
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Hari ini kita memasuki Minggu Adven yang pertama. Di banyak gereja, lilin pertama dinyalakan sebagai tanda dimulainya masa penantian menjelang Natal. Adven artinya “kedatangan”. Kita bukan hanya menunggu tanggal 25 Desember, bukan hanya menunggu suasana pesta, baju baru, atau berkumpul dengan keluarga. Kita sedang mengingat dan merayakan Dia yang datang, Yesus Kristus, yang dulu datang dalam kerendahan dan yang akan datang kembali dalam kemuliaan.
Kalau kita melihat keadaan dunia dan juga kehidupan di sekitar kita, suasana hati kita sebenarnya sering tidak tenang. Di luar sana kita mendengar berita perang, krisis, perubahan iklim, penyakit, kekerasan, kejahatan yang makin berani. Di tengah masyarakat kita melihat semakin banyak keluarga yang retak, kasus perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, judi online, pinjol, masalah ekonomi, anak- anak yang kehilangan arah. Ada keluarga-keluarga yang tahun ini harus melepaskan orang-orang yang mereka kasihi karena kematian. Ada yang sedang bergumul dengan sakit, ada yang dikhianati, ada yang sedang memikul beban ekonomi yang berat. Di situasi seperti ini, tidak heran kalau kita bertanya dalam hati: “Tuhan, ke mana semua ini berjalan? Apa masih ada harapan?”
Dalam bacaan Markus 13 yang kita dengar, Yesus berbicara tentang akhir zaman. Sekilas, kata “akhir zaman” sering membuat orang takut. Ada yang panik, ada yang sibuk menghitung tanda-tanda, ada yang gelisah dan bertanya-tanya: “Apakah saya siap?” Tetapi maksud Yesus bukan untuk menakut-nakuti kita. Yesus tidak memberikan jadwal kiamat supaya kita tegang setiap hari. Ia justru mau memberi kepada para murid dan kepada kita satu cara pandang yang benar: bahwa hidup ini sedang berjalan menuju penggenapan rencana Allah, dan karena itu kita diajak menanti dengan pengharapan dan penyerahan diri.
Yesus menggambarkan tanda-tanda yang mengerikan: matahari menjadi gelap, bulan tidak bercahaya, bintang-bintang berjatuhan. Itu bahasa gambaran tentang dunia yang terguncang, tentang segala sesuatu yang selama ini kita anggap kokoh tiba-tiba goyah. Bukankah kadang kita merasa begitu? Ketika orang yang kita sayang dipanggil pulang, ketika tiba-tiba kita kehilangan pekerjaan, ketika hutang menumpuk, ketika suami atau istri berkhianat, ketika anak-anak memberontak, ketika penyakit datang tanpa diduga, dunia kita serasa runtuh. Matahari hidup kita seolah padam.
Namun di tengah gambaran yang mengerikan itu, Yesus menaruh satu kalimat yang menjadi pusat pengharapan: “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan Ia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi.” Itu berarti bahwa akhir dari segala sesuatu bukan kegelapan, bukan kekacauan, bukan kuasa kejahatan. Akhir dari segala sesuatu adalah kedatangan Yesus sendiri, Sang Anak Manusia, dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya. Dia datang bukan hanya sebagai Hakim yang mengadili dunia yang jahat, tetapi juga sebagai Raja yang mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya, mereka yang percaya dan berharap kepada-Nya.
Bagi orang yang tidak mengenal Tuhan, akhir zaman memang menakutkan. Tapi bagi orang percaya, akhir zaman adalah puncak pengharapan. Air mata tidak akan selamanya. Dukacita tidak akan selamanya. Ketidakadilan tidak akan selamanya. Ada hari di mana Tuhan sendiri mengumpulkan kita, memulihkan, menegakkan kebenaran dan keadilan-Nya. Inilah yang menguatkan kita yang sedang berduka, yang sedang patah hati, yang sedang lelah. Kita boleh berduka, kita boleh menangis, tapi kita tidak putus asa. Sebab kita tahu: rencana Allah belum selesai.
