
Abstrak
Artikel ini mengkaji Kisah Para Rasul 1:6–11 dengan pendekatan teologi Post-Simulacra, yaitu suatu pembacaan teologis yang berusaha melampaui dominasi citra, representasi, dan hiperrealitas dalam kebudayaan digital kontemporer. Kenaikan Yesus dibaca bukan sebagai peristiwa hilangnya Kristus dari dunia, melainkan sebagai transformasi cara kehadiran-Nya: dari kehadiran tubuh historis yang kasatmata menuju kehadiran pneumatologis yang mengutus gereja menjadi saksi. Artikel ini menegaskan bahwa tubuh Kristus yang terangkat tidak boleh direduksi menjadi simbol, avatar, metafora, atau konten religius, melainkan dipahami sebagai tubuh kebangkitan yang dimuliakan. Dengan mengaitkan pemikiran Rudolf Otto tentang agama sebagai pengalaman akan Yang Kudus, artikel ini juga menegaskan bahwa iman Kristen tidak boleh kehilangan dimensi mistiknya. Selanjutnya, teks ini dibaca dalam dialog dengan kosmologi Dawan/Atoni Meto di Timor Tengah Selatan, NTT, terutama mengenai relasi langit, tanah, rumah, leluhur, komunitas, dan kehidupan. Pembacaan ini menunjukkan bahwa kenaikan Yesus dapat menjadi dasar teologis bagi gereja untuk tidak hanya menatap langit, tetapi hadir secara aktif dalam pergumulan sosial, ekologis, dan kemanusiaan di NTT dan Indonesia.
Kata kunci: Kisah Para Rasul, kenaikan Yesus, Post-Simulacra, tubuh Kristus, Rudolf Otto, Dawan, Atoni Meto, kosmologi Timor, misi gereja.
Pendahuluan
Kisah Para Rasul 1:6–11 merupakan salah satu teks penting dalam teologi Kristen karena mempertemukan tiga gagasan utama: kenaikan Yesus, janji Roh Kudus, dan mandat kesaksian gereja. Teks ini tidak hanya berbicara tentang peristiwa Kristus “terangkat ke sorga”, tetapi juga tentang perubahan orientasi murid-murid dari penantian politis menuju kesaksian misioner. Para murid bertanya tentang pemulihan kerajaan bagi Israel, tetapi Yesus mengarahkan perhatian mereka kepada kuasa Roh Kudus dan panggilan menjadi saksi sampai ke ujung bumi.
Dalam konteks kontemporer, teks ini dapat dibaca ulang melalui pendekatan teologi Post-Simulacra. Istilah ini dalam artikel ini dipakai sebagai konstruksi konseptual untuk membaca iman Kristen di tengah dunia yang dikuasai oleh citra, layar, representasi digital, dan hiperrealitas. Jean Baudrillard memakai istilah simulacra untuk menjelaskan keadaan ketika representasi tidak lagi menunjuk kepada realitas, tetapi justru menggantikan realitas itu sendiri. Dalam dunia seperti ini, yang terlihat sering dianggap lebih penting daripada yang benar; yang viral dianggap lebih nyata daripada yang setia; yang tampil dianggap lebih bernilai daripada yang membentuk hidup.
Kenaikan Yesus, dalam perspektif ini, menjadi peristiwa teologis yang sangat kritis. Yesus justru “diambil dari pandangan” para murid. Ia tidak membiarkan diri-Nya terus-menerus dijadikan objek tatapan. Ia tidak membangun iman berdasarkan ketergantungan visual. Ia mengutus murid-murid untuk bergerak dari penglihatan menuju kesaksian. Dengan demikian, Kisah Para Rasul 1:6–11 menjadi teks yang sangat relevan untuk gereja masa kini, khususnya ketika pelayanan gereja kerap tergoda menjadi produksi citra religius, manajemen panggung, dan performa digital.
Namun, pembacaan ini tidak boleh jatuh ke dalam rasionalisasi modern yang mengeringkan misteri iman. Kenaikan Yesus tetap merupakan peristiwa mistik, numinous, dan eskatologis. Rudolf Otto dalam The Idea of the Holy menegaskan bahwa agama selalu berkaitan dengan pengalaman terhadap Yang Kudus sebagai mysterium tremendum et fascinans, yaitu misteri yang menggetarkan sekaligus memikat. Karena itu, agama yang kehilangan misteri akan mudah berubah menjadi moralitas kering, administrasi institusional, atau ideologi sosial belaka. Dalam bahasa sederhana, gereja tanpa misteri bisa sibuk, tapi tidak lagi bergetar di hadapan Allah.
