
KUPANG, www.sinodegmit.or.id, – Yayasan CBN Indonesia bekerja sama dengan Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menggelar kegiatan Retreat The Parenting Project (TPP) dan Wisuda TPP Angkatan Pertama Sinode GMIT di Gedung GMIT Center, Kupang. Kegiatan yang mengusung tema “Bersama Gereja, Membangun Keluarga yang berpusat pada Kristus” ini dilaksanakan pada Selasa, 26 Mei 2026.
Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Jecklevyn Frits Manuputty, Majelis Sinode GMIT, serta Ketua Yayasan Cahaya Bagi Negeri Indonesia (CBN-I) Ps. Mark Samuel McClendon, Pengurus CBN-I, para Ketua Majelis Klasis (KMK), para Pendeta GMIT dan keluarga, serta 75 peserta dari staf Sinode GMIT yang telah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran program TPP.
Retreat ini bertujuan memperlengkapi pasangan suami istri pendeta jemaat agar mampu membangun keluarga yang sehat, kuat, dan menjadi teladan bagi generasi sesuai prinsip Firman Tuhan. Melalui kegiatan ini, peran orang tua sebagai pemurid utama dalam keluarga dan keterlibatan aktif para ayah dalam pengasuhan anak kembali dikuatkan.
Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, dalam suara gembalanya menyampaikan bahwa CBN-Indonesia merupakan mitra PGI yang memiliki perhatian (concern) yang sama terhadap pendidikan keluarga. Hal ini sejalan dengan tema “Ecclesia Domestica” atau keluarga sebagai gereja (gereja berbasis keluarga).
Pdt. Jacklevyn menyampaikan bahwa berdasarkan situasi kontemporer saat ini, ada kerapuhan-kerapuhan dalam keluarga yang dipicu oleh tuntutan perfeksionisme. Oleh karena itu, keluarga semestinya menjadi ruang pemulihan, rahmat, dan kasih, di mana para anggotanya saling memulihkan, bukan saling melukai.
“Di tengah perkembangan teknologi yang sangat luar biasa, di mana pengetahuan tentang apa saja bisa diakses melalui internet, hanya satu hal yang tidak tersedia, yakni pengalaman perjumpaan dengan Tuhan. Hal ini hanya bisa didapat dengan membangun relasi dengan Tuhan secara tulus (genuine), baik dalam keluarga maupun masyarakat. Sebuah perjumpaan secara langsung untuk merasakan emosi, dan bukan hasil dari kecerdasan buatan (artificial intelligence),” kata Pdt. Jacklevyn.
Ia berharap kegiatan-kegiatan seperti ini dapat menggerakkan gereja-gereja, dan dampaknya bisa terukur hingga ke level jemaat.

Sementara itu, Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, dalam sapaannya menyampaikan terima kasih kepada CBN-Indonesia yang dipandang turut menyempurnakan visi pelayanan GMIT, khususnya program ‘Gereja Ramah Anak’. Beliau menegaskan bahwa visi ini harus dimulai dari lingkungan keluarga Kristen. Di tengah tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat komitmen gereja dalam menanganinya.
“Secara teknis, proyek 7 modul telah selesai. Ini bukan hanya formalitas, tetapi ada PR (pekerjaan rumah) yang harus dilanjutkan dalam keluarga dan pelayanan di jemaat. Bapak dan Ibu yang telah menyelesaikan proyek ini akan menjadi pionir untuk menerapkannya di dalam keluarga masing-masing,” ujar Pdt. Saneb.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada CBN-I atas kerja sama tersebut, juga kepada para KMK, dan Pendeta yang hadir, juga kepada Badan Pembantu Pelayanan Sinode GMIT dan Unit Pembantu Pelayanan Sinode GMIT serta karyawa yang Ia juga menyampaikan terima kasih kepada CBN-Indonesia atas kerja sama tersebut, serta kepada para Ketua Majelis Klasis, pendeta yang hadir, Badan Pembantu Pelayanan (BPP) Sinode GMIT, Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Majelis Sinode GMIT, hingga para karyawan yang telah mengikuti modul tersebut sampai selesai.
Dalam pelaksanaannya, para peserta mendapatkan pemaparan materi yang terbagi ke dalam tiga modul utama. Modul pertama membahas materi “Orang Tua Menjadi Teladan yang Baik” yang dimulai pada pukul 09.00 WITA. Setelah jeda istirahat dan makan siang, kegiatan dilanjutkan pada pukul 14.00 WITA dengan modul kedua bertajuk “Menjadi Seorang Ayah”. Pada pukul 16.00 WITA, peserta TPP Angkatan Pertama bergabung untuk mengikuti modul ketiga, yaitu “Orang Tua Sepanjang Masa”, sebelum akhirnya dilanjutkan dengan prosesi wisuda dan sesi penutup.

Melalui pelaksanaan program ini, sinergi pelayanan antara Sinode GMIT dan Yayasan CBN Indonesia diharapkan dapat terus berkembang. Selain itu, kegiatan yang diadakan di Sinode GMIT ini ditargetkan mampu menjadi contoh bagi gereja-gereja lain di bawah naungan PGI dalam mengimplementasikan Program TPP sebagai upaya nyata mewujudkan Eklesia Domestika. *











