
ALOR,www.sinodegmit.or.id,– Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyerukan gerakan untuk meninggalkan pola-pola dominasi, keseragaman, dan hierarki di dalam kehidupan bergereja modern. Sebaliknya, gereja diimbau untuk lebih menghargai “suara-suara kecil” demi merawat persatuan di tengah dunia yang makin mudah terpecah belah.
Pesan reflektif ini menjadi roh utama dalam ibadah pembukaan sidang hari kedua Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI yang digelar di Aula GMIT Pola Tribuana Alor, Sabtu (23/5/2026). Mengangkat tema kebudayaan yang kental, persidangan kali ini menggunakan filosofi kain tenun Alor sebagai simbol teologis tentang bagaimana perbedaan seharusnya dirajut, bukan diseragamkan.
Suasana ibadah pembukaan terasa magis ketika sejumlah penenun lokal memperlihatkan langsung proses pembuatan kain tenun Alor di hadapan peserta sidang. Pengalaman simbolik semakin kuat saat para peraga membentangkan kain tenun panjang mengelilingi ruangan, dan seluruh peserta saling membentuk lingkaran besar sembari memegang selendang tenun masing-masing.
Dalam khotbahnya yang bertajuk “Kain Tenun Alor: Merajut Harapan dalam Keberagaman” (berdasarkan Efesus 2:11–22), Pdt. Ira Imelda menegaskan bahwa Kristus hadir untuk meruntuhkan tembok pemisah, bukan menciptakan standarisasi yang kaku.
“Keesaan tubuh Kristus bukan keseragaman, melainkan hidup bersama dalam kasih, saling menerima, dan menenun harapan bagi dunia yang mudah tercerai-berai,” ujar Pdt. Ira Imelda dalam khotbahnya.
Ia menambahkan bahwa seperti benang-benang yang berbeda warna dan ukuran namun saling terkait membentuk kain yang kuat, gereja dipanggil untuk melakukan “kerja sunyi” yang menjaga kehidupan dan merawat relasi tanpa meniadakan perbedaan yang ada.
Usai refleksi kebudayaan tersebut, persidangan masuk ke agenda inti yang berlangsung dinamis dan penuh semangat. Dipimpin oleh Pdt. Alfred Anggui, para peserta sidang membedah berbagai agenda strategis pelayanan.
Fokus utama diskusi hari kedua ini diarahkan pada evaluasi, solusi, dan mitigasi tantangan zaman melalui: Penajaman koordinasi program kerja PGI; Penguatan sinergi antarlembaga gereja di bawah naungan PGI; Evaluasi berkala terhadap pelaksanaan keputusan-keputusan persidangan sebelumnya.
Melalui percakapan yang terbuka dan konstruktif ini, sidang diharapkan mampu merumuskan langkah taktis yang memperkokoh efektivitas pelayanan oikoumenis PGI dalam menghadapi tantangan polarisasi sosial dan cepatnya arus digitalisasi.
Menegaskan bahwa gereja tidak boleh terisolasi dari realitas sosial, pelataran Aula GMIT Pola Tribuana juga disulap menjadi ruang perjumpaan publik melalui pameran UMKM.
Masyarakat dan peserta sidang dapat berinteraksi langsung melalui stan-stan yang menampilkan produk unggulan lokal, mulai dari kain tenun ikat hingga makanan khas Alor. Memasuki sore hari, suasana semakin semarak dengan digelarnya pertunjukan seni tradisional yang melibatkan warga setempat. Melalui seluruh rangkaian sidang hari kedua ini, MPH-PGI kembali mempertegas komitmennya. Semangat sebatang benang yang bertransformasi menjadi kain utuh yang kuat diharapkan terus hidup, membawa gereja-gereja di Indonesia tampil sebagai pelopor kedamaian, pengharapan, dan pemersatu bagi seluruh ciptaan. *











