//Berjalan Menuju Gunung Tuhan: Ziarah Teologi yang Mencerahkan Kehidupan (Refleksi Yesaya 2:1–5 dalam Terang Adven, Canonical Theology, dan Kritik atas Teologi Predator)-Pdt. Sem Pandie

Berjalan Menuju Gunung Tuhan: Ziarah Teologi yang Mencerahkan Kehidupan (Refleksi Yesaya 2:1–5 dalam Terang Adven, Canonical Theology, dan Kritik atas Teologi Predator)-Pdt. Sem Pandie

Yesaya 2:1–5 membuka imajinasi iman kita dengan satu gambaran yang sangat kuat: Gunung Tuhan. Bukan sekadar tempat geografis, bukan pula sekadar simbol religius, melainkan arah sejarah, pusat makna, dan tujuan ziarah umat manusia. Dalam visi ini, nabi Yesaya tidak sedang mengajak umat melihat ke belakang, tetapi mengarahkan pandangan ke depan menuju masa depan Allah, di mana kehidupan tidak lagi digerakkan oleh ketakutan, kekerasan, dan dominasi, melainkan oleh terang, pengajaran Tuhan, dan damai sejahtera. Gunung Tuhan berdiri sebagai pusat orientasi baru bagi dunia yang letih oleh konflik dan keangkuhan manusia.

Dalam terang canonical theology Brevard S. Childs, Gunung Tuhan dalam Yesaya 2 tidak boleh dibaca sebagai simbol supremasi Israel. Childs menegaskan bahwa dalam bentuk final kanoniknya, teks ini justru menundukkan identitas Israel di bawah kehendak Allah. Yang ditinggikan bukan bangsa, bukan institusi, bukan identitas religius, tetapi Torah Tuhan, firman yang mengajar manusia berjalan di jalan-Nya. Gunung Tuhan adalah tempat di mana Allah menyatakan kehendak-Nya bagi seluruh ciptaan, dan Israel hadir bukan sebagai pemilik Allah, melainkan sebagai saksi bagi dunia. Dengan demikian, Gunung Tuhan bukan benteng eksklusif, tetapi ruang terbuka pewahyuan.

Di sinilah konsep gôyîmmenjadi sangat menentukan. Dalam banyak pengalaman historis Israel, gôyîm sering dipahami sebagai ancaman, musuh, bahkan simbol ketidakmurnian. Namun Yesaya melakukan pembalikan teologis yang radikal. Bangsa-bangsa tidak digambarkan datang untuk ditaklukkan, tetapi datang untuk belajar. Mereka tidak dipaksa naik, melainkan berziarah dengan kesadaran: “Mari, kita naik… supaya Ia mengajar kita.” Dalam pembacaan kanonik ala Childs, gôyîm bukan gangguan dalam rencana Allah, tetapi bagian integral dari kesaksian Kitab Sucibahwa Allah Israel sejak awal adalah Allah seluruh dunia. Dengan membuka Gunung Tuhan bagi segala bangsa, Yesaya sedang mengembalikan Israel pada panggilan aslinya: dipilih bukan untuk unggul, melainkan untuk melayani.

Menariknya, Yesaya tidak menggambarkan ziarah ini sebagai perdebatan teologis. Tidak ada adu argumen, tidak ada saling memberi cap sesat, tidak ada perlombaan klaim kebenaran. Yang ada adalah ziarah menuju terang. Ayat 5 menegaskan: “Hai kaum Yakub, mari kita berjalan dalam terang TUHAN.” Di sini teologi tampil bukan sebagai senjata ideologis, tetapi sebagai penuntun perjalanan hidup. Teologi sejati, menurut Yesaya, adalah teologi yang membuat manusia bergerak; berjalan, naik, berubah arah, bukan teologi yang membuat manusia berhenti dalam kesombongan identitasnya sendiri.

Di titik inilah makna Advenmenemukan resonansinya. Adven bukan sekadar penantian liturgis menuju Natal, melainkan sikap eksistensial: menanti Allah yang

sedang datang untuk membaharui dunia. Dalam terang Adven, Gunung Tuhan bukan hanya tujuan akhir, tetapi juga daya tarik ilahiyang menarik manusia keluar dari kegelapan menuju terang. Allah yang datang dalam Adven adalah Allah yang tidak menunggu dunia menjadi suci terlebih dahulu, tetapi justru masuk ke dalam dunia yang luka, rapuh, dan gelap. Adven mengajarkan bahwa terang Allah tidak lahir dari kemegahan, melainkan dari kesediaan Allah hadir di tengah sejarah yang retak.

Ziarah menuju Gunung Tuhan, karena itu, adalah ziarah yang jujur terhadap kondisi manusia. Di zaman modern, manusia sering memahami ziarah hidup sebagai perjalanan kemajuan dari primitif menuju modern, dari mitos menuju sains, dari iman menuju rasionalitas. Yuval Noah Hararimenggambarkan perjalanan manusia sebagai kisah keberhasilan Homo sapiens menaklukkan alam, membangun peradaban, dan menciptakan sistem-sistem besar; ekonomi, politik, teknologi yang mengatur dunia. Namun di balik narasi kemajuan ini, Harari juga menunjukkan paradoks besar: semakin manusia merasa berkuasa, semakin ia terjebak dalam krisis makna, ekologi, dan kemanusiaan.

