
Bapak/ibu saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus!
Gambaran tentang ‘gembala yang melukai’ bukan hanya sebuah cerita kuno dalam Alkitab, melainkan realitas hidup yang masih terjadi hari ini. Hal ini nampak melalui sikap penyalahgunaan kekuasaan dan kepercayaan, serta eksploitasi ekonomi untuk memperoleh keuntungan. Kita ingat kasus penipuan dan pembunuhan berkedok agama yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Probolinggo (2016). Di pesantren yang ia dirikan, alih-alih menggembalakan umatnya secara rohani, justru dengan modus menggandakan uang, ia menipu dan memeras umatnya. Bahkan ada umat yang menjual tanah dan ternak mereka untuk menjadi pengikut Dimas. Saya kira kalimat yang tepat untuk kasus ini ialah ‘gembala yang memakan habis lemak domba yang ia gembalakan’. Demikian juga dengan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang masih terjadi di lingkungan gereja. Perayaan Hari Kartini tahun ini menjadi ruang refleksi bagi kita tentang tingginya kasus kekerasan seksual di NTT. Hingga April 2026, tercatat 1.481 kasus[1], tak terkecuali terjadi di lingkungan gereja. Sampai hari ini, gereja masih berjuang dengan hal tersebut untuk memberikan pemulihan bagi para korban dan pelaku kekerasan seksual. Hal ini menyadarkan kita bahwa terkadang ada situasi di mana pemimpin rohani atau pemimpin masyarakat melukai umat yang ia pimpin, bukan membalut luka. Dan terkadang kekerasan muncul dari tempat yang seharusnya ada perlindungan, justru menjadi tempat intimidasi, eksploitasi dan menimbulkan trauma bagi orang di lingkungan tersebut.
Bapak/ibu saudara/i yang dikasihi Tuhan Yesus!
Teks yang kita baca hari ini tidak asing bagi kita, sebab merupakan salah satu teks yang seringkali dipakai dalam rangka peneguhan anggota majelis jemaat baru, atau penahbisan pendeta untuk memberikan nasihat tentang gembala-gembala yang baik dan yang tidak baik atau yang jahat.
Yehezkiel melayani pada masa pembuangan di Babel. Pada waktu itu, Yerusalem ditawan di Babel, namun mereka tetap menolak untuk bertobat, mereka justru tenggelam dalam penyembahan berhala dan kejahatan. Di samping itu, Yehezkiel juga berhadapan dengan nabi dan nabiah palsu yang menyebarkan tipu muslihat kepada orang-orang buangan (13:1-13). Ia juga berhadapan dengan penguasa-penguasa yang tamak, yang seharusnya memikul tanggung jawab atas bangsa itu, tetapi tidak mereka lakukan.[2] Untuk melawan mereka, Yehezkiel menulis surat ini. Ia memaparkan kontradiksi antara gembala yang baik dan yang jahat.
Dalam teks ini, kata ‘gembala’ adalah orang yang menggembalakan ternak. Kata ini juga biasa dikenakan kepada Tuhan, seperti dalam Mazmur 23, yang terkenal itu. Selain itu, kata ini juga merupakan metafor untuk seorang raja, yakni orang yang memimpin dan membina manusia. Secara implisit, Yehezkiel menunjuk kepada tugas dan kewajiban raja, yaitu melindungi dan memberikan kesejahteraan kepada umatnya. Menurut Yehezkiel, raja-raja itu ternyata tidak melaksanakan tugas dan panggilan mereka. Mereka tidak menggembalakan umat, tetapi menggembalakan diri sendiri, atau dengan kata lain mencari kepentingan diri sendiri. Mereka memanfaatkan domba-domba mereka, yakni rakyat mereka: susunya diminum, bulunya dibuat pakaian, daging lemaknya dimakan (Yeh.34:3)[3]. Ini merupakan gambaran tentang tindakan eksploitasi secara total dan keserakahan yang ekstrim. Suatu ungkapan yang menggambarkan situasi di mana seorang yang kuat/berkuasa mengambil seluruh sumber daya yang dimiliki oleh orang-orang kecil dan tak berdaya, tanpa menyisahkan apapun. Yang lemah tidak dikuatkan, yang sakit tidak diobati, yang luka tidak dibalut, yang tersesat tidak dibawa pulang, yang hilang tidak dicari, – melainkan domba-domba itu diperlakukan dengan keras dan kejam. Ada sikap ketidakpedulian terhadap keselamatan domba-domba, sebaliknya, para raja mementingkan diri mereka dengan mengambil segala yang terbaik dari rakyat kecil. Mereka bersikap apatis terhadap kelemahan rakyat kecil. Tidak membalut yang terluka dan menyembuhkannya. Mereka berorientasi pada keuntungan diri, bahkan mengambil daging lemak sebagai bagian terbaik yang seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan.[4] Hal ini menunjukan adanya tindakan penyalahgunaan wewenang yang dipercayakan kepada mereka, bahkan mereka tidak menghormati Tuhan sebab mengambil apa yang sebenarnya menjadi hak Tuhan. Kita belajar bahwa ketika kuasa, kepentingan pribadi dan keuntungan lebih diutamakan daripada ketulusan, kerendahan hati dan kasih, maka yang muncul ialah penindasan dan kekerasan kepada orang lain.
