//Tekan Angka HIV/AIDS, Lebih dari 200 Remaja Ikuti Jambore Kader Remaja TTS di Amanuban Selatan

Tekan Angka HIV/AIDS, Lebih dari 200 Remaja Ikuti Jambore Kader Remaja TTS di Amanuban Selatan

AMANUBAN SELATAN, TTS,www.sinodegmit.or.id, — Sebagai langkah nyata menghadapi tingginya angka penularan HIV/AIDS serta minimnya pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, Sinode Gereja Masehi Injil Timor (GMIT) berkolaborasi dengan sejumlah pihak menggelar Jambore Kader Remaja Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kegiatan yang mengusung tema “Remaja Sehat, Berdaya, dan Menjadi Agen Perubahan” ini berlangsung selama tiga hari, 27–29 Mei 2026, berpusat di Gereja GMIT Elim Panite, Klasis Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Jambore ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta remaja yang berasal dari Kecamatan Amanuban Selatan dan Kecamatan Amanatun Selatan. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama antara IPAS Indonesia, Yayasan CIS Timor, Pemerintah Kabupaten TTS, dan Sinode GMIT.

Direktur Yayasan CIS Timor, Haris A. Ch. Oematan, mengungkapkan urgensi pelaksanaan kegiatan ini mengingat data penularan kasus yang sudah sangat mengkhawatirkan di wilayah tersebut.

“Lebih dari 3 ribu remaja terinfeksi HIV/AIDS, maka perlu ada edukasi soal hak kesehatan seksual remaja. Dalam kegiatan ini, para remaja saling mengenal, diharapkan isu ini didiskusikan secara serius dan menjadi mitigasi bersama. Disampaikan dalam khotbah-khotbah, ibadah remaja dan pemuda, di situ kita bisa mengedukasi juga tentang teologi tubuh, agar mereka menghargai tubuh pemberian Tuhan,” ujar Haris.

Haris berharap, melalui kegiatan ini, para peserta dapat pulang dan menjadi agen edukasi mengenai kesehatan remaja di lingkungan mereka masing-masing.

Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, dalam suara gembalanya menegaskan bahwa institusi gereja berkomitmen penuh dalam penanganan isu ini. GMIT telah menyiapkan infrastruktur edukasi berupa bahan katekisasi, modul kurikulum, hingga Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan HIV/AIDS dan SADHA (Saudara dengan HIV/AIDS).

Langkah ini diambil untuk membekali seluruh lingkup pelayanan GMIT dengan informasi dan pemahaman yang benar mengenai pencegahan serta penularan HIV/AIDS. Melalui bahan edukasi tersebut, masyarakat diharapkan memiliki kesadaran untuk melindungi diri, melakukan tes HIV, patuh pada pengobatan Antiretroviral (ARV), serta menghapus stigma dan diskriminasi terhadap SADHA.

Pdt. Semuel menekankan, remaja memiliki potensi besar, baik untuk menjadi korban maupun menjadi pemulih bagi sesamanya melalui ruang bercerita. Melalui program Gereja Ramah Anak (GRA), remaja dilatih menjaga diri demi masa depan yang baik. Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya mengubah pola asuh dan komunikasi di dalam keluarga serta gereja yang selama ini menganggap tabu pembahasan mengenai seksualitas.

“Pola pembinaan dalam keluarga harus diperhatikan. Seks yang tabu untuk dibicarakan, ini harus diubah. Hal tabu ini terbawa sampai di gereja. Pendeta tidak akan bicarakan kesehatan reproduksi di mimbar karena dianggap soal privat. Dengan peningkatan kasus HIV/AIDS sekarang, hal ini tidak bisa lagi dihindari, harus dibicarakan berkaitan dengan edukasi soal kesehatan reproduksi, supaya mereka tidak hanya tahu dari Google dan AI. Jadi gereja juga harus mempersiapkan remaja-remaja untuk menjadi agen edukasi tentang hal ini,” tegas Pdt. Semuel.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta menerima ragam materi penunjang. Di antaranya adalah sosialisasi safeguarding dari CIS Timor, materi kekerasan berbasis gender dan seksual, serta sosialisasi manfaat tablet tambah darah dan vaksin tetanus toksoid yang disertai dengan pemeriksaan kesehatan bagi seluruh peserta.

Selain materi klinis dan regulasi, kegiatan juga diisi dengan acara wicara (talkshow) interaktif yang menghadirkan narasumber dari Perwakilan Remaja Desa Linamnutu, Duta GenRe Kabupaten TTS, Remaja Berprestasi dari Dispora, serta aktivis kesehatan reproduksi dari Tenggara Youth Community. Ada pula pentas seni yang mengusung tema “Pengembangan Potensi Diri Remaja”.

Ghyzela Jezania Ndukambani, salah satu narasumber dalam talkshow tersebut, menguraikan tantangan nyata yang dihadapi oleh generasi muda di TTS saat ini.

“Tantangan utama remaja di Kabupaten TTS saat ini adalah pergaulan tidak sehat. Pengaruh negatif dari lingkungan pertemanan sering kali memicu pengambilan keputusan yang merusak diri sendiri. Dampak fatalnya dapat berujung pada ketidaksetaraan gender hingga kekerasan seksual. Oleh karena itu, para remaja harus lebih selektif dalam memilih lingkungan pergaulan yang positif,” kata Ghyzela.

Manfaat dari kegiatan ini dirasakan langsung oleh para peserta. Erfan Tamonol (15), peserta asal Gereja GMIT Nenu, mengaku bersyukur bisa terlibat dalam jambore ini karena mendapatkan ruang edukasi yang jarang ia temukan di ranah domestik maupun spiritual.

“Saya sudah berulang-ulang mendapat sosialisasi tentang kesehatan reproduksi remaja, kekerasan berbasis gender dan seksual di sekolah, namun di gereja atau di rumah jarang dibicarakan. Saya bersyukur dengan hadir dalam kegiatan ini, menambah pengetahuan saya, dan pasti membawa dampak positif atas diri dan lingkungan saya,” ungkap Erfan.

Dalam kegiatan ini, panitia juga menyerahkan sertifikat secara simbolis kepada para narasumber wicara serta mengumumkan para pemenang lomba konten media sosial mengenai kesehatan reproduksi remaja.

Jambore ini resmi diakhiri dengan penyusunan komitmen bersama oleh para kader remaja untuk mewujudkan pergaulan yang sehat. Komitmen tersebut meliputi langkah-langkah konkret, seperti:

  • Membangun komunitas dan berjejaring untuk relasi sosialisasi kesehatan reproduksi.
  • Menyediakan ruang aman dan menjadi pendengar yang baik bagi sesama remaja.
  • Memberikan pasokan informasi yang sehat dan positif.
  • Belajar menjadi pendamping bagi korban kekerasan.
  • Membiasakan diskusi mengenai hal-hal mendasar seperti penggunaan istilah gender yang tepat dan pemahaman relasi yang sehat. *