//Menghadapi Krisis Persatuan dan “Alam Liar” AI: PGI Serukan Kolaborasi Nyata dari Tepian Alor

Menghadapi Krisis Persatuan dan “Alam Liar” AI: PGI Serukan Kolaborasi Nyata dari Tepian Alor

ALOR,www.sinodegmit.or.id,  – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengingatkan seluruh elemen gereja untuk bersiap menghadapi tantangan ganda: krisis persatuan global yang memicu polarisasi, serta ancaman digitalisasi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian tak terkendali.

Pesan kuat ini mengemuka dalam pembukaan Sidang Majelis Pekerja Harian (MPH) PGI yang resmi digelar di Aula GMIT Pola Tribuana Kalabahi, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (22/5/2026). Melalui ketukan palu sebanyak tiga kali oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty, persidangan strategis yang berlangsung selama dua hari (22–23 Mei 2026) ini resmi dimulai.

Memilih Alor sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Lokasi ini menjadi simbol kuat bahwa gerakan oikoumene tidak berpusat di kota besar saja, melainkan berakar kuat hingga ke pulau terluar Indonesia.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada GMIT dan masyarakat Alor yang menyambut dengan kehangatan dan keindahan budayanya,” ungkap Pdt. Manuputty, seraya menegaskan bahwa semua gereja anggota PGI berada dalam posisi setara dan satu.

Nuansa persaudaraan langsung terasa sejak ibadah pembukaan yang sarat akan budaya lokal Alor. Seluruh peserta, termasuk para pendeta GMIT dan pelayan ibadah, menyatu dalam Tari Lego-Lego yang melambangkan kebersamaan berdasarkan Mazmur 23 (“Tuhan Gembala yang Baik”).

Dalam khotbahnya yang merujuk pada Filipi 2:1-4 dengan tema “Dipersatukan dalam Lingkaran Kasih”, Pdt. Arnold Tindas menyoroti egoisme dan persaingan yang saat ini sedang mengancam keharmonisan keluarga, gereja, hingga bangsa. Ia menegaskan bahwa gereja harus keluar dari zona nyaman dan hadir bagi mereka yang tertindas.

“Gereja dipanggil menjadi pembawa damai di tengah polarisasi bangsa, penjaga persaudaraan dalam keberagaman, pelayan kemanusiaan, dan terang bagi dunia. Kasih Kristus tidak eksklusif, tetapi merangkul semua,” tegas Pdt. Arnold.

Selain isu sosial-kebangsaan, sidang hari pertama ini langsung dihadapkan pada realitas disrupsi teknologi melalui seminar bertajuk “Tantangan Dunia Digital dan AI bagi Gereja”.

Pakar keamanan siber dan konsultan teknologi, Gildas Deograt Lumy, selaku pembicara, memberikan peringatan keras. Ia mengibaratkan ruang digital saat ini sebagai “alam liar siber” yang penuh dengan manipulasi. Ironisnya, AI yang diciptakan untuk membantu manusia kini justru berbalik menguasai dan menciptakan ketergantungan akut.

Gildas mengingatkan agar gereja memiliki kesadaran kritis karena AI tidak akan pernah bisa menggantikan nilai iman dan kemanusiaan. Dari diskusi interaktif ini, muncul sebuah gagasan penting: gereja harus segera membangun ekosistem digital yang aman dan sehat, serta bertindak sebagai pusat edukasi dan penggembalaan digital bagi jemaat agar tidak tersesat di era AI.

Usai seminar, dinamika persidangan berlanjut ke ranah organisasi. Ketua Sidang, Olly Dondokambey, memimpin jalannya rapat pleno dengan agenda-agenda krusial, antara lain: Pengantar Ketua Umum PGI; Laporan MPH-PGI Bagian Umum oleh Sekretaris Umum PGI; Laporan Bidang Keuangan & Informasi Badan Pemeriksa; Pertimbangan Majelis Pertimbangan, serta tanggapan dari seluruh peserta sidang. Hari pertama persidangan ditutup dalam atmosfer kebersamaan yang hangat. Seluruh rangkaian pembahasan ini diharapkan mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis yang berdampak nyata dan transformatif bagi seluruh gereja anggota PGI di seluruh pelosok Indonesia.*