
Momen Natal PAR Jemaat Yeruel Seba Kota, Foto: Dewi Meliana Djami Leba
Pengantar
Pulang kampung sering menjadi pengalaman menyenangkan, terutama bagi mereka yang telah lama merantau. Meski hidup sudah mapan di tempat rantau, kerinduan akan kampung halaman tetap ada. Di perantauan, hidup terasa individualistis, sedangkan di kampung, nuansa kekeluargaan masih kuat. Di malam Natal ini, mari merenungkan: apakah nilai-nilai kepedulian itu masih hidup di tengah dunia yang terus berubah?
Penjelasan Teks
Lukas mengisahkan bahwa Yusuf bersama tunangannya, Maria, pulang kampung karena taat pada perintah Kaisar Agustus. Saat itu, Kekaisaran Romawi ingin menunjukkan diri sebagai adidaya dunia dengan mengadakan sensus besar-besaran. Yusuf dan Maria yang tinggal di Nazaret pun berangkat ke Betlehem. Ini menjadi pengalaman yang membawa sukacita bagi Yusuf, karena ia tidak datang sendirian, tapi bersama Maria. Bagi Maria, ini pengalaman pertama datang ke kampung calon suami; ada perasaan campur aduk memenuhi hatinya. Ia membayangkan sambutan hangat keluarga Yusuf, tapi juga khawatir jika ditolak. Namun karena Yusuf telah memutuskan membawanya, Maria yakin akan diterima dengan tangan terbuka. Bahkan jika melahirkan di Betlehem, ia berharap keluarga Yusuf akan hadir membantu.
Tetapi, pengalaman Maria sangat berbeda dari yang biasa dialami seorang tunangan saat pertama kali ke kampung halaman calon suami. Harapan akan sambutan hangat dan dukungan keluarga besar sirna seperti mimpi di siang bolong. Sulit dimengerti mengapa tidak ada tempat bagi mereka menyambut kelahiran anak pertama. Jika semua penginapan penuh karena pendatang, bukankah seharusnya keluarga Yusuf membuka rumah mereka, apalagi ini kondisi darurat? Mungkin tempat-tempat itu sudah dibooking lebih dulu oleh orang-orang kaya, dan demi menjaga kepercayaan para pelanggan kelas atas, pintu ditutup bagi pasangan sederhana ini. Maka, tidak mengherankan jika Yusuf dan Maria akhirnya menerima kelahiran Yesus di tempat yang tidak layak, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.
Ketika dunia tidak memberi tempat bagi kaum kecil, ternyata Allah menempatkan kaum kecil pada tempat terhormat. Kabar tentang kelahiran Kristus pertama kali disampaikan kepada kaum gembala yang beraroma padang dan kandang. Bagi Allah, kalau dunia memperlakukan sesama berdasarkan status sosial dan pertimbangan untung rugi, maka hendaknya memandang kepada Allah yang memperlakukan semua manusia sama dan setara. Ada tempat di hati Allah bagi semua orang, termasuk yang miskin dan terpinggirkan dalam masyarakat.
Penutup Dari penjelasan teks, ada tiga pelajaran penting dalam mempersiapkan diri menyambut kelahiran Yesus. Pertama, perayaan Natal identik dengan berbagai persiapan, baik di rumah maupun di gereja. Namun, apakah semua itu sungguh menyambut kehadiran Yesus, atau sekadar menyambut orang-orang besar/terhormat? Waspadalah! Persiapan Natal seharusnya memberi ruang bagi semua kalangan agar makna kelahiran Kristus benar-benar dialami bersama. Kedua, siapkan tempat bagi Yesus, karena ada tempat bagi kita di hati Yesus. Sadarilah bahwa Yesus dapat hadir melalui kaum kecil/sederhana. Ketika dunia mengagungkan kemewahan, Allah bekerja justru melalui kerendahan seorang bayi yang ada di palungan. Begitu juga Malaikat yang datang kepada para gembala yang dianggap kelas bawah. Ketiga, seberapa kuat upaya dunia untuk menolak Allah dalam melaksanakan karya keselamatan, tidak akan menggagalkan rencana Allah. Allah tetap masuk ke dunia, memilih palungan sebagai tempat inkarnasi. Di sinilah manusia gagal mengenal kehadiran Allah, karena kehadiiran-Nya berbeda dengan pemahaman umum yang dikenal dalam dunia. (fb)











