//Wujudkan Gereja yang Inklusi, Majelis Sinode GMIT Gelar Pelatihan Juru Bahasa Isyarat di Kupang

Wujudkan Gereja yang Inklusi, Majelis Sinode GMIT Gelar Pelatihan Juru Bahasa Isyarat di Kupang

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Untuk mewujudkan gereja yang inklusi, Majelis Sinode GMIT menggelar Pelatihan Juru Bahasa Isyarat bagi Klasis Kota Kupang, Klasis Kota Kupang Timur dan Klasis Kota Kupang Barat, di Jemaat Paulus, Kupang pada Selasa dan Rabu (26-27/8/2025).

Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Andre Otta, banyak gereja yang belum memahami pentingnya pelayanan yang ramah terhadap penyandang disabilitas, dan juga belum memiliki aksesibilitas fisik maupun non-fisik, seperti infrastruktur yang ramah kursi roda, materi liturgi yang dapat diakses oleh jemaat tunanetra, atau dukungan bahasa isyarat bagi jemaat tuli.

Hal ini tidak hanya menimbulkan keterasingan bagi penyandang disabilitas, tetapi juga mencerminkan kurangnya pemahaman teologis tentang inklusivitas sebagai nilai utama dalam Kerajaan Allah.

Oleh karena itu kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menciptakan gereja yang inklusif dengan sikap ramah disabilitas, termasuk memperhatikan aksesibilitas mereka, salah satunya ialah renovasi bangunan gereja. 

“‎Kami berupaya menjadi mata bagi mereka yang tidak bisa melihat, kaki bagi mereka yang tidak bisa melangkah, tangan bagi mereka yang tidak bisa menjabat, mulut bagi yang tidak bisa berbicara dengan baik, untuk mewujudkan penyetaraan bagi semua orang,” tutur Andre.

Sementara itu, Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Blegur dalam suara gembalanya mengajak semua orang untuk menciptakan keadilan bagi kaum disabilitas dengan menyediakan ruang yang ramah bagi mereka.

“Pelatihan ini merupakan upaya GMIT untuk menciptakan keadilan bagi kaum disabilitas, sekaligus menjadi jembatan agar injil dapat didengar dengan baik,” kata Pdt. Saneb.

Ia mengajak seluruh jemaat untuk merubah paradigma bahwa kaum disabilitas adalah orang yang berkekurangan dan patut ditolong, padahal mereka merupakan ciptaan Allah yang sempurna yang mesti diberi ruang dalam pelayanan. Selain itu, gereja membangun kompetensi warga untuk bersikap inklusif terhadap semua orang.

Kegiatan tersebut diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Leny Mansopu. ‎Dalam ibadah tersebut, seorang penyandang tunanetra membaca Alkitab dari Injil Lukas 16:19-31 dengan menggunakan ujung jarinya untuk merasakan titik-titik timbul pada permukaan yang dicetak pada braille.

Hadir dalam kegiatan tersebut Staf Ahli Wali Kota Kupang Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Maria M. Detaq, Majelis Klasis Harian (MKH) Kota Kupang, MKH Kota Kupang Timur dan MKH Kota Kupang Barat, Majelis Jemaat Paulus Naikoten, para Pendeta GMIT, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang, Dumuliahi Djami, M.Si, Pengurus Insan dengan Disabilitas Sinode GMIT, para fasilitator dan Pemateri, Pemerintah Kelurahan Naikoten, Pengurus GAMKI Kupang dan peserta pelatihan.

Diinformasikan bahwa Jemaat Paulus Naikoten merupakan satu-satunya Jemaat GMIT yang berkomitmen untuk menciptakan Gereja yang Ramah Disabilitas, dan akan di launching pada Minggu, 5 Oktober 2025, dilanjutkan dengan Workshop Gereja Ramah Disabilitas pada Sabtu, 11 Oktober 2025. ***