Artikel ini juga memperluas pembacaan teks dengan memasukkan perspektif kosmologi Dawan atau Atoni Meto di Timor Tengah Selatan, NTT. Dalam kosmologi Dawan, kehidupan dipahami dalam jaringan relasional antara langit, tanah, rumah, leluhur, komunitas, dan alam. Karena itu, kenaikan Yesus tidak perlu dibaca sebagai pelarian dari bumi, melainkan sebagai peristiwa kosmik yang menegaskan pemerintahan Kristus atas langit dan bumi serta mengutus gereja kembali kepada tanah kehidupan.
Kerangka Teoretis: Teologi Post-Simulacra
Teologi Post-Simulacra dapat dipahami sebagai usaha teologis untuk melampaui dominasi citra dan simulasi tanpa menolak simbol, media, dan teknologi. Pendekatan ini tidak bersifat anti-digital. Gereja tetap dapat memakai media sosial, video, desain visual, kecerdasan buatan, dan teknologi komunikasi. Namun, teologi Post-Simulacra menolak reduksi iman menjadi sekadar tampilan, konten, estetika, dan performa.
Dalam pemikiran Baudrillard, masyarakat modern bergerak dari representasi menuju simulasi. Pada tahap representasi, gambar masih menunjuk kepada realitas. Namun dalam simulasi, gambar tidak lagi menunjuk kepada realitas; gambar menciptakan dunianya sendiri. Inilah yang disebut hiperrealitas: keadaan ketika tiruan terasa lebih nyata daripada kenyataan. Dalam konteks agama, bahaya ini tampak ketika spiritualitas lebih banyak diukur dari citra publik, konten viral, desain ibadah, dan performa kelembagaan daripada pertobatan, kesaksian, keadilan, dan kasih.
Heidi Campbell dalam kajian agama digital menunjukkan bahwa ruang digital bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga ruang pembentukan identitas religius. John Dyer dalam From the Garden to the City mengingatkan bahwa teknologi tidak netral; teknologi membentuk kebiasaan, cara berpikir, dan pola relasi manusia. N. Katherine Hayles juga mengkritik kecenderungan dunia digital yang memisahkan informasi dari tubuh. Dalam konteks ini, kenaikan Yesus menjadi kritik penting: tubuh Kristus tidak berubah menjadi informasi rohani tanpa tubuh. Kristus yang naik adalah Kristus yang bangkit secara tubuhiah, meskipun tubuh itu adalah tubuh yang telah dimuliakan.
Dengan demikian, teologi Post-Simulacra memiliki tiga tekanan utama. Pertama, ia membongkar kecenderungan gereja untuk menjadikan citra sebagai pengganti realitas iman. Kedua, ia menegaskan kembali tubuh, kehadiran, dan kesaksian konkret sebagai inti iman Kristen. Ketiga, ia menjaga dimensi mistik iman agar gereja tidak berubah menjadi lembaga teknokratis yang kehilangan rasa gentar terhadap Yang Kudus.
Eksegesis Kisah Para Rasul 1:6–11
Teks Kisah Para Rasul 1:6 dimulai dengan pertanyaan murid-murid: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Pertanyaan ini memperlihatkan bahwa para murid masih membawa imajinasi politik lama. Mereka membayangkan pemulihan Israel dalam kerangka kerajaan, kuasa, dan kemenangan historis yang tampak. Dalam konteks penjajahan Romawi, pertanyaan ini dapat dimengerti. Mereka merindukan pembebasan. Mereka berharap kebangkitan Yesus segera diikuti oleh restorasi nasional.
Namun, Yesus tidak menjawab dengan skema politik yang mereka harapkan. Ia berkata bahwa masa dan waktu ditetapkan oleh Bapa sendiri. Jawaban ini bukan penolakan terhadap harapan pemulihan, melainkan koreksi terhadap cara memahami pemulihan. Kerajaan Allah tidak boleh dipersempit menjadi proyek nasionalisme religius. Pemulihan Allah bergerak lebih luas: dari Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.
Ayat 8 menjadi pusat teologis teks ini: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku.” Di sini tampak pergeseran dari rasa ingin tahu eskatologis menuju tanggung jawab misioner. Murid-murid tidak diberi peta waktu, tetapi diberi kuasa Roh Kudus. Mereka tidak dipanggil menjadi pengamat akhir zaman, tetapi saksi Kristus. Mereka tidak diminta menguasai rahasia waktu Allah, tetapi menghidupi kesaksian di dalam sejarah.
