//Gereja yang Hadir, Menemani dan Merawat (Lukas 10:25-37) – Pdt. Lusia M. Billik

Gereja yang Hadir, Menemani dan Merawat (Lukas 10:25-37) – Pdt. Lusia M. Billik

Pengantar

Kalau kita perhatikan daftar bacaan Alkitab GMIT, kita menemukan sebuah alur yaitu tema tahunan diturunkan ke tema bulanan dan tema mingguan. Tema besar bulan Juni: Menyembuhkan Luka Dunia dengan Kasih Kristus. kekuatan kasih Kristus menjadi obat untuk menyembuhkan luka. Kasih Kristus yang menyembuhkan mesti nyata dalam tindakan-tindakan belas kasih (hadir, menemani dan merawat). Belajar dari kisah orang Samaria yang merawat orang yang terluka, mengajarkan bahwa kasih kepada sesama tidak cukup hanya diketahui atau dibicarakan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Di tengah dunia yang penuh luka, penderitaan, dan kesepian, gereja dipanggil untuk hadir sebagai komunitas yang menemani dan merawat.

 Kisah orang Samaria yang murah hati hanya tercatat dalam Injil Lukas. Menurut tradisi, Injil Lukas ditulis oleh  tabib Lukas rekan pelayan rasul Paulus (Filemon.1: 24, Kol. 4:14) Seorang tabib tentu sangat dekat dengan kata-kata sakit, luka, rawat, sembuh. Lukas menekankan pemberitaannya dengan memberi penekanan pada hal-hal yang berkaitan  dengan karya kuasa Roh kudus, kehidupan jemaat mula-mula dan kepedulian serta belas kasih Yesus kepada mereka yang dikucilkan, menderita, yang sakit, kaum yang lemah dan terpinggirkan. Lukas mencatat  Perhatian Yesus kepada orang kecil dan tertindas.  

Dengan Penggambaran tentang Yesus yang peduli dan penuh belas kasih itu, maka para pengikut-Nya diharapkan mampu mempraktekkan  imannya kepada Yesus Kristus dengan berlaku sama, penuh belas kasih/kemurahan hati. Orang percaya tidak hanya mengetahui tentang perintah mengasihi, tetapi mampu melakukan dalam kehidupan. Tindakan orang percaya yang demikian adalah perwujudan kerajaan Allah yang dapat dirasakan oleh semua orang.  

Penjelasan Teks

Dalam kisah ini, Lukas, mencatat seorang ahli Taurat datang mencobai Yesus dengan pertanyaan, apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal?. Yesus berbicara tentang melaksanakan Taurat sebagai syarat. Namanya ahli Taurat, titik koma Taurat dikuasai, Ia bisa mengutip dengan benar hukum yang utama, yang merangkum semua hukum lainnya. Namun, ketika ia diminta menerapkan/melakukan apa yang diketahuinya, ia malah berkelit dengan pertanyaan balik“Siapakah sesamaku manusia?” Alkitab mencatat hal itu disampaikan “untuk membenarkan diri” (ayat 29). salah satu kendala manusia susah menjadi pelaku Firman adalah mendengar kebenaran berkali-kali, namun terus mencari pembenaran diri untuk tidak melakukannya. Selama kita selalu cari pembenaran diri maka akan menjadi hambatan untuk menjadi pelaku Firman. Tetapi jika kita membiarkan Firman dan kebenaranya menguasai hidup kita, kita akan dimampukan untuk melakukanya. 

Menjawab pertanyaan ahi Taurat itu, Yesus menyampaikan perumpamaan. Ada seorang yang dirampok dan dipukul, mengalami luka, ditinggalkan “setengah mati”. Secara harfiah, Ia dipukuli oleh para perampok.  Pakaiannya dirampas. Ia ditinggalkan di jalan sendirian dalam kondisi kritis. Nyawanya berada dalam bahaya besar. Secara rohani dan moral, keadaan “setengah mati” juga sering dipahami sebagai gambaran manusia yang membutuhkan pertolongan dan belas kasih. Orang itu tidak mampu menolong dirinya sendiri dan bergantung pada kemurahan hati orang lain.

