//SD GMIT Bokong Pastikan Gedung Kelas Aman, yang Viral Merupakan Gedung Tua Tak Terpakai

SD GMIT Bokong Pastikan Gedung Kelas Aman, yang Viral Merupakan Gedung Tua Tak Terpakai

KUPANG, www.sinodegmit.or.id,– Majelis Sinode GMIT melalui Badan Pendidikan dan pihak sekolah memberikan klarifikasi resmi terkait pemberitaan viral di media sosial yang menyebutkan SD GMIT Bokong, Desa Bokong, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, rusak berat dan terabaikan. Faktanya, gedung yang ramai diberitakan tersebut merupakan bangunan perpustakaan lama yang telah rusak sejak tahun 2016 dan sudah lama tidak digunakan untuk aktivitas Belajar Mengajar (KBM).

Kepala Sekolah SD GMIT Bokong, Thobias Fanggi, S.Pd. SD., M.Pd., saat menerima kunjungan Badan Pendidikan Sinode GMIT, Senin (16/3) menjelaskan bahwa dari sembilan ruangan yang ada, hanya satu ruangan perpustakaan lama yang rusak berat karena faktor usia dan konstruksi, sementara delapan ruangan lainnya masih berfungsi dengan sangat baik. Saat ini, sekolah yang memiliki 87 siswa dan 7 tenaga pengajar tersebut tetap menjalankan proses pendidikan secara optimal menggunakan enam ruang kelas yang tersedia.

“Saya memohon maaf atas informasi yang beredar. Saat wartawan datang meliput, saya sedang tidak berada di tempat. Namun perlu ditegaskan bahwa gedung yang rusak itu sudah tidak terpakai sejak 2016. Kami masih memiliki gedung-gedung lain yang sangat memadai untuk pemanfaatan KBM,” ujar Thobias dalam keterangannya.

Foto: Gedung Lama yang sudah tidak terpakai

Senada dengan hal tersebut, Ketua Badan Pendidikan Sinode GMIT, Pdt. Norman Nenohai, menegaskan bahwa SD GMIT Bokong secara umum masuk dalam kategori sekolah yang kondisinya masih baik. Ia menjelaskan bahwa gedung yang viral tersebut tidak bisa sembarangan dirobohkan karena merupakan aset negara yang terikat prosedur penghapusan aset.

“Media mempublikasikan gedung yang sudah tidak lagi digunakan. Jadi ini bukan kelalaian dari Yayasan (Yapenkris Meusine), sekolah, ataupun gereja terdekat. Meskipun demikian, Majelis Sinode GMIT telah menyiapkan skema bantuan sarana dan prasarana untuk menunjang kualitas pembelajaran di sekolah tersebut ke depannya,” tegas Pdt. Norman.

Sementara itu, Ketua Majelis Klasis Kupang Tengah, Pdt. Alfred Samuel Waang Sir, S.Th., berharap agar intervensi dana dari Majelis Sinode maupun Dana BOS dari pemerintah dapat dikelola dengan sebaik-baiknya. Ia juga mengajak para orang tua siswa untuk tetap memberikan dukungan melalui biaya komite demi keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu bagi anak-anak di wilayah Bokong.

Turut hadir dalam visitasi tersebut Bendahara Yayasan Pendidikan Kristen Meusine, Adelgina Tanesib-Liu.*