Ayat 9 mencatat bahwa sesudah mengatakan demikian, Yesus terangkat disaksikan oleh mereka, lalu awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Unsur “disaksikan oleh mereka” penting karena menegaskan bahwa kenaikan Yesus bukan sekadar gagasan batiniah. Ini adalah peristiwa yang dialami para murid. Namun, awan menutup Yesus dari pandangan mereka. Di sini terjadi pemutusan terhadap ketergantungan visual. Kristus tidak lagi tersedia sebagai objek tatapan langsung. Iman para murid harus bergerak dari melihat kepada bersaksi.
Ayat 10 – 11 menghadirkan dua orang berpakaian putih yang berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” Teguran ini sangat teologis. Para murid tidak boleh membekukan iman pada pengalaman visual. Mereka tidak boleh menjadikan kenaikan Yesus sebagai tontonan rohani. Mereka harus kembali ke dunia, menanti Roh Kudus, lalu menjalankan misi. Dengan demikian, kenaikan Yesus adalah peristiwa pengutusan, bukan pelarian spiritual.
Tubuh Kristus yang Terangkat: Antara Teologi Kebangkitan dan Kritik Digital
Salah satu aspek penting dalam Kisah Para Rasul 1:6–11 adalah wujud tubuh Kristus yang terangkat. Tradisi Kristen tidak memahami kenaikan Yesus sebagai lenyapnya roh dari tubuh, melainkan sebagai kenaikan Kristus yang bangkit dan dimuliakan. Tubuh Kristus yang terangkat memiliki kesinambungan dengan tubuh historis Yesus, tetapi juga berada dalam kualitas kebangkitan.
N. T. Wright menegaskan bahwa kebangkitan Yesus bukan sekadar pengalaman spiritual para murid, melainkan tindakan Allah yang memulai ciptaan baru. Oliver O’Donovan dalam Resurrection and Moral Order melihat kebangkitan sebagai dasar bagi tatanan moral Kristen karena Allah menegaskan kembali nilai ciptaan. T. F. Torrance dalam Space, Time and Resurrection menekankan bahwa kebangkitan dan kenaikan Yesus harus dipahami dalam relasi dengan ruang dan waktu, bukan sebagai mitos yang terlepas dari realitas ciptaan. Douglas Farrow dalam Ascension and Ecclesia bahkan menunjukkan bahwa kenaikan Yesus berkaitan erat dengan identitas gereja: gereja hidup sebagai tubuh kesaksian karena Kristus yang naik memerintah sebagai Tuhan.
Dalam perspektif Post-Simulacra, hal ini sangat penting. Dunia digital cenderung memisahkan kehadiran dari tubuh. Identitas dapat dibangun melalui avatar. Kehadiran dapat diganti dengan profil. Relasi dapat dimediasi oleh layar. Bahkan pengalaman religius dapat menjadi konsumsi visual. Dalam situasi ini, tubuh Kristus yang terangkat menjadi kritik terhadap spiritualitas digital yang terlalu mudah melepaskan iman dari tubuh, tanah, luka, penderitaan, dan tanggung jawab sosial.
Kristus yang naik ke sorga bukanlah citra digital ilahi. Ia bukan hologram religius. Ia bukan simbol kosong. Ia adalah Yang Bangkit, yang luka-luka-Nya tidak dihapus tetapi dimuliakan. Tubuh yang terangkat itu membawa sejarah penderitaan, salib, kematian, dan kebangkitan. Karena itu, gereja yang percaya kepada Kristus yang terangkat tidak boleh menjadi gereja yang anti-tubuh atau anti-dunia. Gereja justru dipanggil menyentuh tubuh-tubuh yang menderita: orang miskin, korban kekerasan, anak terlantar, buruh migran, keluarga retak, masyarakat adat yang kehilangan tanah, dan ciptaan yang rusak.
Di sinilah kritik digital menjadi sangat relevan. Gereja boleh hadir di ruang digital, tetapi gereja tidak boleh menjadi sekadar “konten rohani”. Gereja boleh membangun citra publik, tetapi citra itu harus lahir dari kesaksian yang benar. Gereja boleh memakai teknologi, tetapi teknologi harus melayani Injil, bukan menggantikan Injil. Kenaikan Yesus menolak iman yang hanya menatap layar. Ia mengutus gereja untuk hadir dalam sejarah.
