//Mengakar pada Tradisi, Merayakan Kehidupan: Festival Olang Mangsari 2026 di Pulau Pura Alor Sukses Digelar

Mengakar pada Tradisi, Merayakan Kehidupan: Festival Olang Mangsari 2026 di Pulau Pura Alor Sukses Digelar

ALOR, www.sinodegmit.or.id, — Jemaat Elim Dadibira bersama masyarakat Pulau Pura sukses menyelenggarakan Festival Budaya “Olang Mangsari” 2026 pada tanggal 24–25 Juni 2026. Berpusat di Pantai Vetabang, Pulau Pura, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), festival tahunan ini digelar sebagai sarana edukasi kebudayaan sekaligus upaya nyata untuk melestarikan cara hidup tradisional masyarakat setempat yang bergantung pada kekayaan laut, darat, dan hasil pohon tuak.

Tahun ini, festival yang diinisiasi berdasarkan keputusan Persidangan Majelis Jemaat Elim Dadibira Tahun 2026 tersebut mengusung tema “Merayakan Kehidupan dalam Budaya Olang Mangsari ‘Ver Medi’: Menyulam Harmoni Antara Laut, Tradisi, dan Kehidupan”. Ver Medi sendiri merupakan tradisi lokal dalam mengambil bubu plat, yaitu alat penangkap ikan tradisional berbentuk persegi berukuran besar yang terbuat dari bambu.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Gubernur NTT Drs. Johni Asadoma, Wakil Sekretaris Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Pdt. Zimrat M.S. Karmany, jajaran Pemerintah Kabupaten Alor, Majelis Klasis Alor Barat Laut, Majelis Klasis Alor Barat Daya, masyarakat Pulau Pura, serta para wisatawan domestik dan mancanegara.

Harmoni Iman dan Kelestarian Alam Laut

Dalam suara gembalanya, Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M.S. Karmany, menekankan bahwa esensi ibadah tidak terbatas di dalam gedung gereja saja. Menurutnya, festival ini menunjukkan bahwa aktivitas sehari-hari masyarakat, seperti melaut, juga merupakan wujud dari ibadah dan rasa syukur atas penyediaan Tuhan.

“Laut bukan hanya sebagai tempat berwisata, tetapi sebagai sumber kehidupan bagi orang Pura dengan kekayaan yang tidak akan pernah habis karena Allah terus menyediakan,” ujar Pdt. Zimrat.

Pdt. Zimrat juga mengajak semua pihak untuk terus mempromosikan Festival Olang Mangsari agar skalanya meningkat dari tingkat lokal menuju tingkat nasional hingga global. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya merawat pantai dan mengantisipasi abrasi lingkungan.

Senada dengan hal tersebut, Pdt. Selvy Putri Fabiola yang melayani Jemaat Elim Dadibira, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran dan dukungan dari Majelis Sinode Harian GMIT, Pemerintah Provinsi NTT, serta Pemerintah Kabupaten Alor.

“Melalui perayaan kehidupan dalam budaya Olang Mangsari ini, kita belajar dari ritual budaya untuk melihat harmoni antara laut, alam, dan tradisi pemberian Tuhan. Kami berharap terus ada dukungan untuk pengembangan, tidak hanya untuk Pantai Vetabang, tetapi juga untuk melestarikan festival ini secara berkelanjutan,” tutur Pdt. Selvy.

Sebagai bagian dari refleksi spiritual, festival ini juga merangkaikan kegiatan Ibadah Penyegaran Iman (IPI) yang dipimpin oleh Pdt. Markus Leunupun dengan menyelaraskan tema besar festival.

Dorongan Ekonomi Kreatif dan Sektor Pariwisata NTT

Wakil Gubernur NTT, Drs. Johni Asadoma, dalam sambutan resminya memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan festival ini. Pemerintah Provinsi melihat kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam mempromosikan potensi ekonomi kreatif dan pariwisata di Kabupaten Alor.

“Ini merupakan wujud kepedulian terhadap budaya sekaligus upaya untuk memperkenalkan kekayaan alam dan potensi ekonomi, sekaligus memperkenalkan Pulau Pura ke khalayak yang lebih luas guna menarik destinasi wisata domestik dan mancanegara,” kata Johni Asadoma.

Ia juga mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tetap memegang teguh dan menjaga nilai-nilai luhur budaya yang diwariskan oleh para leluhur di tengah arus modernisasi.

Harapan Infrastruktur di Destinasi Wisata Pantai Vetabang

Penyelenggaraan Festival Olang Mangsari terbukti membawa dampak konkret bagi kawasan sekitar. Melalui pelaksanaan festival pada tahun sebelumnya, Jemaat Elim Dadibira berhasil mendapatkan bantuan berupa dua unit homestay dari Bank Indonesia. Secara swadaya dan mandiri, jemaat juga terus mengembangkan fasilitas di Pantai Vetabang dengan membangun lopo-lopo dan kafe untuk kenyamanan pengunjung.

Kendati demikian, mengingat lokasi Pantai Vetabang kini telah resmi menjadi salah satu destinasi pariwisata unggulan di Kabupaten Alor, pihak penyelenggara dan jemaat berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun provinsi terkait infrastruktur penunjang.

Pihak Jemaat Elim Dadibira menyampaikan aspirasi mendesak mengenai kebutuhan pembangunan tanggul penahan ombak demi mengantisipasi abrasi yang kian mengikis bibir pantai akibat gelombang laut. Selain itu, pembangunan tambatan perahu sangat dibutuhkan guna mempermudah akses transportasi dan mobilisasi para pengunjung maupun wisatawan yang akan hadir pada festival di tahun-tahun mendatang. *