
Saudara-saudari yang terkasih, tidak semua luka itu kelihatan. Ada luka yang tersembunyi di dalam hati dan pikiran. Dari luar, seseorang bisa tampak baik-baik saja, tetap tersenyum, bekerja, melayani, bahkan rajin beribadah. Tapi di dalam, ada jiwa yang sedang letih, gelisah, dan bingung. Kadang kita ingin bercerita, tetapi takut dibilang lemah. Kita ingin mengeluh, tetapi malah dinasihati, “sudahlah, jangan terlalu banyak mengeluh.” Akhirnya, kita memilih diam, memendam semuanya sendiri, dan hanya bisa berkata dalam hati, “Tuhan, saya capek.”
Mazmur 42 berbicara sangat jujur tentang kondisi ini. Berikut ini adalah sebuah ilustrasi tentang hati yang kosong, gelisah, jiwa yang kering, tapi tetap berusaha berharap kepada Tuhan. Ada seorang bernama TreeDom, biasa dipanggil Bro Dom. Suatu sore, ia duduk sendirian di teras rumah. Secangkir kopi ada di tangannya, tetapi sudah dingin. Pikirannya melayang entah ke mana. Sudah lama ia merasa hidupnya seperti berjalan di tempat. Pekerjaan yang dulu ia banggakan, kini terasa biasa saja. Doa-doa yang dulu mengalir dengan lancar sekarang terasa kaku dan hampa. Ia tetap berdoa, tetapi seolah hanya mengucapkan kata-kata tanpa rasa. Hatinya kering. Ia ingin bercerita kepada temannya, tetapi teringat ucapan, “jangan terlalu mengeluh.” Sejak itu, ia memilih diam. Ia merasa sendirian dan bertanya-tanya, kepada siapa lagi ia bisa mengadu.
Saudara saudari yang terkasih …. apakah kita pernah berada di posisi Bro Dom? Aktif melayani, rajin bekerja, tetapi di dalam hati ada kelelahan yang mendalam. Jika iya, Mazmur 42 seperti surat cinta Tuhan yang berkata: Aku tahu pergumulanmu. Mazmur 42 adalah salah satu puisi paling emosional dan mendalam di dalam Alkitab. Mazmur ini tidak hanya bicara soal “haus akan Tuhan,” tetapi juga tentang perjuangan mental melawan depresi dan rasa kehilangan, oleh orang beriman yang jujur. Pemazmur tidak menutupi perasaannya. Ia tertekan, rindu Allah, merasa jauh dari hadirat Tuhan, bahkan diejek oleh orang lain. Namun di tengah tekanan itu, ia belajar berharap kepada Allah.
Mazmur 42 ditulis oleh bani Korah. Besar kemungkinan mazmur ini lahir ketika Pemazmur tidak berada di Yerusalem, jauh dari Bait Allah. Bani Korah adalah keturunan Korah yang memberontak terhadap Musa di Padang gurun. Meskipun nenek moyang mereka dihukum, keturunannya tetap setia dan dipilih menjadi penyanyi, serta penjaga pintu gerbang di Bait Suci. Mereka adalah musisi profesional di Bait Allah. Jadi, Mazmur ini sebenarnya adalah sebuah lirik lagu (maskil) yang sangat teknis namun penuh perasaan.
Dalam ayat 7, disebutkan bahwa “tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon” serta “gunung Mizar.” Ini menunjukkan bahwa penulis berada di wilayah Utara, jauh dari pusat ibadah (Bait Suci) di Yerusalem.
Jika dilihat secara psikologi, penulis merasa “dibuang” atau tidak bisa pulang ke rumah Tuhan. Ada tekanan dari musuh yang terus mengejek dengan pertanyaan, “di mana Allahmu?” (ay. 4, 1). Ini kemungkinan besar terjadi pada masa pembuangan atau saat terjadi konflik internal di kerajaan yang membuat para pelayan Bait Suci harus melarikan diri.
Viktor Frankl, seorang psikiater penyintas Holocaust, dalam bukunya Man’s Search for Meaning, membahas bagaimana manusia bereaksi ketika “dirampas” dari rumah, identitas, dan kenyamanannya.
- Eksistensi yang kosong: penulis Mazmur kehilangan akses ke Bait Suci (pusat maknanya). Frankl menyebut ini sebagai existential vacuum.
