
KUPANG,www.sinodegmit.or.id, – Jemaat GMIT Agape Kupang, Klasis Kota Kupang merayakan Bulan Budaya etnis Alor-Pantar pada Minggu (10/5/2026). Perayaan ini menjadi momentum penting bagi jemaat untuk mempertegas identitas budaya sekaligus memperdalam nilai-nilai iman Kristen di tengah arus modernisasi.
Ibadah dibuka dengan prosesi budaya yang khidmat, di mana tarian tradisional Alor menjadi pengantar pelayan firman menuju mimbar. Para penari tampil dengan busana adat dominasi warna merah, hitam, dan putih, lengkap dengan tenunan tradisional dan atribut khas seperti parang bagi pria serta hiasan manik-manik bagi wanita. Integrasi budaya ini menjadi simbol bahwa keberagaman etnis merupakan bagian tak terpisahkan dari persekutuan ibadah di Jemaat Agape.
Ibadah ini dihadiri oleh Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, M.Si.; Wakil Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Zimrat M. S. Karmany, M.Th.; dan Bendahara Sinode GMIT, Pnt. Yefta Sanam. Turut hadir pula Ketua Majelis Klasis (KMK) Kota Kupang, Pdt. Delfiana K. Poyck-Snae, KMK Kota Kupang Timur, Pdt. Mercy Paula Kapioru-Pattikawa, KMK Kota Kupang Barat, Pdt. Lelyn I.N. Ndun, Panitia Sidang Sinode Istimewa III GMIT, Ketua Majelis Jemaat Agape, serta seluruh anggota majelis dan jemaat setempat
Dalam khotbahnya, Pdt. Mercy Paula Kapioru-Pattikawa mengupas makna Mazmur 1:1-6. Ia menekankan bahwa iman harus berakar kuat agar tidak mudah goyah oleh pengaruh negatif, termasuk perilaku “pencemooh” di media sosial.
“Perlu memiliki hati yang takut akan Allah, agar tidak memakai agama sebagai kendaraan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan politik. Karena itu pentingnya menjaga integritas diri agar tidak mudah goyah oleh ambisi instan seperti popularitas atau kekuasaan yang menyesatkan,” tegas Pdt. Mercy dalam khotbahnya.
Ia juga mengaitkan nilai iman dengan filosofi lokal Alor-Pantar, Tara Miti Tomniku. Menurutnya, tradisi dan adat istiadat memerlukan akar iman yang kuat agar tidak sekadar menjadi ajang gengsi, melainkan menjadi alat untuk menjaga persaudaraan sebagai buah dari kasih Kristus.
Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, dalam suara gembalanya turut mengapresiasi Jemaat Agape yang mampu menghidupkan kekayaan budaya lokal dalam ruang gerejawi. Ia mengingatkan bahwa nilai budaya seperti gotong royong dan kesabaran—seperti proses menenun—adalah landasan spiritual yang nyata.
“Keselamatan dalam Kristus dapat dialami melalui bingkai tradisi masing-masing tanpa harus menjadi orang asing bagi budayanya sendiri. Jemaat diajak untuk benar-benar menghidupi nilai budaya dalam keseharian, bukan sekadar menjadikannya konten foto atau seremonial yang rapuh di tengah arus modernisasi,” ujar Pdt. Lay Abdi.
Selain perayaan budaya, momen ini juga menandai selesainya tugas Panitia Sidang Sinode Istimewa III. Mewakili Majelis Sinode GMIT, Pdt. Lay secara resmi membubarkan panitia dan menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja maksimal sehingga persidangan berjalan lancar hingga menghasilkan sejumlah keputusan penting, khususnya 57 Pokok Ajaran Gereja yang akan menjadi fondasi pengajaran di GMIT.
Selain itu, ia menyampaikan terima kasih kepada jemaat-jemaat yang telah menjadi tuan dan nyonya rumah serta menyediakan tempat pelaksanaan sidang komisi dengan pelayanan yang sangat baik bagi para peserta. Ia berharap keberhasilan penyelenggaraan ini dapat menjadi pelajaran berharga agar persidangan-persidangan berikutnya dapat berjalan lebih baik lagi.
Ibadah yang juga dimeriahkan oleh persembahan pujian dari Trio Yedutun Voice. *











