//Gema Damai dari Timur: Prosesi Paskah GMIT 2026 Perkuat Toleransi dan Solidaritas Lintas Agama

Gema Damai dari Timur: Prosesi Paskah GMIT 2026 Perkuat Toleransi dan Solidaritas Lintas Agama

KUPANG,www.sinodegmit.or.id,– Kemeriahan Prosesi Paskah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Tahun 2026 di Kota Kupang resmi berakhir pada Senin sore (06/04/2026). Acara penutupan yang berlangsung khidmat ini menjadi momentum penting dalam menyuarakan pesan perdamaian, pelestarian lingkungan, hingga penguatan inklusi sosial dari Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk Indonesia.

Dalam suara gembalanya, Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, menegaskan eksistensi GMIT sebagai institusi yang mengemban misi perdamaian.

“Gereja Masehi Injili di Timur hadir di tengah-tengah dunia untuk menyampaikan pesan perdamaian yang sesungguhnya dititipkan oleh Yesus Kristus sang Kepala Gereja,” ujar Pdt. Saneb.

Selain pesan perdamaian, Pdt. Saneb juga mengajak jemaat untuk merefleksikan makna ekologis dengan menjaga laut sebagai sumber kehidupan. Ia merujuk pada Pantai Galilea sebagai tempat awal pelayanan Yesus untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian pesisir dan laut. Di tengah tantangan ekonomi global yang tidak menentu, semangat kebangkitan Kristus diharapkan tetap menjadi simbol sukacita bagi seluruh masyarakat NTT.

Sementara itu Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dalam sambutannya memberikan apresiasi mendalam atas terselenggaranya prosesi ini. Ia mengibaratkan keberagaman di Kota Kupang seperti sebuah lagu indah yang tercipta dari perpaduan nada-nada yang berbeda.

“Prosesi Paskah bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan perjalanan iman dan batin yang mengajak setiap orang merenungkan makna pengorbanan serta harapan di tengah berbagai tantangan kehidupan,” tegas dr. Christian.

Wali Kota juga menekankan bahwa setiap individu memiliki “salib” atau pergumulan masing-masing, baik dalam pelayanan maupun tugas pemerintahan. Ia berharap ke depannya Pawai Paskah ini dapat berkembang menjadi agenda nasional yang mampu menarik wisatawan mancanegara maupun domestik, sejalan dengan dukungan dari Gibran Rakabuming Raka.

Senada dengan pesan persatuan, Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Deksi Letuna, yang hadir langsung mengikuti pawai bersama pemuda Klasis Amanatun Utara, memaknai Paskah sebagai kemenangan atas maut dan simbol kehidupan baru.

“Semarak pawai yang melibatkan berbagai klasis menjadi bukti bahwa Paskah adalah momentum untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama,” ungkap Deksi. Ia menyatakan kegembiraannya melihat keterlibatan aktif pemuda Kristen sebagai wujud nyata iman yang hidup di tengah masyarakat NTT.

Pawai tahun ini tidak hanya menjadi ajang perayaan iman, tetapi juga menjadi panggung penting bagi penyampaian berbagai isu sosial dan teologis yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

Jemaat GMIT Ebenhaezer Oeba berhasil mencuri perhatian publik melalui kreativitas penampilan bertema “Adam dan Hawa di Taman Eden” yang merepresentasikan kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa. Di sisi lain, dimensi perlindungan kemanusiaan diketengahkan oleh Keluarga Besar Sinode GMIT dan Pengurus Perempuan Sinode GMIT mengampanyekan penghentian segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kepedulian terhadap kelompok rentan juga ditunjukkan oleh kelompok disabilitas Sinode GMIT bersama Sentra Efata yang menyuarakan urgensi ketersediaan ruang inklusi, aksesibilitas yang memadai, serta kesetaraan hak dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat dan pelayanan gereja. Sementara itu, dalam aspek literasi budaya, Unit Bahasa dan Budaya GMIT mengajak seluruh warga Kristen untuk kembali mendalami Alkitab menggunakan bahasa daerah sebagai representasi bahasa hati.

Adapun peserta lainnya turut memvisualisasikan narasi Alkitab secara luas, mulai dari kisah penciptaan dalam kitab Kejadian, seperti fragmen Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3) oleh peserta dari Gereja Ebenhaezer Oeba, hingga penggambaran peran penting kenaikan Yesus Kristus ke Sorga.

Di garis finish, Klasis Kota Kupang menutup rangkaian acara dengan sambutan yang meriah dan penuh semangat bagi seluruh peserta. Panitia juga memberikan imbauan praktis kepada peserta untuk tetap menjaga kebersihan kota guna memastikan Kota Kupang tetap sejuk dan harmonis pasca-perayaan.***