Setelah itu, Yesus mengajak murid-murid belajar dari hal yang sangat sederhana, yaitu pohon ara. Ketika rantingnya melembut dan bertunas, orang tahu bahwa musim panas sudah dekat. Tanda kecil pada pohon menjadi jaminan bahwa musim akan berganti. Kita di sini mungkin tidak akrab dengan pohon ara, tetapi kita kenal tanda-tanda musim. Ketika angin tertentu mulai bertiup, ketika awan gelap berkumpul, ketika rumput mulai mengering atau sebaliknya mulai hijau, kita tahu: musim berganti. Kita percaya begitu saja, karena kita sudah berkali-kali mengalami pola itu.
Yesus memakai contoh itu untuk berkata: kalau tanda-tanda alam saja bisa kamu percaya, apalagi perkataan-Ku. Segala sesuatu di dunia ini memang bisa berubah, bisa berlalu, bisa runtuh. Tetapi Yesus berkata: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku takkan berlalu.” Janji Tuhan tidak pernah batal. Firman-Nya tidak pernah sia-sia. Itulah alasan mengapa kita boleh tetap berharap di tengah ketidakpastian.
Pada saat yang sama, Yesus juga mengingatkan tentang hari dan saat kedatangan-Nya, tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan malaikat pun tidak, bahkan Anak pun tidak; hanya Bapa yang tahu. Artinya, kita tidak diminta untuk sibuk menghitung tanggal. Kita tidak dipanggil untuk hidup dalam ketakutan, menafsir tanda demi tanda dan menyusun kalender kiamat. Yang Tuhan mau bukan itu. Yang Tuhan mau adalah kita hidup setiap hari dalam kesadaran bahwa waktu ada di tangan-Nya, dan karena itu kita mengisi waktu dengan kesetiaan.
Karena itu Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang tuan rumah yang pergi ke luar negeri. Ia meninggalkan rumahnya, memberikan tanggung jawab kepada para hamba, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Gambaran ini sangat jelas: Yesus adalah Sang Tuan, kita adalah para hamba yang dipercayakan tugas. Hidup kita bukan milik kita sendiri, tetapi titipan. Keluarga, pekerjaan, pelayanan, harta, waktu, semua itu adalah kepercayaan dari Tuhan. Kita tidak tahu kapan Tuan akan datang. Ia bisa datang sewaktu-waktu. Karena itu, tugas kita bukan tidur dan berpangku tangan, melainkan setia mengerjakan apa yang dipercayakan.
Di sini kita belajar bahwa menanti dalam iman bukan menanti secara pasif. Menanti dalam pengharapan adalah penantian yang aktif. Kita tetap bekerja, tetap melayani, tetap mengasihi, tetap berdoa, tetap jujur, tetap taat, sambil menaruh harapan pada janji Tuhan. Mungkin di tengah kejujuran kita, kita malah rugi secara materi. Mungkin karena kita menolak ikut arus kecurangan, kita justru disingkirkan. Mungkin karena kita setia pada pasangan, kita harus menanggung luka yang berat. Mungkin karena kita mau hidup benar, kita dikucilkan. Tapi Firman Tuhan mengingatkan bahwa jerih lelah kita di dalam Tuhan tidak sia-sia. Penderitaan karena kebenaran justru mempertegas fokus kita pada tujuan akhirnya yang mulia: dikumpulkan bersama Kristus dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya.