Dimensi Mistik: Rudolf Otto dan Bahaya Agama Tanpa Misteri
Kenaikan Yesus juga harus dibaca sebagai peristiwa mistik. Dalam The Idea of the Holy, Rudolf Otto menyebut pengalaman keagamaan sebagai perjumpaan dengan Yang Kudus, yang ia sebut numinous. Yang Kudus dialami sebagai mysterium tremendum et fascinans: misteri yang menakutkan, menggetarkan, sekaligus memikat dan menarik manusia mendekat.
Pemikiran Otto penting karena gereja modern sering tergoda menjelaskan seluruh iman dalam bahasa rasional, administratif, sosiologis, atau manajerial. Akibatnya, gereja mungkin tetap aktif, tetapi kehilangan daya sakral. Ibadah dapat berlangsung rapi, program dapat berjalan, administrasi dapat tertata, tetapi umat tidak lagi mengalami getaran kekudusan Allah. Dalam konteks itulah ungkapan “agama tanpa mistik berbahaya” dapat dipahami sebagai peringatan teologis: agama yang kehilangan misteri mudah berubah menjadi ideologi, moralitas kering, atau manajemen sosial.
Namun, mistik Kristen bukan pelarian dari dunia. Dalam Kisah Para Rasul 1:6–11, pengalaman mistik melihat Yesus terangkat justru diikuti dengan pengutusan. Murid-murid tidak dibiarkan tinggal dalam ekstase rohani. Mereka ditegur: “Mengapakah kamu berdiri melihat ke langit?” Dengan demikian, mistik Kristen bersifat misioner. Kekaguman kepada Allah harus melahirkan kesaksian. Kontemplasi harus melahirkan tindakan. Liturgi harus melahirkan diakonia. Doa harus menjadi keberanian untuk memasuki luka dunia.
Pendalaman Kosmologi Dawan/Atoni Meto
Untuk memperkaya pembacaan kontekstual, Kisah Para Rasul 1:6–11 dapat didialogkan dengan kosmologi Dawan atau Atoni Meto. Dalam berbagai kajian antropologis, masyarakat Dawan sering disebut sebagai Atoni Meto atau Atoni Pah Meto, yang secara umum dapat dipahami sebagai “orang dari tanah kering”. Sebutan ini penting karena identitas Dawan tidak dapat dilepaskan dari pengalaman ekologis Timor: tanah kering, musim panjang, perjuangan air, pertanian lahan kering, ternak, rumah, marga, dan relasi sosial yang kuat.
Pemikiran Dawan tidak dibangun di atas pemisahan tajam antara langit dan bumi, manusia dan alam, individu dan komunitas. Dunia dipahami sebagai satu kesatuan relasional. Kehidupan manusia berlangsung dalam hubungan dengan Uis Neno, yang sering dipahami sebagai Tuhan atau Penguasa Langit, dan Uis Pah, yang berkaitan dengan tanah, bumi, dan daya kehidupan bahkan Uis Neon Pala yang dipahami sebagai leluhur. Dalam beberapa tradisi Atoni Meto, relasi antara langit dan tanah tidak bersifat abstrak, tetapi menyangkut kesuburan, hujan, hasil kebun, ternak, rumah, dan keberlangsungan komunitas.
Dalam kosmologi seperti ini, langit bukan ruang kosong. Langit berkaitan dengan kuasa ilahi, hujan, terang, dan berkat. Tanah juga bukan benda mati. Tanah adalah ruang hidup, ruang asal, ruang identitas, dan ruang tanggung jawab. Karena itu, manusia Dawan tidak memahami dirinya sebagai individu terpisah yang menguasai alam secara bebas, melainkan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang harus dijaga.
Pemikiran ini dapat membantu gereja membaca kenaikan Yesus secara lebih kontekstual. Ketika Yesus terangkat dan awan menutup-Nya dari pandangan murid-murid, teks ini dipahami lebih dalam sebagai Yesus meninggalkan bumi. Dalam pembacaan kosmologis, awan dapat dipahami sebagai simbol kehadiran ilahi yang tersembunyi namun memberi hidup. Dalam Alkitab, awan sering menjadi tanda teofani: Allah hadir dalam tiang awan di padang gurun, awan menutupi Sinai, dan awan menaungi peristiwa transfigurasi. Dalam konteks Timor yang kering, awan juga memiliki makna eksistensial: ia membawa harapan akan hujan, kesuburan, dan kehidupan.
