
PENGANTAR
Kata Pentakosta – sekarang ini, di kalangan kita orang Kristen, lebih merujuk pada Peristiwa Keturunan atau Pencurahan Roh Kudus. Tetapi…, Mengapa Pencurahan Roh Kudus itu terjadi pada Hari Pentakosta? Tentu bukanlah suatu kebetulan. Ada makna yang luar biasa di dalamnya.
Pentakosta – Ημέρα Πεντηκοστή – artinya – Hari ke Lima Puluh merujuk pada Imamat 23:15-21 dan Ulangan 16:9-11. Erev Shavuot ADALAH Hari Raya Panen Gandum … 7 minggu sesudah Paskah. Jika Pentakosta Perjanjian Lama adalah Perayaan Panen Pertama Gandum, maka Pentakosta Perjanjian Baru adalah Perayaan Panen Pertama Jiwa-jiwa ! Dan itulah hasil dari Pencurahan Roh Kudus itu.
Jika perayaan Pentakosta hanya mengenai ‘keturunan Roh Kudus”, maka ceritanya cukup sampai di situ. Tetapi, ceritanya masih berlanjut … dan akan terus berlanjut … Ada makna dan pesan yang lebih dalam dari itu, yaitu mengapa dan apa yang terjadi ketika atau setelah Roh Kudus itu Turun atau Dicurahkan!
Roh Kudus sendiri pada hakekatnya, sebagai Roh, Tidak Terlihat. Tetapi dalam sejarah iman, Roh Kudus telah menampakkan diri dalam berbagai macam rupa. Pada saat Pembaptisan Tuhan Yesus oleh Yohanes Pembaptis, Roh Kudus turun dalam rupa “Burung Merpati”. Pada Hari Pentakosta, Roh Kudus turun dalam rupa “lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran” – kita biasa menyebutnya “lidah api”. Lalu lidah-lidah api itu “hinggap pada mereka masing-masing”.
Pertama-tama, Pencurahan Roh Kudus itu adalah pemenuhan janji Tuhan Yesus – Yoh 14:26; Yoh 16:7; sebagaimana sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama – Yes 44:3; Yeh 39:29; Yoel 2:28; Za 12:10. Peristiwa Pentakosta adalah Konfirmasi kebenaran Alkitab dan keeMesiasan keTuhanan Yesus Kristus !
Yoh 14:26 … Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku … Yoh 16 7 … jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia (Penghibur itu) kepadamu.
Yes 44:3 … Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Yeh 39:29 Aku tidak lagi menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, kalau Aku mencurahkan Roh-Ku ke atas kaum Israel, demikianlah firman Tuhan ALLAH.”
Yoel 2:28 “Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, …”
Yoel 2:28 ini yang dirujuk oleh Rasul Petrus ketika menjelaskan peristiwa Pentakosta itu dalam Kis 2:16-20
Kedua, Pencurahan Roh Kudus adalah untuk maksud dan tujuan tertentu:
Tujuan utama Peristiwa Pentakosta itu adalah supaya murid-murid, orang-orang percaya – mendapat kuasa, kemampuan untuk bersaksi – memberitakan Injil!
Kis 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Yoh 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Itulah yang terjadi pada Hari Pentakosta itu, atau mulai hari Pentakosta itu … Ay 4, “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata…”. Berkata-kata tentang apa ? “tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah …” (ay 11) – yaitu yang telah dilakukan Allah “di dalam dan melalui Tuhan Yesus Kristus !”
Maka, dimulailah “masa panen Perjanjian Baru”. Peristiwa Pentakosta Perjanjian Baru adalah pemenuhan Tipologi Pentakosta Perjanjian Lama – sebagai Hari Raya Panen – Hulu Hasil. Jika Pentakosta Perjanjian lama menyangkut “panen gandum”, maka Pentakosta Perjanjian Baru menyangku “panen jiwa-jiwa”!
Jika merujuk pada Kis 1:15, kita bisa menyimpulkan bahwa yang berkumpul pada hari Pentakosta itu, tidak kurang dari 120 orang -> Kis 1:15 – Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya -> Kis 2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
Pada hari Pentakosta itu, jumlah mereka bertambah 3.000 jiwa : -> Kis 2: 41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Sungguh, Panen yang luar biasa …. 25 kali lipat – dalam, beberapa jam … tidak sampai 1 hari !
Beberapa hari kemudian, sesudah khotbah Petrus di Serambi Salomo, jumlah mereka bertambah lagi menjadi sekitar 10.000 – Kis 4:4 Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.” (dengan asumsi jumlah laki- laki = perempuan). Jadi, dari sekitar 3.120 menjadi 10.000 !
Sekali lagi, Sungguh, Panen yang luar biasa …. Itulah hasil pekerjaan Roh Kudus, yang dicurahkan pada hari Pentakosta dan memenuhi murid-murid itu.