Para gembala bukan tidak tahu tentang hal ini. Hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh para gembala terhadap domba-dombanya, justru mereka tidak lakukan. Dan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan, mereka lakukan. Hal ini nampak jelas dalam bacaan kita bahwa ‘Bukankah para gembala seharusnya memberi makan kawanan domba?’ Pertanyaan ini merupakan sindiran Tuhan kepada para gembala sebab mereka tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Suatu bentuk krisis etika kepemimpinan dan kegagalan integritas. Tidak konsisten antara pengetahuan moral dan tindakan. Tahu hal yang baik tetapi tidak melakukannya. Tahu hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan, malah melakukannya.
Para gembala juga memeritah dengan kekerasan dan kekejaman. Oleh karena tidak digembalakan dengan baik sebagaimana mestinya, domba-domba terserak-serak di mana-mana, di pembuangan Babel, Mesir atau tempat lainnya. Mereka juga mudah menjadi mangsa binatang buas. Oleh sebab itu, Tuhan menghukum para gembala atau raja-raja yang demikian. Mereka diberhentikan dari tugas sebagai gembala (ay. 10). Selanjutnya Allah sendiri yang menggembalakan umat-Nya dengan cara yang berbeda dengan para gembala yang jahat. Allah menjadi lawan bagi gembala-gembala yang lalai dalam melaksanakan tugasnya. Allah mencari domba-domba yang tercerai, membawa mereka pulang kembali ke tanah Israel, ke lahan yang subur, membalut luka dan menguatkan mereka yang lemah. Suatu tindakan pembebasan dari perbudakan atau dari penahanan di penjara.
Bapak/ibu, saudara/i yang dikasihi Tuhan!
Hal ini merupakan gambaran dari gembala yang sejati, yakni membalut yang terluka. Gembala yang sejati ini membiarkan mereka berbaring dengan tenang, membawa pulang yang terbuang, membalut yang hancur dan menguatkan yang lemah (bnd. tindakan Tuhan sebagai Gembala yang baik dalam Mazmur 23 dan Yohanes 10). Ia tidak hanya mencari dan menyelamatkan yang hilang, tetapi juga memberikan ruang yang aman, memulihkan keadaan mereka, bahkan memulihkan daya tahan hidup mereka.
Yehezkiel juga menggambarkan perlakuan sewenang-wenang dari domba-domba yang kuat terhadap domba-domba yang lemah. Manusia bertindak layaknya serigala yang mengeksploitasi, mendorong dan merusak sumber daya manusia lainnya yang lemah. Hal ini menyebabkan Tuhan bertindak sebagai hakim diantara mereka. Tuhan berpihak kepada domba yang lemah, sehingga yang kuat tidak lagi memangsa domba yang lemah. Tetapi ia menunjukan kasih dan keadilan-Nya. Ia tidak hanya menghadirkan keadilan restoratif, memulihkan martabat kaum yang tertindas, tetapi juga menertibkan kelompok yang merasa superior.[5] Yang gemuk dan kuat dilindungi, yang lemah dikuatkan (ay.16). Ia memelihara mereka dengan keadilan.
Bapak/ibu, saudara/i yang dikasihi Tuhan!