Dengan demikian, awan dalam Kisah Para Rasul 1:9 dapat dibaca sebagai titik temu antara teologi biblis dan pengalaman kosmik masyarakat Timor. Awan tidak sekadar menutup pandangan; ia menyimpan janji. Kristus memang tidak lagi tampak, tetapi Ia tidak absen. Ia tersembunyi dalam kemuliaan Allah dan dari sana mengutus Roh Kudus. Seperti awan yang belum menjadi hujan tetapi sudah membawa harapan kehidupan, demikian pula kenaikan Yesus membawa janji Roh Kudus bagi gereja.
Dalam pemikiran Dawan, rumah juga memiliki makna kosmik. Rumah bukan hanya bangunan tempat tinggal, melainkan pusat identitas, relasi genealogis, perlindungan, dan pewarisan nilai. Dalam beberapa kajian mengenai Atoni Meto, struktur rumah tradisional dan ruang sosialnya mencerminkan keteraturan kosmos: ada dalam dan luar, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, asal dan tujuan, pusat dan pinggiran. Rumah menjadi tempat manusia belajar tentang keteraturan hidup.
Jika konsep ini didialogkan dengan Kisah Para Rasul 1:6–11, maka kenaikan Yesus dapat dilihat sebagai perluasan rumah iman. Kristus yang naik kepada Bapa tidak meninggalkan rumah kehidupan, tetapi membuka horizon baru bagi komunitas murid. Gereja menjadi rumah kesaksian, tempat Roh Kudus membentuk komunitas baru yang tidak dibatasi oleh etnis, wilayah, dan kuasa politik. Dari Yerusalem ke Yudea, Samaria, dan ujung bumi, rumah iman diperluas menjadi rumah misi.
Hal lain yang penting dalam pemikiran Dawan adalah bahasa ritual atau tuturan adat, yang sering memakai paralelisme, pasangan kata, simbol alam, dan ingatan leluhur. Tradisi seperti natoni bukan sekadar seni berkata-kata, melainkan cara mengikat komunitas dengan memori, nilai, dan arah hidup. Melalui bahasa ritual, masyarakat menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ini sejalan dengan struktur Kisah Para Rasul 1:6–11: para murid mengingat karya Yesus, menerima janji Roh Kudus, dan diarahkan menuju masa depan misi.
Namun, pembacaan kontekstual ini perlu dilakukan dengan kehati-hatian. Kristus tidak boleh begitu saja disamakan dengan Uis Neno atau konsep kosmik lokal lainnya. Injil tidak boleh dilebur ke dalam adat secara tanpa kritik. Sebaliknya, dialog teologis harus dilakukan secara transformatif. Kosmologi Dawan dapat menjadi jembatan pemahaman, tetapi Kristus tetap menjadi pusat pewahyuan. Ia adalah Tuhan yang naik, dimuliakan, dan akan datang kembali. Dalam terang Kristus, langit, tanah, rumah, adat, dan komunitas dipanggil mengalami pembaruan.
Kenaikan Yesus dan Relevansi Sosial bagi NTT dan Indonesia
Kisah kenaikan Yesus memiliki relevansi sosial yang besar bagi NTT dan Indonesia. Teks ini menolak dua ekstrem. Di satu sisi, ia menolak spiritualitas yang hanya menatap langit dan mengabaikan bumi. Di sisi lain, ia juga menolak aktivisme sosial yang kehilangan akar mistik dan kekudusan. Gereja dipanggil untuk menggabungkan keduanya: berakar dalam misteri Allah dan bergerak dalam misi sosial.
Bagi NTT, pembacaan ini sangat relevan karena konteks sosial masih ditandai oleh kemiskinan, stunting, migrasi tenaga kerja, perdagangan orang, kekerasan terhadap perempuan dan anak, keterbatasan pendidikan, krisis air, dan kerentanan ekologis. Dalam konteks seperti ini, gereja tidak cukup hanya mengulangi doktrin kenaikan Yesus sebagai perayaan liturgis tahunan. Gereja harus menjadikan kenaikan Yesus sebagai dasar pengutusan sosial.
Yesus yang terangkat mengutus gereja untuk mengangkat martabat manusia. Kristus yang dimuliakan memanggil gereja untuk memulihkan mereka yang direndahkan. Tuhan yang naik ke sorga tidak menjauh dari tanah kering Timor, tetapi mengutus gereja untuk merawat tanah, air, keluarga, anak-anak, perempuan, petani, nelayan, dan pekerja migran.