Tentulah, pertumbuhan orang-orang percaya, Gereja, tidak selalu dengan angka pertumbuhan setinggi itu. Tetapi, yang jelas, ketika Roh Kudus ada dan memenuhi orang-orang percaya, mereka, kita, akan terus bersaksi dan menuai. Sebab, sebagaimana kesaksian Petrus di muka pengadilan itu : “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” (Kis 4:20)
Mengapa? Karena itu satu-satunya pilihan. Kis 4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
Ini sangat eksklusif – Ekstrim eksklusif – suatu pandangan teologis yang, jujur, tidak disukai dan selalu dihindari. Dalam banyak masa, terutama akhir-akhir ini, kita lebih suka pada ‘teologi inklusif’. Tetapi, itu bukan ajaran Alkitab.
Saya suka merumuskan pandangan teologis Alkitabiah sebagai sebgau Dialektika antara Inklusifitas dan Eksklusifitas.
Injil Keselamatan itu sangat Inklusif, diperUNTUKkkan SEMUA orang – dalam totalitas pengertiannya : Semua bangsa bahkan segala makhluk di seluruh dunia :
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Mat 28:19)
“Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”
(Mrk 16:15)
Tetapi, jalan keselamatan itu Ini sangat eksklusif – Super Eksklusif – Ekstrim eksklusif – Hanya ada satu … Satu-satunya hanyalah Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada yang lain!
Itulah sebabnya, Pemberitaan itu sangatlah Urgen, sekaligus berbahaya … Itulah sebabnya, murid-murid Kristus diberi Kuasa – “… kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis 1:8). Dan kuasa itu hanya akan dimiliki, “kalau Roh Kudus turun ke atas kamu”.
Kita hanya akan bisa menjadi saksi dan bersaksi, jika kita telah menerima kuasa itu, dan kita hanya akan bisa menerima kuasa itu, jika Roh Kudus turun ke atas kita, atau, jika kita telah menerima dan dipenuhi oleh Roh Kudus.
Itulah yang telah dimulai pada Hari Pentakosta itu, dan terus berlangsung sampai hari ini dan akan terus berlangsung, sampai Akhir Zaman, ketika Tuhan Yesus datang kembali.
Ketiga, ada hal yang sangat luar biasa, yang tuhan pakai dalam melaksanakan Amanat AgungNya itu. Dan itu juga yang terjadi pada Hari Pentakosta itu :
“Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (Kis 2: 4)
Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. (Kis 2:6)
“Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri,
(Kis 2:8)
Dan Alkitab mencatat bahasa-bahasa apa saja waktu itu: Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir, Libia, Roma, Kreta, Arab … baik orang Yahudi yang tinggal di daerah-daerah itu maupun orang-orang daerah itu yang menganut agama Yahudi…
Pesan dari peristiwa ini sungguh luar biasa dan indah : Tuhan ingin agar berita Injil itu diperdengarkan dan didengar “dalam bahasa masing-masing dari semua orang yang mendengarnya”. Mengapa Tuhan tidak memakai 1 (satu) bahasa saja ? Bahasa Ibrani atau bahasa Aram atau bahasa Yunani? Atau bahassa Arab? Atau bahassa Indonesia? Pastilah ada pesan penting dalam misteri ini.
Tuhan ingin agar berita Injil itu menjangkau semua orang, dari segala suku dan bangsa, dengan cara yang paling otentik – yang bisa menyentuh segala aspek kedirian seseorang : bisa dimengerti, bisa dihayati, bisa dinikmati!
Seandainya waktu itu ada orang Sabu, pasti mereka mendengar Injil itu dalam bahasa Sabu. Kalau ada orang Rote, pasti mereka mendengarnya dalam bahasa Rote. Orang Timor akan mendengarnya dalam bahasa Timor. Orang Alor mendengarnya dalam bahasa Alor.
Saya ingat pernyataan seorang Senior dalam diskusi di Facebook lebih dari 10 tahun lalu : “Seorang tua di pedalaman Timor pernah mengatakan : “Kalo Bapa dong khotbah pake bahasa Indonesia, kami dengar … Kalo Bapa dong khotbah pake bahasa Timor, kami mengerti …!””
Jika kita memaknai “bahasa” di sini, tidak hanya menyangkut “bahasa verbal”, maka maknanya menjadi semakin menakjubkan:
Tuhan mau agar Injilnya disampaikan juga dalam “Bahasa Kanak-kanak”, agar bisa didengar, dipahami, dihayati juga oleh seorang Anak Kecil…
Tuhan mau agar Injilnya disampaikan juga dalam “Bahasa Sederhana”, agar bisa didengar, dipahami, dihayati juga oleh seorang Buta Huruf…
Tuhan mau agar Injilnya disampaikan juga dalam “Bahasa Digital”, agar bisa didengar, dipahami, dihayati juga oleh seorang Generasi Z ini…
Dan seterusnya… dan seterusnya …
Yang keempat, Peristiwa Pentakosta juga adalah “Solusi” yang Tuhan berikan atas Peristiwa Menara Babel. Pada Peristiwa Menara Babel :
Kej 11: 7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”
Penganekaragaman dan Pengacauan bahasa itu adalah hukuman dan cara Tuhan mengatasi masalah akibat penyalahgunaan kesatuan bahasa itu untuk melawan Tuhan.