Menanti dalam penyerahan diri berarti juga berjaga-jaga. Berjaga-jaga bukan berarti hidup dalam panik dan ketakutan, seolah-olah setiap saat Tuhan hanya mencari-cari kesalahan kita. Berjaga-jaga berarti sadar dan waspada, tahu bahwa hidup ini serius, dan karena itu kita tidak mau main-main dengan dosa. Kita tidak mau main-main dengan kebencian, dengan ketidakjujuran, dengan kekerasan. Kita tidak
mau mengeraskan hati. Kita tidak mau tidur dalam kenyamanan rohani yang palsu. Kita ingin hidup
setiap hari dengan sikap: “Tuhan, hidupku milik-Mu. Pakai aku. Bentuk aku. Pimpin aku.”
Dalam kenyataan hidup, ini sangat praktis. Bagi seorang suami, berjaga-jaga berarti mengasihi istri, menghormatinya, tidak memukul, tidak merendahkan, tidak mengabaikan. Bagi seorang istri, berjaga-jaga berarti mendukung suami, membangun rumah tangga dengan hikmat, bukan dengan gosip, amarah, dan kekerasan kata-kata. Bagi orang tua, berjaga-jaga berarti mendidik anak-anak dengan kasih dan keteladanan, bukan hanya dengan tuntutan dan ancaman. Bagi anak-anak dan remaja, berjaga-jaga berarti belajar dengan tekun, menghormati orang tua, menjauhi narkoba, miras, judi online, pergaulan bebas yang merusak. Bagi pemuda-pemudi, berjaga-jaga berarti memakai masa muda untuk berkarya dan melayani, bukan hanya mengejar kesenangan sesaat. Bagi majelis dan pelayan gereja, berjaga-jaga berarti menggembalakan jemaat dengan hati yang tulus, bukan hanya mengurus acara, tetapi sungguh-sungguh memperhatikan orang-orang yang lemah dan menderita.
Minggu Adven pertama dalam bahan yang kita pakai tahun ini secara khusus diarahkan untuk mengingat dan merangkul keluarga-keluarga yang berduka, keluarga yang sepanjang tahun kehilangan orang-orang yang mereka kasihi. Di tengah duka itu, gereja dipanggil untuk menjadi persekutuan yang menanti dan berjaga bersama. Kita tidak hanya berkata, “Sabar ya, nanti juga kuat.” Kita diajak hadir, mendoakan, mengunjungi, menyatakan kasih secara nyata, sekaligus mengingatkan bahwa di dalam Kristus, kematian tidak punya kata terakhir. Masih ada hari di mana Tuhan menghapus air mata dari mata kita.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, masa Adven mengingatkan kita bahwa Kristus yang kita nantikan adalah Kristus yang telah datang dalam kerendahan, lahir di kandang, hidup sebagai hamba, mati di salib dan bangkit bagi kita. Dialah yang akan datang kembali dalam kemuliaan. Kedatangan-Nya yang pertama menjamin pengampunan dan keselamatan kita. Kedatangan-Nya yang kedua menjamin bahwa keadilan dan kebenaran Allah akan dinyatakan sepenuhnya. Di tengah dua kedatangan itu, kita ditempatkan sebagai gereja yang menanti.
Karena itu, mari kita menanti bukan dengan ketakutan, tetapi dengan pengharapan. Mata kita tertuju kepada janji-Nya, bukan kepada situasi dunia yang terus berubah. Mari kita menanti bukan dengan pasrah buta, tetapi dengan penyerahan diri yang aktif. Tangan kita tetap bekerja, hati kita tetap percaya, hidup kita tetap diarahkan kepada Kristus. Mari kita hidup sebagai persekutuan yang berjaga-jaga, yang setia di tempat tugas yang Tuhan percayakan, yang saling menguatkan satu sama lain.
Kiranya di masa Adven ini, ketika lilin pengharapan dinyalakan, hati kita pun benar-benar menyala dengan pengharapan kepada Kristus dan penyerahan diri yang penuh kepada-Nya. Dan ketika Ia datang – entah kapan – kiranya Ia mendapati kita bukan sedang tidur rohani, tetapi sedang berjaga dan setia, menanti dalam pengharapan dan penyerahan diri.
Amin.