Bagi Indonesia, teks ini juga berbicara kuat. Di tengah polarisasi politik, konflik identitas, hoaks, korupsi, kekerasan sosial, dan ketimpangan ekonomi, gereja dipanggil menjadi saksi Kristus. Kesaksian itu bukan propaganda agama, melainkan kehadiran yang membawa damai, keadilan, dan rekonsiliasi. Gereja tidak boleh terjebak dalam simulacra kekuasaan, yaitu ketika agama dipakai sebagai citra moral tetapi tidak menghasilkan keadilan. Gereja harus menjadi komunitas yang menghadirkan kebenaran, kasih, dan keberpihakan kepada yang rentan.
Dalam dunia digital, panggilan ini menjadi semakin penting. Gereja harus hadir di ruang digital, tetapi bukan sebagai produsen citra kosong. Gereja perlu memakai media digital untuk mengabarkan Injil, mendidik umat, membangun literasi, melawan hoaks, memperkuat keluarga, dan menyuarakan keadilan. Namun, pusat misi tetap bukan layar, melainkan Kristus yang hidup. Ruang digital adalah alat; kesaksian adalah panggilan.
Sintesis Teologis
Dari pembacaan di atas, terdapat beberapa sintesis teologis penting.
Pertama, kenaikan Yesus adalah transformasi kehadiran, bukan kehilangan kehadiran. Kristus tidak lagi dilihat secara langsung oleh murid-murid, tetapi Ia hadir melalui Roh Kudus, firman, sakramen, persekutuan, dan kesaksian gereja.
Kedua, tubuh Kristus yang terangkat menolak spiritualitas yang anti-tubuh. Karena Kristus yang naik adalah Kristus yang bangkit secara tubuhiah, maka gereja harus menghargai tubuh, tanah, ciptaan, dan kehidupan sosial.
Ketiga, kenaikan Yesus mengoreksi budaya simulacra. Iman Kristen tidak boleh direduksi menjadi citra, konten, simbol kosong, atau performa digital. Gereja dipanggil melampaui tampilan menuju kesaksian.
Keempat, pengalaman mistik tidak boleh dipisahkan dari misi. Kenaikan Yesus adalah peristiwa kudus yang menggetarkan, tetapi para murid tidak dibiarkan tinggal menatap langit. Mereka harus menjadi saksi.
Kelima, kosmologi Dawan membantu gereja membaca kenaikan Yesus secara kontekstual. Relasi langit, tanah, rumah, dan komunitas dalam pemikiran Dawan membuka ruang untuk memahami bahwa iman kepada Kristus yang naik ke sorga harus menghasilkan tanggung jawab terhadap bumi, tanah, keluarga, dan kehidupan sosial.
Kesimpulan
Kisah Para Rasul 1:6–11 memperlihatkan bahwa kenaikan Yesus bukan akhir dari karya Kristus, melainkan awal dari gerak kesaksian gereja. Yesus terangkat, tetapi misi terus dikabarkan. Ia tidak lagi menjadi objek tatapan para murid, tetapi menjadi Tuhan yang memerintah dan mengutus. Dalam perspektif teologi Post-Simulacra, peristiwa ini mengkritik kecenderungan dunia modern yang menggantikan realitas dengan citra. Kristus tidak boleh direduksi menjadi simbol digital, konten religius, atau performa visual. Ia adalah Tuhan yang bangkit, bertubuh mulia, dan hadir melalui Roh Kudus.
Pada saat yang sama, kenaikan Yesus harus tetap dibaca sebagai peristiwa mistik. Gereja tidak boleh kehilangan rasa gentar terhadap Yang Kudus. Namun, mistik Kristen bukan pelarian dari dunia. Ia justru mengutus gereja masuk ke dalam pergumulan sejarah. Dalam dialog dengan kosmologi Dawan/Atoni Meto, kenaikan Yesus dapat dipahami sebagai peristiwa yang menghubungkan langit dan tanah, misteri dan misi, rumah iman dan tanggung jawab sosial.
Bagi gereja di NTT dan Indonesia, pesan teks ini jelas: jangan hanya berdiri menatap langit. Jangan hanya memproduksi citra rohani. Jangan hanya merayakan liturgi tanpa pengutusan. Kristus yang naik ke sorga memanggil gereja turun ke bumi: mengabarkan Injil, merawat keluarga, membela yang lemah, menjaga tanah, memulihkan relasi, dan menjadi saksi sampai ke ujung bumi.*