Dari penjelasan di atas, kita memahami bahwa tugas sebagai gembala melekat dalam diri kita. Entah sebagai pendeta, pastor, konselor, majelis jemaat, pengajar, pekerja di lingkungan gereja dan pekerja profesional lainnya merupakan gembala dan orang yang digembalakan. Ada perjumpaan dengan orang yang letih, kecewa dan terluka karena berbagai persoalan, mulai dari pengalaman hidup yang pahit dan relasi yang rusak. Ada peristiwa masa lampau yang pahit, menyakitkan, mengecewakan, melukai yang membuat kita terluka, tertekan, menderita, tak berdaya, trauma dan mengganggu aktifitas hidup. Apa peranan kita? apakah kita berperan sebagai gembala yang melukai atau gembala yang membalut luka. Atau mungkin ada luka-luka pribadi dalam diri sang gembala yang bisa membahayakan orang-orang yang sedang digembalakan.
Menurut Laporan Barna Group dalam studi The State of Pastors (2023–2024), adanya degradasi kesejahteraan yang mengkhawatirkan di kalangan pendeta. Data menunjukkan penurunan tajam pada kesehatan mental emosional, di mana hanya 14% pendeta yang merasa dalam kondisi baik pada 2023, melonjak turun dari 39% di tahun 2015. Krisis ini ditandai dengan tingginya tingkat kelelahan ekstrim (burnout), isolasi sosial (tidak melakukan perkunjungan jemaat), serta keraguan terhadap panggilan pelayanan. Bahkan, temuan yang sangat drastis menunjukkan bahwa sekitar 18% pendeta pernah mempertimbangkan untuk menyakiti diri sendiri atau meninggalkan pelayanan dalam satu tahun terakhir akibat tekanan beban tugas yang tidak realistis dan konflik internal jemaat yang terpolarisasi.[6]
Hasil penelitian di atas menunjukan kepada kita bahwa ketika seseorang mengabaikan kesehatan mental dan spiritual pribadinya, akan mengalami degradasi integritas dan moral. Hal ini akan membahayakan orang-orang di sekitarnya, tak terkecuali orang yang sedang digembalakan. Akibatnya jemaat merasa tidak didengar, kehilangan kepercayaan, kehilangan sosok panutan, bahkan menjauh dari gereja serta tidak berpartisipasi dalam pelayanan. Jadi jika kita tidak merawat kesehatan mental kita, tidak hanya berdampak pada kita yang mengalaminya, tetapi juga membahayakan orang-orang yang kita gembalakan.
Oleh karena itu, penting bagi gembala-gembala masa kini untuk merawat mental, merawat kesehatan, berbagi dengan sahabat, healing, dan mengelola setiap persoalan yang muncul, termasuk trauma masa lalu. Hal lain yang penting ialah dukungan dan doa dari komunitas, baik jemaat yang dilayani, maupun rekan pelayan, agar para gembala dapat melaksanakan pelayanan dengan menjadi gembala yang membalut luka, bukan yang melukai. Para gembala juga membutuhkan ruang untuk memulihkan diri dari situasi burnout dan isolasi sosial. Seperti kata Flora Slosson Wuellner, ‘Gembalakanlah gembala-gembala-Ku’ agar tidak melukai domba-domba yang mereka layani.
Yang terakhir, dari peristiwa paskah, kita belajar dari Yesus Kristus Sang Gembala Sejati untuk melayani orang-orang di sekitar kita dengan penuh kasih, mengampuni, tulus, tidak mengutamakan kepentingan pribadi dan mencari keuntungan, mencari dan menyelamatkan yang hilang, melindungi, memberikan ruang yang aman, memulihkan keadaan mereka, bahkan memulihkan daya tahan hidup mereka. Tuhan memberkati kita. Amin. *
[1] https://www.kpksigap.com/peringatan-hari-kartini-gmni-kupang-soroti-1-481-kasus-kekerasan-perempyan-di-ntt/, akses 23/4/2026
[2] J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab.II (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1989), 244
[3] Emanuel Gerrit Singgih, Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis, Yehezkiel, Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2020, hal. 261.
[4] F. Delitzsch & Carl F. Keil, Commentary on the Old Testament.Vol. IX (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1978), 83.
[5] Singgih, Yehezkiel…., 262.
[6] https://www-barna-com.translate.goog/research/pastors-quitting-ministry/, akses 23/4/2026