Dari perspektif iman, narasi Harari perlu dikritisi. Ziarah manusia yang hanya digerakkan oleh logika dominasi atas alam, atas sesama, atas kebenaran, berujung pada kehancuran. Krisis ekologi yang kita alami hari ini bukan sekadar bencana alam, tetapi bencana teologis: manusia menempatkan diri sebagai pusat, menggantikan Allah, dan memperlakukan ciptaan sebagai objek eksploitasi. Lebih parah lagi, bencana sering dimanipulasi oleh konspirasi para elite politik maupun ekonomi yang mengorbankan rakyat dan alam demi stabilitas kekuasaan. Dalam konteks ini, manusia memang terus berjalan, tetapi menjauh dari Gunung Tuhan.

Yesaya 2 menawarkan koreksi radikal. Ziarah sejati bukan perjalanan naik kelas dalam struktur kekuasaan, melainkan perjalanan naik menuju pengajaran Tuhan. Di Gunung Tuhan, senjata dilebur menjadi alat kehidupan. Logika kekerasan digantikan oleh logika pemeliharaan. Ini bukan sekadar simbol damai, tetapi pernyataan teologis bahwa Allah menolak teologi yang membenarkan kehancuran demi kemajuan. Gunung Tuhan adalah kritik terhadap peradaban yang memuliakan kekuatan tanpa hikmat.

Di sinilah bahaya teologi predatormenjadi nyata. Teologi predator adalah teologi yang berpusat pada manusia, terutama manusia yang berkuasa. Ia memakai nama Allah untuk membenarkan dominasi, menormalisasi penderitaan, dan membungkam kritik. Dalam teologi predator, yang lain, yang berbeda, yang lemah, yang kritis diberi cap dosa, dianggap sebagai ancaman, atau musuh iman. Teologi semacam ini tidak mengajak orang naik ke Gunung Tuhan, tetapi membangun menara kekuasaan yang rapuh dan penuh kekerasan.

Jürgen Moltmann dalam The Crucified Godmemberikan fondasi teologis yang sangat kuat untuk membongkar teologi predator. Moltmann menegaskan bahwa Allah Kristen bukan Allah yang berdiri di atas penderitaan manusia, melainkan Allah yang disalibkan bersama manusia. Salib adalah penolakan Allah terhadap semua bentuk teologi penindasan. Allah tidak berada di pihak penindas, bahkan tidak netral.

Allah berpihak pada korban. Maka setiap teologi yang membuat Allah tampak nyaman dengan kekerasan dan ketidakadilan adalah teologi palsu ‘teologi predator.’ Jika dikaitkan dengan Adven, maka Allah yang datang dalam palungan adalah Allah yang sejak awal menolak logika predator. Ia datang bukan sebagai penguasa yang menuntut kepatuhan, tetapi sebagai Anak yang rentan. Jalur Adven semenjak palungan, salib, kebangkitan adalah satu garis lurus Allah yang memilih jalan kerentanan demi menyelamatkan dunia. Teologi predator ingin Natal tanpa salib; Moltmann mengingatkan bahwa Natal sejati selalu sudah mengandung salib.

Salah satu tanda zaman yang paling mengkhawatirkan hari ini adalah kecenderungan manusia yang tidak mau dikritik atau mengambil pola lain suka mengkritik namun tersinggung dan marah ketika di kritik. Kritik dianggap ancaman, perbedaan dianggap pemberontakan, dialog dianggap kelemahan. Dalam terang Yesaya 2, sikap ini adalah jalan mundur dari Gunung Tuhan. Sebab di Gunung Tuhan, bangsa-bangsa datang untuk diajar, bukan untuk menang. Orang yang mau naik Gunung Tuhan adalah orang yang siap dikoreksi oleh firman, bukan orang yang merasa sudah selesai.

Ke depan, dunia membutuhkan teologi masa depanyang tidak predator, tidak defensif, dan tidak narsistik. Secara fenomenologis, teologi masa depan harus lahir dari kesadaran bahwa manusia hidup dalam dunia yang rapuh; ekologis, sosial, dan spiritual. Teologi ini tidak berdiri di atas menara gading, tetapi berdiri teguh di bawah salib. Dari sanalah ia berjalan maju menuju Gunung Tuhan, bukan untuk memperdebatkan Allah, tetapi untuk menjemput anugerah-Nya bagi kehidupan.

Bagi GMIT, refleksi ini adalah panggilan yang sangat konkret. GMIT dipanggil untuk bergerak menuju teologi Gunung Tuhan; teologi yang bercahaya bagi kehidupan NTT dan Indonesia. Teologi yang tidak sibuk menjaga identitas, tetapi sibuk membagikan terang. Teologi yang tidak memberi cap dosa pada yang lain, tetapi mengundang semua orang berjalan bersama menuju keadilan, damai, dan pemulihan ciptaan. Dalam konteks krisis ekologi, kemiskinan, dan ketimpangan, GMIT dipanggil menjadi saksi bahwa Gunung Tuhan masih terbuka, dan terang Tuhan masih menuntun ziarah manusia.

Akhirnya, Yesaya 2:1–5 mengingatkan kita bahwa iman Kristen bukan soal siapa yang paling benar, tetapi ke mana kita sedang berjalan. Jika kita berjalan dalam terang Tuhan, kita sedang naik menuju Gunung-Nya. Jika kita menolak koreksi, membungkam kritik, dan membenarkan penindasan, kita sedang turun menjauh dari Allah yang disalibkan. Di masa Adven ini, panggilan itu sederhana namun radikal: “Mari kita berjalan dalam terang TUHAN.”Dan hanya teologi yang berani berjalan di bawah salib yang akan sanggup berjalan naik ke Gunung Tuhan dan menjadi terang bagi kehidupan.