
Foto: Pace F. Balukh
Amarasi Barat-Kupang, www.sinodegmit.or.id – Jemaat GMIT Ebenhaezer Noekaesmuti, Klasis Amarasi Barat, menggelar merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) jemaat ke-81, ibadah syukur panen, sekaligus peletakan batu pertama pembangunan gedung kebaktian yang baru, pada Minggu (21/6/2026).
Ibadah syukur tersebut dipimpin oleh Pdt. Erlynardi Theoris Fullderita Riwu Rame Radja Dima. Acara ini turut dihadiri oleh Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kupang, Bapak Alex Lulanga, S.H., serta Ketua Majelis Klasis Amarasi Barat Pdt. Doris Lopo Bois dan Jemaat setempat.
Dalam suara gembalanya, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, menekankan pentingnya peran gereja di ruang publik untuk merawat persekutuan, yang dianalogikannya seperti pemilik penginapan dalam kisah Orang Samaria yang Murah Hati. Ia mengingatkan bahwa kasih sejati tidak berpikir secara individual melainkan komunal, di mana selalu ada jalan keluar untuk setiap persoalan jika dihadapi bersama.
Pdt. Semuel juga mengajak jemaat memaknai syukur panen sebagai momentum untuk saling berbagi, serta memastikan gedung baru yang akan dibangun menjadi rumah yang merawat kebersamaan. Ia memotivasi jemaat untuk percaya diri membangun dengan apa yang dimiliki saat ini, berkaca pada sejarah jemaat yang tetap berdiri tegak melintasi keterbatasan.
“Kita merawat kehidupan orang lain, dari berkat yang Tuhan kasih kepada kita,” ujar Pdt. Semuel.
Ia berharap jemaat dapat terus merawat kasih, saling melayani dalam kesetiaan, dan mengandalkan kekuatan komunitas dalam menjalankan pelayanan.

Foto: Pace F. Balukh
Senada dengan hal tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kupang, Alexander, S.H., M.Pd.K dalam sambutannya mengapresiasi usia panjang jemaat yang dinilainya sebagai bukti ketangguhan iman lintas generasi. Ia menekankan agar kedewasaan institusi gereja ini diwujudkan secara nyata melalui penguatan moderasi beragama di tengah masyarakat.
“Saya mengajak jemaat Ebenhaezer untuk menjadi motor penggerak kerukunan yang adil dan seimbang, tidak ekstrem, saling merangkul, menghargai perbedaan, serta menolak segala bentuk perpecahan,” tegas Alex.
Lebih lanjut, Alex juga membedah makna ibadah syukur panen melalui kacamata ekoteologi. Menurutnya, alam dan iman saling bertautan, sehingga jemaat berkomitmen untuk merawat, melestarikan, dan menjaga lingkungan dari kerusakan, sekaligus menyisihkan berkat hasil bumi untuk menopang pelayanan gereja serta membantu sesama yang berkekurangan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Jemaat Ebenhaezer Noekaesmuti, Pdt. Noverikus D. Maufa, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas segala dukungan pelayanan yang telah menyertai jemaat hingga mencapai usia 81 tahun. Ia juga memberikan imbauan dan semangat kepada seluruh jemaat untuk terus bersatu dalam pelayanan.
Pdt. Noverikus mengimbau agar jemaat terus konsisten mendukung gerak pelayanan, terutama bergotong-royong dalam proses pembangunan gedung gereja yang baru agar dapat rampung dan selesai dengan baik. *