Dalam kondisi ini, datanglah seorang Imam, ia melihat orang itu tetapi melewatinya. Perhatikan dua kata kerja ini, melihat lalu melewati. Demikian juga orang Lewi, keterangan yang sama, melihat dan melewati dari seberang jalan. Seorang imam, dan seorang Lewi, adalah bagian dari suku yang dikhususkan untuk melayani di Bait Allah. Mereka tahu betul tentang hukum-hukum Allah, untuk mengasihi Allah dan sesama. Bahkan mereka selalu memperkatakan kebenaran di depan umat Allah. Sayangnya, ketika diperhadapkan pada kebutuhan sesamanya, baik Imam maupun orang Lewi, tidak menunjukkan kasih itu. Apa yang menjadi alasan mereka tidak dijelaskan disini. Banyak penafsiran mengatakan mungkin mereka takut mengambil risiko menolong orang yang belum mereka kenal karena takut najis, sebab seorang imam yang mau melayani, tidak diperbolehkan menyentuh mayat. Dan karena kondisi orang yang terluka itu hampir mati, tentu ia takut menolong karena akan bersentuhan dengan orang itu. Mungkin juga mereka sangat sibuk dan sedang terburu-buru karena harus segera sampai melayani di bait Allah. Imam dan orang Lewi yang seharusnya menolong orang yang terluka itu ternyata mereka tidak melakukannya. Imam dan orang Lewi mengetahui perintah untuk mengasihi namun mereka tidak nyatakan dalam tindakan nyata. Tidak semua yang melihat penderitaan/luka mau terlibat untuk menemani, merawat. Terkadang yang paling diharapkan, tidak mampu menunjukkan empati, apalagi tindakan nyata.

Selanjutnya, Yesus menyebut seorang Samaria datang. Ia melihat, tetapi tidak melewati. Hatinya dipenuhi belas kasih dan ia menolong orang itu. Orang Samaria memiliki sejarah relasi yang kurang baik dengan orang Yahudi. Hal itu nampak dalam perbedaan asal-usul, yaitu setelah kerajaan Israel Utara ditaklukkan oleh Asyur pada tahun 722 SM, banyak penduduk asli dibuang dan pendatang dari bangsa lain ditempatkan di wilayah tersebut. Orang Yahudi kemudian memandang orang Samaria sebagai keturunan campuran yang tidak lagi murni mengikuti tradisi Israel. Orang Yahudi menganggap Bait Suci Yerusalem sebagai satu-satunya tempat ibadah yang sah.  Orang Samaria beribadah di Gunung Gerizim dan menganggap tempat itu suci.  Hal ini membuat mereka bermusuhan. Kedua kelompok saling curiga dan memandang rendah satu sama lain. Pada zaman Yesus, banyak orang Yahudi bahkan menghindari melewati wilayah Samaria.

Menariknya, melihat orang yang terluka itu, hati orang Samaria tergerak oleh belas kasihan. Ia melihat, tetapi tidak melewati melainkan mendekat. Hati yang digerakan oleh belas kasihan ditunjukan dengan tindakan-tindakan kasih.  Disini kita belajar bahwa kasih tidak hanya melihat dari jauh, tetapi mendekat dan bertindak.Yesus menjelaskan dengan detail tindakan kasih yang dibuat oleh orang Samaria. Rangkaian tindakan kasih orang Samaria menunjukan beberapa hal:

  1. Kehadiran dan Empati: Orang Samaria itu “tergerak oleh belas kasihan” saat melihat orang yang terluka. Dalam pelayanan, ini adalah langkah awal yang penting. Kehadiran yang tulus dan kesediaan untuk berbagi penderitaan. Belas kasih membuat seseorang berhenti dari kesibukannya, melihat orang lain dan hadir. Kehadiran sering kali lebih berarti daripada banyak nasihat.
  2. Tindakan Konkret menemani dan merawat (Holistik): Ia tidak berhenti pada simpati. Ia membalut luka dengan minyak dan anggur (tindakan medis masa itu, anggur dan minyak merupakan dua hal yang dipakai untuk merawat luka), menaikkan korban keledainya, membawanya ke penginapan, dan merawatnya. Ini menunjukkan tindakan nyata terhadap kebutuhan fisik dan emosional secara langsung.
  3. Pendampingan berkelanjutan: orang Samaria tidak hanya melakukan pertolongan pertama, tetapi memastikan pemulihan orang yang terluka itu, dengan membayar biaya penginapan dan menjanjikan pelunasan biaya tambahan sekembalinya ia. Hal ini mencerminkan komitmen untuk mendampingi hingga pemulihan tuntas.

