
KUPANG, www.sinodegmit.or.id,— Yayasan Alfa Omega (YAO) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Tarus menerapkan sistem manajemen profesional dan higienis dalam pengelolaan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui koordinasi yang terstruktur dan pengawasan ketat, dapur ini berkomitmen menyajikan makanan berkualitas tinggi bagi ribuan siswa serta kelompok rentan di wilayah sekitar.
Ketua YAO GMIT, Pnt. Nitanel Pandie, menegaskan bahwa seluruh penyelenggaraan dapur tersebut berjalan atas dukungan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yayasan. Regulasi ini memungkinkan terciptanya koordinasi dan komunikasi yang efektif di lapangan.
“Jika ada soal yang muncul dengan persiapan bahan baku makanan, kami langsung mengatasinya sekalipun itu merugikan, sebab kami ingin menyajikan makanan yang bergizi dan higienis kepada para penerima manfaat,” ujar Nitanel pada Rabu (12/5/2026).
Penerapan standar mutu ini dibuktikan dengan nihilnya kasus gangguan kesehatan pada sasaran program. Person in Charge (PIC) Dapur MBG YAO, Melakianus Potehadi, menjelaskan bahwa seluruh proses pengolahan makanan di dapur MBG wajib melewati serangkaian tahapan pemeriksaan yang ketat.
Proses dimulai saat pemasok (supplier) membawa bahan mentah yang langsung diperiksa oleh divisi penerimaan, asisten lapangan, dan ahli gizi untuk memastikan kelayakan kualitasnya. Selanjutnya, bahan makanan masuk ke divisi persiapan untuk pengecekan volume sesuai kebutuhan porsi, lalu diolah oleh divisi masak yang dipimpin oleh koki bersertifikat pelatihan. Sebelum didistribusikan, makanan kembali diperiksa di bagian pengemasan (packing).
“Anak-anak yang kami layani belum pernah mengalami keracunan. Bahan makanan itu harus kualitas yang baik, agar anak-anak yang menikmati sehat, sebab ada juga ibu hamil, ibu menyusui, dan balita,” kata Melakianus.
Untuk menyiasati potensi kelangkaan komoditas di pasar, ahli gizi menyusun variasi daftar menu harian yang fleksibel namun tetap mengacu pada standar kecukupan gizi yang telah ditentukan.
Selain jaminan mutu pangan, Dapur YAO Tarus juga menerapkan standar operasional yang ramah lingkungan. Fasilitas ini dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) khusus dapur produksi massal yang berfungsi menyaring minyak, lemak, sisa makanan, dan detergen. Langkah ini diambil guna mencegah kerusakan tanah, pencemaran air, dan bau tidak sedap. Melalui sistem IPAL tersebut, air buangan diproses menjadi air bersih yang dimanfaatkan khusus oleh petugas untuk menyiram kebun tanaman.
Sementara itu, untuk pengelolaan sampah organik dan anorganik, pihak dapur melakukan pemisahan secara mandiri dan diangkut oleh mobil sampah setiap dua hari sekali. Tata kelola kebersihan dan lingkungan ini juga telah diaudit secara resmi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Dari sisi pemberdayaan ekonomi lokal, operasional dapur ini berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Tenaga kerja dapur didominasi oleh Majelis Jemaat dari gereja-gereja sekitar wilayah Tarus. Selain itu, pasokan bahan baku makanan seperti sayur, beras, dan pisang diserap dari warga setempat yang tergabung dalam Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta didukung oleh hasil kebun mandiri milik YAO seperti pepaya dan pisang.
“Jadi warga sekitar yang memiliki sayur, beras, pisang, dan lain-lain yang tergabung dalam UMKM terdekat sini menjadi pemasok bahan makanan untuk dapur tersebut,” tambah Melakianus.
Saat ini, Dapur SPPG YAO Tarus melayani total 21 sekolah dan 1 posyandu. Total penerima manfaat mencapai 2.722 siswa yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan, di antaranya PAUD Merpati Tarus, TK Kristen Ceria Noelbaki, TK Bethesda 22, SD Inpres Tarus 1, SMPN 4 Kupang Tengah, SMAK Kupang, dan SMA Adven Nusra dan sekolah lainnya.
Program ini juga menjangkau 180 orang kelompok rentan di Posyandu Mawar, yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan anak bawah lima tahun (balita). Sebagai satu-satunya dapur program MBG yang dikelola di bawah naungan GMIT, fasilitas ini diharapkan dapat menjadi percontohan bagi dapur-dapur lainnya di NTT dalam hal keterbukaan, transparansi, serta sistem pengelolaan yang baik. *