Tetapi, keanekaragaman bahasa (dan budaya juga) mengandung resiko dan bahaya yang besar, dan itu yang terjadi sepanjang sejarah. Perbedaan menjadi alasan untuk kebencian dan permusuhan. Saudara dan teman adalah orang-orang yang satu atau sama bahasa dan budaya dengan kita. Orang yang berbeda, bukan saudara dan temah, bahkan adalah musuh.
Tuhan Yesus, dengan karunia Roh KudusNya, mengatasi dan memperbaiki kekacaubalauan akibat perbedaan bahasa itu, dengan cara yang sangat unik dan sangat indah, seperti yang terjadi pada hari Pentakosta itu.
Tuhan tidak mengembalikan kepada keadaan sebelum hukuman menara Babel itu, menetapkan satu bahasa lalu mengharamkan dan menghapus semua bahasa yang lain. Segala bahasa itu tetap dipelihara dan dihargai, tetapi Tuhan mengaruniakan Satu Unsur Hakiki yang bisa mempersatukan Semua bahasa, budaya dan bangsa: yaitu KASIH. Dan kasih yang sempurna itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Hanya Kasih itulah yang memungkinkan terwujudnya Kesatuan dan Persatuan yang Sejati.
Kalau dalam negara kita ada Prinsip : Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa … tetapi juga “Bhineka Tunggal Ika” – dalam iman Kristen, Tuhan menghimpun Segala dan Semua Pulau – Suku – Bangsa – Bahasa dan Budaya sebagai Satu ! tidak dengan menyeragamkan semuanya, tetapi dalam segala perbedaan itu.
Saya sejak lama menangkap pesan tersirat dari Peristiwa Pentakosta itu :
Tuhan tidak mau ada Bahasa dan Budaya yang musnah, hilang. Tuhan mau semua bahasa dan itu dilestarikan. Mengapa? Karena Tuhan mau supaya Ia disembah dan dimuliakan dalam atau dengan semua Bahasa dan Budaya itu, oleh semua orang dari segala suku dan bangsa.
Kalau diibaratkan nyanyian, Tuhan tidak mau hanya nyanyian pujian Unisono melulu … Tuhan mau ‘nyanyian paduan suara dengan jebis suara selengkapnya, dengan Harmoni terbaik”. Mengapa? Karena itu jauh lebih indah dan megah. Semua jenis suara bisa memuji Tuhan dengan 1 lagu yang sama : mau Sopran, MezoSopran, Alto, Tenor, Bariton maupun Bass – dengan rentang nada terendah sampai tertinggi, bisa menyanyikan satu lagu pujian bersama.
Jika Bahasa dan Budaya itu sebagai Mutiara, maka, bisa dikatakan, yang Tuhan kehendaki adalah agar Mahkota KemuliaanNya berhiaskan, tidak hanya satu jenis dan warna mutiara, tetapi segala jenis dan warna.
PERTANYAAN UNTUK DIRENUNGKAN
- Apakah Roh Kudus masih hadir dan bekerja di dalam dan melalui Kita – sebagai Pribadi maupun Persekutuan (Keluarga, Rayon, Jemaat, Klasis, Sinode GMIT) pada masa kini ? Apakah kita masih bersaksi memberitakan Injil kepada dunia pada hari-hari ini? Seberapakah hasilnya? Seberapa banyakkah Tuaian yang kita dapat ?
- Bagaimana Realitas Pelayanan dengan Bahasa-bahasa daerah Kita saat ini ? Masihkah Bahasa Daerah dipakai untuk memberitakan Injil ? Masihkah Bahasa Daerah kita dipakai untuk memuliakan Tuhan ? Seberapa baikkah ?
PENUTUP
Terakhir, Jika kita fokus pada rumusan Tema – “Kuasa Roh Kudus bagi Dunia yang Luka” – proses itu terjadi melalui dan hanya melalui Pemberitaan Injil. “Kuasa Roh Kudus bagi Dunia yang Luka” adalah dengan memberi Kuasa, Keberanian, Kemauan dan Kemampuan kepada semua orang Kristen untuk memberitakan Injil kepada “dunia yang luka”. “Kuasa Roh Kudus bagi Dunia yang Luka” adalah dengan memberi Kuasa, Keberanian, Kemauan dan Kemampuan kepada “dunia yang luka” ini untuk memahami dan menerima Injil Keselamatan itu.
Dunia hanya bisa disembuhkan jika datang dan menerima Tuhan Yesus Kristus – Sang Mesias – Juruselamat satu-satunya itu … “… oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh.” (Yesaya 53:5)
Dan Roh Kuduslah yang bisa dan akan membuat kita dan dunia ini mengerti …
“… Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26)
Amin !











