini bahwa kita sudah diselamatkan dari kutuk dosa dan maut itu semata-mata hanya karena anugerah, hanya karena kasih karunia. Allah dalam kasihNya sebagai Sang Bapa menjelma menjadi manusia di dalam Kristus untuk menyelamatkan kita. Dan ketika kita menerima karya keselamatan itu, kita yang adalah manusia yang penuh kelemahan dan mudah jatuh ini tidak dibiarkan sendiri, kita diberi Roh Kudus untuk terus membimbing kita dalam mensyukuri karya keselamatan itu melalui langkah juang kita sebagai pengikut Kristus di tengah dunia ini.
Banyak hal sedang kita gumuli dalam kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan berjemaat, kehidupan bermasyarakat, dalam tugas, tanggung jawab dan karya kita di rumah bersama ini. Apakah ada sukacita yang lahir dari hati yang tulus ketika kita saling tersenyum, bertegur sapa dan bersalaman? Apakah ada damai Sejahtera ketika kita mengucapkan Shalom? Apakah ada pergumulan pribadi yang cukup berat sedang kita hadapi saat ini? Apakah ada pergumulan pelaksanaan program yang sedang kita kerjakan bersama? Apapun itu yang sedang kita gumuli saat ini kiranya kita dikuatkan dan diteguhkan untuk terus melakukan dan memperjuangkan yang terbaik. Saya pribadi sangat dikuatkan dengan berkat Allah Tritunggal, kiranya bapa/mama saudara-saudari, rekan-rekan sepelayanan juga demikian. Amin? Amin!











