//Pasak di Tanah Retak – Theny Panie

Pasak di Tanah Retak – Theny Panie

Foto Ilustrasi (Jawa Pos)

Tuhan tidak sedang memantau duka itu dari atas takhta-Nya yang steril; Ia justru sedang "berkemah" (episkēnōsē) di tengah-tengah kelemahan yang paling parah. Siapa yang tahu, di seputar tenda duka keluarga saat ini pun, Tuhan sedang duduk di tenda (kemah) di sana. Membawa kasih karunia-Nya, dan menutupi seluruh reruntuhan “tiang kecil” yang tampak makin kecil karena pasaknya (durinya) kebesaran. 

Kata Pasak ini muncul di depan saya karena istilah duri dalam daging, yang Paulus pakai dalam 2 Korintus 12. Saya membaca itu karena kebetulan menjadi jadwal bacaan untuk hari minggu ini di gereja kami. Duri dalam daging-nya Paulus itu, Skolops tē sarki, secara harfiah berarti “tiang pancang” atau “pasak kayu”. Ini bukan sekadar duri kecil, melainkan sesuatu yang menusuk dan menyakitkan secara konstan. Itu bukan sekadar goresan, tapi penderitaan yang menetap, yang membuat setiap tarikan napas terasa seperti beban.

Lalu kata itu mengingatkan saya pada ungkapan lama, “besar pasak daripada tiang.” Peribahasa itu mungkin seperti sebuah cibiran, tentang ketidakmampuan mengelola hidup – pengeluaran  yang lebih besar dari pendapatan.

Hari-hari ini, di tanah NTT, kita melihat pasak itu terpancang begitu dalam. Kita mendengar kabar tentang seorang anak yang pergi selamanya, hanya karena sebatang pensil dan buku tulis. Padahal dia bahkan sempat menuliskan pesan di secarik kertas, pada foto surat yang beredar di media, terlihat dia menulisnya menggunakan bolpoin. Sangat mungkin, itu berarti soalnya bukan pada sama sekali tak punya,  bukan sekadar “ketiadaan materi” secara absolut, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan tak kasat mata. Bolpoin itu, yang dipakai menuliskan kata perpisahan, dan mungkin kini telah disita polisi sebagai barang bukti, sayangnya tidak bisa menuliskan masa depan bagi si anak karena “pasak” sosial di sekolahnya terlalu besar. Sekali lagi, karena masalahnya bukan pada ketiadaan pensil atau  pena, tapi pada penerimaan.

Cukup lama saya berpikir tentang itu, bahkan tadi sambil duduk di pinggir jalan, setelah makan siang di warung. “Mungkinkah dia dibully teman sekolahnya, karena tak berpunya?” Karena bisa jadi, di sekolah dia bukan hanya belajar membaca, menulis atau berhitung, tapi ia juga belajar tentang “posisinya” di mata teman-temannya. Karenanya meminta buku dan pensil bukan sekadar meminta alat tulis, tapi meminta “syarat untuk diterima”. Ketika keinginan itu belum bisa dipenuhi, yang muncul bukan hanya rasa kekurangan, tapi rasa malu. Saya dan saudara-saudara saya juga tidak dibesarkan dari keadan serba berkecupan, apa adanya, dan karena saya pribadi bisa dan pernah merasakan itu.

Anak-anak dari keluarga paling miskin seringkali memiliki kepekaan yang “terlalu cepat dewasa” yang melihat punggung orang tuanya yang lelah. Ia tahu bahwa satu permintaan kecil (seperti buku tulis) bagi orang lain adalah sepele, tapi bagi orang tuanya adalah beban berat. Di titik ini, duri – pasak itu, sangat mungkin berubah jadi rasa bersalah dalam diri anak itu, karena ia merasa keberadaannya menambah penderitaan bagi orang tua yang dicintainya. Ia memilih pergi bukan karena benci pada kemiskinan, tapi karena merasa dirinya adalah “pasak” yang membuat “tiang” hidup orang tuanya mau roboh.

Semua yang pernah jadi anak-anak pasti sadar benar, rasa malu adalah duri yang paling tajam. Kita merasa tidak layak berada di ruang kelas jika tidak “lengkap” seperti yang lain. Duri itu bukan pada pensilnya, tapi pada tatapan yang ia bayangkan akan ia terima jika ia tidak memilikinya.

Manakala kita diperhadapkan pada tragedi sedalam ini, kata-kata seringkali kehilangan maknanya. Pengetahuan kita yang luas, statistik yang kita baca, atau teori-teori pembangunan yang kita diskusikan, mendadak terasa hambar. Mereka tak sanggup menimbang beratnya air mata seorang ibu yang kehilangan anaknya di dalam kepungan kemiskinan yang sunyi.

Masih dari 2 Korintus 12 itu, kita sering mengutip kalimat, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu,” sebagai sebuah penghiburan yang cepat. Namun, dalam heningnya duka di pelosok itu, kita menyadari bahwa “kasih karunia” bukanlah sebuah penjelasan intelektual untuk menjawab mengapa kemiskinan terjadi. Kasih karunia adalah kehadiran Tuhan yang memilih untuk tidak berdiri di kejauhan. Tuhan tidak sedang memantau duka itu dari atas takhta-Nya yang steril; Ia justru sedang “berkemah” (episkēnōsē) di tengah-tengah kelemahan yang paling parah. Siapa yang tahu, di seputar tenda duka keluarga saat ini pun, Tuhan sedang duduk di tenda (kemah) di sana. Membawa kasih karunia-Nya, dan menutupi seluruh reruntuhan “tiang kecil” yang tampak makin kecil karena pasaknya (durinya) kebesaran. 

Dalam bahasa Yunani, kekuatan Tuhan menjadi sempurna justru dalam astheneia—kondisi tanpa daya, kondisi di mana seseorang tidak lagi memiliki pilihan atau daya tawar. Bagi keluarga yang sedang berduka, hidup bukan lagi tentang angka-angka atau kebijakan besar di ibu kota. Hidup adalah tentang bagaimana bertahan di tengah “duri” yang tak kunjung dicabut. Dan di sanalah Kristus hadir: bukan sebagai hakim yang menilai kelayakan hidup mereka, melainkan sebagai kawan se-penderitaan yang ikut memikul beratnya kayu salib itu.

Barangkali, kasih karunia Tuhan itu mulai terasa cukup justru ketika kita—sesama anggota tubuh Kristus—berhenti mencoba menjelaskan penderitaan orang lain dan mulai ikut merasakannya. Sebab, seberat apa pun teori yang kita pelajari, ia tak akan pernah bisa menyamai beratnya beban seorang anak yang merasa dunia tak lagi cukup luas baginya, hanya karena sebatang pensil yang tak terbeli. Di atas tanah yang retak, duri itu mungkin masih ada. Namun, di tengah duri itu, kita dipanggil untuk tidak menjadi asing satu sama lain. Kita dipanggil untuk menjadi kepanjangan tangan dari kasih karunia yang “cukup” itu—sebuah kehadiran yang tidak menghakimi, yang hanya mau duduk bersama di debu tanah, dan membisikkan bahwa di dalam kelemahan yang paling gelap sekalipun, mereka tidak sendirian.

Belasungkawa yang mendalam untuk keluarga yang berduka.