Yesus kemudian menanyakan siapakah yang menjadi sesama bagi orang yang dirampok/terluka? Tentu saja adalah orang yang telah menunjukkan belas kasihan, yaitu orang Samaria. Berarti Yesus memperluas arti sesama yang dipahami oleh ahli Taurat hanya sebatas pada kelompoknya, menjadi lebih luas, melampaui batas suku, status sosial, golongan dan perbedaan lainnya.

Yesus mengakhiri perumpamaan ini dengan sebuah ajakan “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37). Ajakan ini bukan sekadar nasihat, melainkan panggilan bagi setiap pengikut Kristus untuk menghidupi kasih dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan-tindakan yang nyata. Bertolak dari kisah di atas, kasih nyata dalam kesediaan untuk hadir, menemani dan merawat sesama yang terluka.  Kasih yang nyata dalam tindakan ini, mesti ditunjukkan pada sesama yang membutuhkan tanpa dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan. Kasih yang ditunjukkan melampaui batas-batas yang dibangun oleh prasangka dan permusuhan. Karena itu, murid Kristus dipanggil untuk mengesampingkan kebencian, stereotip, dan sikap eksklusif, serta keluar dari ikatan legalisme yang lebih mementingkan aturan daripada manusia.

Penutup

Tema renungan “Gereja yang Hadir, Menemani, dan Merawat” mengingatkan bahwa panggilan gereja bukan hanya menyampaikan ajaran tentang kasih, tetapi juga menghadirkannya secara nyata dalam kehidupan. Kisah orang Samaria yang menolong korban perampokan/orang yang terluka menunjukkan bahwa kasih sejati diwujudkan melalui kehadiran yang peduli, keberanian untuk mendekat, serta tindakan nyata untuk menolong mereka yang menderita.

Dalam gereja sebagai persekutuan orang percaya, kita bisa menemukan sesama yang sementara terluka “setengah mati”. Sesama yang sakit, berkekurangan, lansia yang kesepian, anak-anak yang membutuhkan perhatian ,keluarga yang sedang mengalami pergumulan. Ketika kita melihat mereka, mendekatlah, hadir ditengah mereka dan menjadi sesama bagi mereka. Jangan “melewati” begitu saja.  Kehadiran yang nyata, lebih kuat dari beribu nasehat. Dalam kehadiran itu, kita dimampukan untuk mengetahui apa yang menjadi luka mereka, lalu bersama-sama berjuang dengan tindakan-tindakan untuk memulihkan. Selain hadir dan menemani, gereja juga dipanggil untuk merawat. Bentuk tindakan merawat bisa kita lakukan dengan pelayanan diakonia (karitatif, reformatif, transformatif), pelayanan kesehatan dan pendidikan, dukungan bagi keluarga yang sedang mengalami pergumulan. Hal ini menunjukan gereja bukan hanya tempat berkhotbah tentang kasih, tetapi juga tempat kasih itu dirasakan.

Melakukan ini bukanlah hal yang mudah, betapa kita semua butuh kasih karunia Tuhan untuk dapat mengasihi dengan sungguh-sungguh dalam tindakan nyata dan tanpa batas.  Memang sulit untuk benar-benar mengasihi jika kita sendiri belum mengalami kasih Allah. Tetapi jika kasih Allah mengalir dalam kita, kita akan dimampukan untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki.

Hari ini kita dipanggil untuk “Pergilah, dan perbuatlah demikian.” Kiranya gereja kita tidak hanya dikenal karena gedungnya, programnya, atau kegiatannya, tetapi juga karena kehadirannya yang setia menemani dan merawat sesama yang terluka. Tidak hanya melihat dan melewati, tetapi hadir, menemani, merawat. Amin