//Pdt. Bendalina Souk Jalani Masa Emeritasi Setelah 35 Tahun Melayani di GMIT

Pdt. Bendalina Souk Jalani Masa Emeritasi Setelah 35 Tahun Melayani di GMIT

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, – Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memberhentikan dengan hormat Pdt. Bendalina Souk, S.Th, MM, dari seluruh tugas dan tanggung jawab pelayanan karena telah memasuki usia pensiun. Ibadah emeritasi yang berlangsung di Jemaat Bethesda Tarus Tengah, Klasis Kupang Tengah, pada Minggu (8/2/2026).

Pdt. Bendalina Souk, yang lahir pada 20 Januari 1966, mengakhiri masa baktinya setelah mendedikasikan diri selama 35 tahun 6 bulan. Mengawali pelayanan di Jemaat Paulus Klasis Mollo Utara, perjalanan panjang karirnya mencakup berbagai posisi strategis, di antaranya: Sekretaris UPP Personil Majelis Sinode GMIT, Wakil Sekretaris Majelis Sinode GMIT dan Sekretaris Majelis Sinode GMIT. Ia juga melayani lintas lembaga, antara lain: STT Jakarta, Wahana Visi Indonesia (WVI), dan Sekolah Multikultural Cermin Kalabahi Alor. Pdt. Bendalina juga pernah melayani di GPI Kelapa Gading Jakarta Utara, Jemaat Ebenhaezer Matani, Jemaat Emaus Liliba, hingga berakhir di Jemaat Bethesda Tarus Tengah.

Dalam sambutannya, Pdt. Bendalina mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memperkenankannya melayani.

“Terpujilah nama Tuhan, sang Pengutus agung. Berlimpah-limpah terima kasih kepada Majelis Sinode Harian GMIT, Majelis Klasis Kupang Tengah, Majelis Jemaat dan sahabat-sahabat pelayanan. Kami belajar dan melayani bersama, terima kasih untuk kasih, pengertian dan kesempatan melayani bersama. Tuhan menolong kita untuk terus tegar mekar di medan pelayanan Tuhan,” kata Pdt. Bendalina.

Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie dalam khotbahnya berdasarkan 2 Korintus 12:1-10 dengan tema “Dalam Kelemahan, Kasih Karunia-Nya Cukup,” mengajak jemaat untuk memahami kasih karunia Tuhan.

“Emeritasi bukan saat di mana kita redup, tetapi terus bercahaya. Bukan melalaui jabatan, tetapi kebijaksanaan. Bukan melalui kecepatan kerja, tetapi melalui beningnya hati, bukan melalui banyaknya aktifitas, tetapi dalam relasi dengan kasih karunia Kristus, itu cukup,” kata Pdt. Semuel.

Ia juga mengapresiasi Pdt. Bendalina yang hadir pada saat roda organisasi GMIT membutuhkan penguatan kapasitas, tertib, akuntabel dan menjawab tantangan zaman. Di titik itu, Pdt. Lin (sapaan akrab Pdt. Bendalina) keluar dari zona nyaman teologi, sebab ia salah satu Master Manajemen, figur tokoh perempuan pertama, yang menekuni tata kelola, lalu mengembangkannya dalam konteks GMIT. Ia menunjukan kerendahan hati, dan memperlihatkan bahwa teologi harus keluar dari kenyamanan untuk memberkati banyak orang.

Untuk melanjutkan pelayanan di Jemaat Bethesda Tarus Tengah, Majelis Sinode GMIT menempatkan Pdt. Karel E. De Fretes, S.Th dan Pdt. Betsy Kristiana De Fretes-Hotty, S.Th.

Kebaktian emeritasi dipimpin oleh Pdt. Alfred A. Waangsir, Pdt. Semuel B. Pandie dan Pdt. Betsy Kristiana De Fretes-Hotty.

Hadir dalam ibadah tersebut, Majelis Klasis Kupang Tengah, para Pendeta GMIT, para Pendeta Emeritus, pimpinan Yayasan Compassion Indonesia, Kupang-NTT, Pimpinan WVI NTT, Camat Kupang Tengah, Lurah Mata Air, Majelis Jemaat Imanuel Oesao, dan Majelis Jemaat Kasih Karunia Oesao. ***