
ATAMBUA, www.sinodegmit.or.id, – Kabupaten Belu, yang dikenal sebagai “Tanah Sahabat”, resmi menjadi titik awal penyebaran obor perdamaian bagi Indonesia melalui pembukaan Festival Paskah Pemuda GMIT. Bertempat di Gereja GMIT Anugerah Atambua, Klasis Belu, pada Sabtu (28/3/2026), kegiatan ini mengusung tema “Cahaya Damai dari Gerbang Selatan Nusantara (City of Love and Harmony)” sebagai simbol perjuangan membangun persahabatan dari beranda depan negara.
Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat Karmany, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Belu. Ia menekankan bahwa sinergi ini menjadi kunci suksesnya pembukaan festival yang sarat akan makna spiritual dan sosial tersebut.
“Dari negeri para sahabat, mari kita gaungkan perdamaian untuk para sahabat-sahabat yang ada di Nusa Tenggara Timur dan secara umum untuk Indonesia,” ajak Pdt. Zimrat dalam suara gembalanya.
Bupati Belu, Willybrodus Lay, yang melepas langsung para peserta festival, menegaskan bahwa Belu memiliki posisi strategis untuk menyuarakan perdamaian dunia. Beliau berharap festival ini tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan menjadi gerakan nyata.
“Festival ini bukan sekadar festival, tetapi sebuah momentum refleksi dan perdamaian yang kita mulai dari Rai Belu, tanah sahabat. Mari kita gaungkan perdamaian dari Belu untuk NTT dan Indonesia,” ujar Willybrodus.
Ia juga menambahkan pesan mendalam mengenai esensi perdamaian:
“Perdamaian tidak datang secara tiba-tiba, perdamaian adalah pengorbanan dari kita. Ke depan kita harus menyebarkan semarak perdamaian tidak hanya di Belu, tetapi juga ke seluruh Indonesia dan dunia melalui kegiatan ini.”
Selain sisi spiritual, Bupati Willy mengusulkan agar Festival Paskah ini menjadi agenda tahunan. Tujuannya adalah untuk menjadikan kegiatan ini sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal dan pemberdayaan UMKM di daerah perbatasan.
Ketua Pemuda Sinode GMIT, Erenst Blegur, menjelaskan bahwa tahun ini menandai transformasi besar bagi perayaan Paskah GMIT. Jika sebelumnya hanya dikenal sebagai pawai atau prosesi biasa, kini formatnya dikembangkan menjadi festival yang diharapkan mampu menarik perhatian dunia ke NTT.
“Saya berharap Gereja GMIT bisa memiliki gerakan ‘Cahaya Damai’ yang mampu bersinar luas hingga ke seluruh dunia. Perayaan Paskah tahun ini tidak hanya sebatas tradisi tahunan, melainkan momentum penting bagi NTT sebagai Gerbang Selatan Nusantara,” jelas Erenst.
Sebagai bagian dari rangkaian festival, panitia juga menyelenggarakan lomba paduan suara pada malam sebelum pembukaan. Menariknya, peserta tidak hanya datang dari kabupaten tetangga, tetapi juga melibatkan peserta dari negara tetangga, Timor Leste, guna bersama-sama menyuarakan semangat persaudaraan lintas batas.
Turut hadir dalam momen tersebut Ketua UPP, Pelayanan Pemuda, Kaum Bapak dan Insan dengan Disabilitas, Pdt. Ferderik Herison Herewila Majelis Sinode GMIT, Pdt. Ferderik Herison Herewila, Ketua Panitia Festival Paskah, Simson Polin, Ketua MUI Belu, dan Pengurus Pemuda Katolik Komcab Belu, dan para Pendeta GMIT. *