- Ketahanan (resilience): Meskipun merasa “dibuang”, penulis tidak menyerah, Ia menggunakan penderitaannya untuk mencari makna yang lebih dalam tentang Tuhan, bukan lagi sebagai “ritual di gedung”, tapi sebagai “kebutuhan jiwa” yang personal.
Salah satu bagian paling menarik ialah pada ayat 2: “seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Ayat ini menggambarkan keadaan alam di Timur Tengah, di mana air adalah sumber kehidupan yang langka. Rusa yang dikejar pemangsa, – atau seseorang yang sedang berada di musim kemarau, akan mengalami dehidrasi yang hebat. Ada tekanan di mana mereka akan berlindung dan memohon pertolongan. Pada saat haus, penulis menggunakan analogi ini untuk menggambarkan bahwa bagi dia, kehilangan kehadiran Tuhan bukan sekadar “sedih,” tapi merupakan ancaman kematian bagi jiwanya.
John Bowlby adalah seorang psikolog yang berbicara tentang Teori Kelekatan (spiritual attachment), Tuhan sering dipandang sebagai secure base (dasar yang aman).
- Separation anxiety (Kecemasan Perpisahan): ketika penulis tidak bisa “pulang” ke rumah Tuhan, ia mengalami kecemasan perpisahan yang hebat. Gejalanya mirip dengan anak yang kehilangan orang tuanya. Ia akan meneteskan air mata siang malam dan jiwa yang lesu (ay. 4).
- Protes dan putus asa: reaksi penulis yang bertanya “mengapa Engkau melupakan aku?”, adalah bentuk “protes” dalam teori kelekatan sebelum akhirnya ia mencoba menenangkan dirinya sendiri (self-talk). Kita belajar bahwa dasar yang aman adalah bersandar pada Tuhan.
Saudara saudari yang terkasih, Mazmur 42 (dan Maz. 43 yang aslinya adalah satu kesatuan puisi) memiliki struktur unik berupa refrein atau pengulangan yang muncul di ayat 6 dan 12: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Hal ini menunjukkan sebuah teknik self-talk spiritual, suatupercakapan jujur antara “akal sehat yang beriman” dengan “jiwa yang sedang kacau”. Self-talk biasa (positif) sering kali berfokus pada motivasi diri seperti “saya bisa,” maka self-talk spiritual berfokus pada mengarahkan pandangan dari diri sendiri ke arah yang lebih besar (Tuhan).
Penulis sedang beradu argumen dengan emosinya sendiri, mengakui bahwa dia sedang depresi (jiwa yang tertekan), namun secara sadar memaksa dirinya untuk tetap berharap pada Tuhan. Seorang teolog terkenal, Martyn Lloyd-Jones, pernah menjelaskan konsep ini saat membahas Mazmur 42. Menurutnya, depresi spiritual sering terjadi karena kita terlalu banyak mendengarkan diri sendiri.
- Mendengarkan diri sendiri: Membiarkan pikiran-pikiran negatif, ketakutan, dan perasaan sedih menguasai kita tanpa henti.
- Berbicara pada diri sendiri (Self-talk Spiritual): Kita mengambil kendali. Kita “menceramahi” jiwa kita sendiri dengan kebenaran yang kita yakini, seperti yang dilakukan penulis Mazmur: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?”
Dua hal di atas, mengingatkan kita kembali bahwa ada yang akan memulihkan.
Abraham Maslow (1908–1970) dalam bukunya Motivation and Personality, Inti pemikirannya adalah kebutuhan spiritual & transendensi di atas aktualisasi diri. Dalam Mazmur 42, setelah kebutuhan dasar terpenuhi, manusia tetap merasa kosong. Kekosongan batin muncul karena kebutuhan makna dan iman tidak terpenuhi. Kerinduan akan Tuhan adalah kebutuhan eksistensial, bukan kelemahan.
