//Majelis Sinode GMIT Tempatkan Dua Guru di SD GMIT Taloi, Fokus Perkuat Pendidikan di Perbatasan

Majelis Sinode GMIT Tempatkan Dua Guru di SD GMIT Taloi, Fokus Perkuat Pendidikan di Perbatasan

Foto: Norman Nenohai

AMFOANG TIMUR,www.sinodegmit.or.id, – Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) melalui Badan Pendidikan melakukan visitasi sekaligus menempatkan dua tenaga pendidik baru di SD GMIT Taloi-Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, pada Senin (11/5/2026). Langkah ini diambil guna mengatasi kekosongan tenaga pengajar di sekolah yang terletak tepat di garis batas negara antara Indonesia dan Timor Leste tersebut.

Ketua Badan Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Norman M. Nenohai, menegaskan bahwa pembenahan sekolah-sekolah di bawah naungan GMIT menjadi prioritas utama kepengurusan periode ini.

“Sekolah ini menjadi perhatian penting karena merupakan fokus Majelis Sinode GMIT periode ini untuk memajukan sekolah GMIT. Selain itu, posisinya berada tepat di titik batas negara antara Indonesia dan Timor Leste,” ujar Pdt. Norman dalam pertemuan yang berlangsung di Gereja Paulus Oepoli.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Majelis Klasis Amfoang Utara, para pendeta setempat, Camat Amfoang Timur, pemerintah desa, komite sekolah, serta orang tua siswa.

Kedua guru yang ditempatkan adalah Marni Serlyanti Benu, S.Pd., Gr. dan Zendering Lidya Taniu, S.Pd., Gr. Keduanya merupakan lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang yang menempuh studi melalui skema kerja sama Sinode GMIT dan Majelis Pendidikan Kristen (MPK) di Indonesia.

Majelis Sinode GMIT berkomitmen untuk membiayai secara penuh honorarium kedua guru tersebut melalui skema dana pendidikan Sinode. Kehadiran mereka diharapkan dapat menggantikan peran dua guru dari Yayasan Tangan Pengharapan yang masa kontraknya akan berakhir pada Juni 2026 mendatang.

“Kami bersedia dengan sukacita pergi untuk mengabdi di SD GMIT Taloi,” ungkap kedua guru tersebut dalam momen penyerahan tugas.

Penempatan ini disambut haru oleh jemaat dan tokoh masyarakat setempat. Tom Kameo, salah satu tokoh masyarakat, menyebut kehadiran para guru ini sebagai jawaban instan atas doa mereka.

“Kami mengalami situasi yang luar biasa, ini seperti doa makan yang langsung dijawab. Baru seminggu yang lalu dalam Sidang Majelis Klasis, kami menyampaikan langsung ke Bapak Ketua Sinode GMIT untuk memperhatikan sekolah ini. Minggu ini, sudah ada dua orang guru misionaris yang ditempatkan di sini,” kata Tom.

Sebagai bentuk dukungan, jemaat setempat telah menyiapkan tempat tinggal lengkap dengan perlengkapan serta kebutuhan konsumsi bagi para guru baru tersebut.

Selain sumber daya manusia, Majelis Sinode GMIT juga memantau progres bantuan fisik untuk sekolah yang memiliki 56 siswa ini. Bantuan yang diberikan meliputi keramik untuk rehabilitasi empat ruang kelas, cat tembok, seng, serta material bangunan lainnya.

Terkait permintaan masyarakat akan kebutuhan Kepala Sekolah dan guru olahraga, Majelis Sinode menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang. Dalam waktu dekat, direncanakan akan ada penambahan personel pengajar lagi di sekolah tersebut.