Saudara saudari terkasih …Berdasarkan perjalanan iman yang ditulis oleh bani Korah dalam Mazmur 42, kita dapat memetik tiga poin utama sebagai kesimpulan:
1. Kejujuran dalam Pergumulan Batin
Iman tidak berarti meniadakan rasa sakit atau depresi. Penulis Mazmur dengan jujur mengakui bahwa jiwanya tertekan, air matanya menjadi makanan siang dan malam, serta merasa “dibuang” dari hadirat Tuhan. Seperti tokoh Bro Dom dalam ilustrasi tadi, pelayanan aktif di gereja tidak menjamin seseorang bebas dari kekosongan batin atau perasaan hidup yang berjalan di tempat.
2. Mengubah “mendengarkan diri” menjadi “berbicara pada diri”
Salah satu kunci pemulihan spiritual adalah teknik self-talk spiritual. Depresi sering kali diperparah karena kita terlalu banyak mendengarkan pikiran negatif dan ketakutan kita sendiri. Sebaliknya, kita harus mengambil kendali untuk “menceramahi” jiwa kita dengan kebenaran iman: “Berharaplah kepada Allah!”. Ini adalah bentuk keberanian untuk mengarahkan pandangan dari masalah pribadi ke arah Tuhan yang lebih besar.
3. Kerinduan akan Tuhan sebagai kebutuhan eksistensial
Kekosongan yang kita rasakan bukanlah sekadar kelemahan psikologis, melainkan bukti adanya kebutuhan spiritual dan transendensi yang tidak bisa dipuaskan oleh hal duniawi. Sama seperti rusa yang terancam kematian jika tidak menemukan air, jiwa kita akan mengalami “dehidrasi” tanpa kehadiran Tuhan sebagai dasar yang aman (secure base). Penderitaan dan rasa haus ini justru menjadi alat untuk mencari makna yang lebih dalam tentang Tuhan secara personal.
Saudara – saudari yang terkasih … Mazmur 42 mengajarkan kita bahwa Tuhan tidak alergi terhadap keluhan kita, Tuhan dekat dengan hati yang remuk, dan harapan tetap ada, bahkan saat jiwa terasa kering. Kalau hari ini hati terasa lelah, berhentilah sejenak. Tarik napas. Datanglah kepada Tuhan, dan katakan dengan jujur: Tuhan, jiwaku rindu kepada-Mu. Intinya: jangan biarkan emosi mendikte kenyataan iman kita. Meskipun dunia mengejek dan jiwa terasa kering, tetaplah beradu argumen dengan diri sendiri untuk menaruh harapan pada Allah, Sang Penolong yang setia. Amin
Pertayaan untuk Pemahaman Alkitab:
- Tentang “topeng” Pelayan Tuhan (Teologis & Psikologis): Bonhoeffer menekankan bahwa kejujuran adalah awal pemulihan. Di lingkungan kantor Sinode (dan lingkup pelayanan lainnya), sering ada beban tak tertulis bahwa kita harus selalu terlihat “rohani”, “sabar”, dan “sempurna” karena kita adalah role model bagi jemaat-jemaat.
Pertanyaan: Seberapa sulit bagi kita untuk berkata “saya sedang tidak baik-baik saja” kepada rekan kerja atau atasan? Apakah budaya kerja kita sudah mendukung kejujuran seperti pemazmur, atau kita cenderung memakai topeng?
- Tentang Rutinitas vs Spiritualitas (Refleksi Calvin/Luther): Pemazmur rindu masa lalu di mana ibadah terasa hidup (ay. 5). Kadang pekerjaan administrasi gereja (birokrasi, surat-menyurat, rapat anggaran) bisa terasa mematikan semangat.
Pertanyaan: Bagaimana kita memaknai tumpukan berkas atau rapat yang melelahkan sebagai bagian dari perjumpaan dengan Allah? Apakah pekerjaan di meja kantor ini bisa menjadi “doa” (seperti kata Luther: Laborare est Orare – Bekerja adalah Berdoa)?
- Tentang Menghadapi Kritik (Ay. 11): Pemazmur mendengar “tulangku seperti remuk” karena celaan lawan. Sebagai pegawai Sinode, kita sering menerima keluhan atau kritik dari berbagai jemaat/klasis.
Pertanyaan:Bagaimana menjaga hati agar tidak pahit atau sinis ketika menghadapi banyak tuntutan dan masalah gerejawi? Bagaimana “berharap kepada Allah” (ay. 12) membantu kita tetap waras dan sabar melayani? ***











